Sebuah ruang untuk membahas berbagai macam persoalan. Mulai dari seni budaya, olahraga, politik, dan lain sebagainya
Senin, 13 Desember 2010
Cilla, Menapak Jejak Sukses Justin Bieber
Oleh Mohammad Akbar
Masih ingat dengan fenomena Shinta-Jojo? Duet penyanyi lip sync lagu Keong Racun itu pernah memperoleh berkah popularitas karena aksinya yang telah diunggah ke jagat virtual di laman Youtube.
Lalu, Anda pasti juga mengenal Justin Bieber, kan? Hm, remaja ABG asal Kanada itu berhasil pula menjadi penyanyi terkenal di kolong bumi ini, juga gara-gara rekamannya yang diunggah ke Youtube.Entahlah, apakah karena ingin mengikuti jejak Shinta-Jojo dan Justin Bieber yang telah terkenal itu, tapi yang pasti Clara Priscilla ternyata juga melakukan cara serupa. Lagu "My Indonesia" yang diunggahnya ke laman Youtube itu telah membuat jalannya menuju Amerika terbuka lapang. Lagu "My Indonesia" itu dibuat oleh Cilla dengan lirik bahasa Inggris.
Kini, penyanyi asal Surabaya berusia 15 tahun itu telah mendapat kontrak dari Universal Amerika-Interscope. Mark S Berry, produser yang juga menjadi pemimpin dari Attack Media Group, melihat potensi besar pada diri Cilla. Sebagai bukti keseriusannya, Berry langsung terbang ke Jakarta pekan lalu. ''Dia adalah penyanyi bertalenta,'' kata Berry usai menyodorkan kontrak kepada Cilla di Jakarta.
Berry mengakui, pertemuannya dengan Cilla itu berkat video klip My Indonesia yang telah diunggah ke laman Youtube. ''Kami memang terus mencari talenta-talenta baru. Dari sekian materi lagu yang diseleksi, saya tertarik saat dia menyanyikan single 'My Indonesia' di Youtube itu,'' katanya.
Berry juga mengakui, pencarian talenta baru lewat dunia virtual ini tak lepas dari keberhasilan yang pernah diraih Justin Bieber. ''Dia (Justin Bieber) itu sangat fenomenal di Kanada. Jadi memang benar, salah satu cara mencari talenta yang kini kami lakukan adalah lewat medium seperti ini,'' ujarnya.
Dalam laman wikipedia, Berry tercatat sebagai produser musik yang telah mengantungi banyak penghargaan internasional dari industri musik dunia. Ia juga pernah kerja bareng dengan David Bowie, Duran Duran, Billi Idol, YES, hingga Kool & The Gang.
Ia juga pernah tercatat sebagai orang di balik layar atas sukses yang diraih Alisha. Alisha adalah penyanyi pop/dance terkenal di era 1980an dan 1990an di Amerika Serikat. Lagunya seperti All Night Passion dan Baby Talk berhasil terjual lebih dari dua juta kopi.
Lalu bagaimana dengan Cilla? Ah, senyum sumringah siswi kelas 1 SMA di Surabaya ini terus saja mengembang. Ia senang. ''Ini seperti mimpi,'' kata dia. ''Saya sungguh tak pernah memimpikan untuk bisa dikontrak oleh perusahaan rekaman luar negeri. Tapi ini sungguh kenyataan yang membuat saya begitu bahagia.''
Cilla bercerita, lagu "My Indonesia" itu telah diunggahnya ke laman Youtube sekitar September lalu. Lalu tanpa disangka, saat ia baru pulang sekolah di sore hari, ia mendapat kabar dari ibunya. ''Mama beri tahu kalau saya dapat email dari Universal (Amerika). Mereka katanya tertarik sama lagu yang pernah saya masukkan ke Youtube,'' cerita Cilla.
Cilla mengatakan, kabar melalui email itu datang sebulan yang lalu. ''Kemudian setelah berbalas e-mail, mereka ternyata ingin mengontrak saya dan membawa saya ke Amerika,'' kata penggemar berat Taylor Swift ini.
Nah, jika tak ada aral, Cilla akan meninggalkan Indonesia menuju Amerika pada Januari atau paling lambat pada Maret tahun depan. Sementara pihak Universal telah menjadwal akan merilis album perdana Cilla pada Februari 2011.
Dalam album tersebut, Cilla diberi keleluasaan untuk memilih enam dari 100 lagu yang diciptakan oleh penulis lagu dunia. Satu di antaranya adalah ciptaan Vibes Brother yang saat ini tengah terlibat kerjasama penciptaan lagu dengan Shakira.
Sementara dari album barunya nanti, Cilla juga menyumbangkan empat buah lagu. ''Semuanya saya buat dalam lagu berlirik bahasa Inggris. Wah saya sungguh senang bisa mendapat kesempatan seperti ini,'' ujar penyanyi yang juga piawai bermain piano ini.
Kini, hanya tinggal waktu saja yang akan menjawab ikhtiar Cilla. Akankah ia mampu mengharumkan nama bangsa layaknya Anggung C Sasmi? ''Harapan seperti itu memang besar di diri saya. Tapi saya tak mau terlalu besar diri. Saat ini saya hanya ingin bisa berkarya dengan baik,'' katanya.
Selasa, 07 Desember 2010
“3 Hati 2 Dunia 1 Cinta” Terbaik di FFI 2010
Oleh Akbar
Film drama komedi 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta terpilih sebagai film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2010. Film buatan Mizan Production ini sekaligus juga menyabet tropi Citra terbanyak dengan membawa pulang tujuh tropi.
Sementara film produksi Demi Gisela Citra Sinema, "Alangkah Lucunya Negeri Ini", harus pulang dengan gigit jari. Dari 13 nominasi, film yang disebut-sebut bakal menjadi pemenang FFI ini hanya membawa pula tiga tropi. Ketiga penghargaan tersebut diberikan untuk kategori skenario cerita asli, tata musik dan tata suara saja.
Sedangkan film "3 Hati, 2 Dunia 1 Cinta" mengantarkan Benni Setiawan mendapatkan penghargaan sutradara serta penulis skenario adaptasi terbaik. Penghargaan lainnya juga mengantarkan Reza Rahadian dan Laura Basuki meraih penghargaan sebagai pemeran utama pria dan wanita terbaik.
Untuk aktegori pemeran pendukung pria terbaik disabet oleh Rasyid Hakim yang berperan di film "3 Hati 2 Dunia 1 Cinta". Sedangkan pemeran pendukung wanita terbaik diberikan kepada Happy Salma yang bermain sebagai pelacur di film "7 Hati 7 Cinta 7 Wanita".
Lalu film tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong berjudul "Minggu Pagi di Victoria Park" serta film "I Know What You Did on Facebook" masing-masing hanya meraih satu penghargaan saja.
Deddy Mizwar, produser dari Demi Gisela Citra Sinema yang juga menjadi pengarah Komite Festival Film Indonesia (KFFI), merasa sangat puas dengan hasil yang telah diumumkan ini.
''Alhamdulilah, Allah tidak pernah tidur dan malam ini sudah ditunjukkan buktinya,'' kata Deddy menjawab tudingan miring tentang dirinya yang telah mengatur hasil FFI 2010. ''Apapun keputusan FFI harusnya kita tetap memberikan applaus. Belajarlah untuk saling menghargai, bukan saling menghina.''
Sementara itu Putut Widjanarko selaku produser film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta langsung sumringah film yang diproduksinya menuai sukses besar di FFI 2010. ''Ini penghargaan kedua kami setelah Garuda Di Dadaku. Insya Allah ini, penghargaan yang kami dapatkan malam ini akan terus memberi semangat kepada kami untuk selalu melahirkan karya-karya yang berkualitas dan mendidik,'' ujarnya.
Film drama komedi 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta terpilih sebagai film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2010. Film buatan Mizan Production ini sekaligus juga menyabet tropi Citra terbanyak dengan membawa pulang tujuh tropi.
Sementara film produksi Demi Gisela Citra Sinema, "Alangkah Lucunya Negeri Ini", harus pulang dengan gigit jari. Dari 13 nominasi, film yang disebut-sebut bakal menjadi pemenang FFI ini hanya membawa pula tiga tropi. Ketiga penghargaan tersebut diberikan untuk kategori skenario cerita asli, tata musik dan tata suara saja.
Sedangkan film "3 Hati, 2 Dunia 1 Cinta" mengantarkan Benni Setiawan mendapatkan penghargaan sutradara serta penulis skenario adaptasi terbaik. Penghargaan lainnya juga mengantarkan Reza Rahadian dan Laura Basuki meraih penghargaan sebagai pemeran utama pria dan wanita terbaik.
Untuk aktegori pemeran pendukung pria terbaik disabet oleh Rasyid Hakim yang berperan di film "3 Hati 2 Dunia 1 Cinta". Sedangkan pemeran pendukung wanita terbaik diberikan kepada Happy Salma yang bermain sebagai pelacur di film "7 Hati 7 Cinta 7 Wanita".
Lalu film tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong berjudul "Minggu Pagi di Victoria Park" serta film "I Know What You Did on Facebook" masing-masing hanya meraih satu penghargaan saja.
Deddy Mizwar, produser dari Demi Gisela Citra Sinema yang juga menjadi pengarah Komite Festival Film Indonesia (KFFI), merasa sangat puas dengan hasil yang telah diumumkan ini.
''Alhamdulilah, Allah tidak pernah tidur dan malam ini sudah ditunjukkan buktinya,'' kata Deddy menjawab tudingan miring tentang dirinya yang telah mengatur hasil FFI 2010. ''Apapun keputusan FFI harusnya kita tetap memberikan applaus. Belajarlah untuk saling menghargai, bukan saling menghina.''
Sementara itu Putut Widjanarko selaku produser film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta langsung sumringah film yang diproduksinya menuai sukses besar di FFI 2010. ''Ini penghargaan kedua kami setelah Garuda Di Dadaku. Insya Allah ini, penghargaan yang kami dapatkan malam ini akan terus memberi semangat kepada kami untuk selalu melahirkan karya-karya yang berkualitas dan mendidik,'' ujarnya.
Daftar Peraih Piala Citra FFI 2010:
- Film terbaik: 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta
- Penyutradaraan: Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
- Pemeran Utama Wanita: Laura Basuki (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
- Pemeran Utama Pria: Reza Rahardian (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
- Pemeran Pendukung Pria: Rasyid Karim (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
- Pemeran Pendukung Wanita: Happy Salma (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)
- Skenario Cerita Asli: Musfar Yasin (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
- Skenario Cerita Adaptasi: Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
- Tata Sinematografi: Roby Herby (I know What You Did On Facebook)
- Tata Artistik: Oscart Firdaus (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
- Penyuntingan: Aline Jusria (Minggu Pagi di Victoria Park)
- Tata Suara: Adiatyawan Susanto & Novi Dwi R Nugroho (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
Catatan FFI 2010, Masih Perlukah FFI?
Oleh Akbar
Gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 2010 telah usai. Banyak hal yang tersisa. Ada amarah yang menyumbat tetapi ada pula senyum ceria yang tersembul ketika festival pelat merah ini menggelar malam puncaknya, Senin (6/12) malam di Central Park, Jakarta.
Sebagai sebuah pesta buat insan film nasional, FFI sepertinya masih banyak yang harus dibenahi. Setidaknya persoalan ini bisa disorot dari silang sengketa yang muncul dari film Sang Pencerah.
Film karya Hanung Bramantyo ini telah membelah pendapat para sineas negeri ini. Sengkarut itu berawal dari keputusan mengejutkan Komite Seleksi (KS) yang tidak memasukkan film ini ke dalam salah satu daftar nominee.
Pada pengumuman nominasi, Sang Pencerah dinilai Komite Seleksi ''telah membuat kesalahan fakta-fakta historis...sehingga otomatis mengurangi kredibilitas film tersebut.''
Polemik lainnya juga muncul ketika Komite Festival Film Indonesia (KFFI) memperlihatkan inkonsistensinya dalam menetapkan keputusan KS. Pada pengumuman awal, KS yang dipimpin Viva Westi, hanya memasukkan delapan judul film saja sebagai film nominee.
Tapi keputusan itu langsung berubah hanya selang tiga hari. Entahlah, apakah perubahan itu disebabkan adanya kritikan media atau memang KFFI secara sadar mengubah keputusannya dengan merujuk pada aturan Pedoman Pelaksanaan FFI. Dalam aturan itu tertulis,''Komite Seleksi menetapkan sekurang-kurangnya 10 judul film dan sebanyak-banyaknya 15 judul film pilihan.''
Apakah polemik FFI ini hanya sampai di sana saja? Ternyata tidak! Kisruh kian meruncing ketika pengumuman daftar nominasi film cerita terpaksa diundurkan. Penyebabnya, dewan juri dinilai bersikap 'ngeyel' dengan memberikan penilaian pada film Sang Pencerah -- film yang tak masuk ke dalam daftar sepuluh film nominee hasil seleksi KS.
Lalu puncak terbelahnya dari sekoci FFI itu ketika KFFI mengeluarkan mandat memberhentikan dewan juri. Ini sebuah sejarah bagi penyelenggaraan FFI. Dalam hal ini, untuk kali pertama panitia penyelenggara FFI memberhentikan dewan juri sebelum pengumuman hasil akhir FFI dilakukan.
Berkaca dari semua persoalan itu, FFI sejatinya memang harus segera melakukan pembenahan secara sistemis. Tio Pakusadewo, aktor terbaik FFI 2009, mengusulkan agar anggota komite seleksi itu tidak diumumkan secara terbuka sehingga di antara mereka tidak ada yang bisa saling mengenal. ''Kalau kita melihat Academy Awards, mereka yang melakukan seleksi filmnya jumlahnya sangat banyak. Lalu di antara mereka sendiri juga tak ada yang saling mengenal,'' ujarnya.
Terhadap usulan semacam ini, pengarah KFFI Deddy Mizwar sudah memikirkannya. ''Tetapi itu kerja tahunan. Sehingga kalau diberlakukan pada tahun depan, rasanya masih belum bisa,'' kata dia.
Namun Deddy juga sempat mengatakan, adanya rencana untuk meniadakan KS. ''Kalau dulu judul film kita bisa sampai ratusan. Tetapi sekarang kan tidak sebanyak itu lagi. Ya, mungkin bisa saja dinilai langsung oleh (dewan) juri,'' katanya.
Selain mengubah sistem penilaian, bagian paling penting lagi adalah bagaimana para insan film bisa saling menghormati atas segala keputusan. Namun, perlu diingat juga, keputusan yang telah ditetapkan itu tentunya juga harus konsisten.
Nah, jika masih tetap merasa tak puas, rasanya konsistensi sikap yang telah dilakukan Mira Lesmana cs tampaknya jauh lebih arif. Karya-karya Mira sejak 2007 tak lagi menjadi bagian dari FFI usai terjadinya kisruh pada gelaran FFI 2006. Tetapi apakah itu sebuah pilihan? Rasanya Andalah, para sineas Indonesia yang akan lebih memahami jawabannya sendiri.....
Polemik lainnya juga muncul ketika Komite Festival Film Indonesia (KFFI) memperlihatkan inkonsistensinya dalam menetapkan keputusan KS. Pada pengumuman awal, KS yang dipimpin Viva Westi, hanya memasukkan delapan judul film saja sebagai film nominee.
Tapi keputusan itu langsung berubah hanya selang tiga hari. Entahlah, apakah perubahan itu disebabkan adanya kritikan media atau memang KFFI secara sadar mengubah keputusannya dengan merujuk pada aturan Pedoman Pelaksanaan FFI. Dalam aturan itu tertulis,''Komite Seleksi menetapkan sekurang-kurangnya 10 judul film dan sebanyak-banyaknya 15 judul film pilihan.''
Apakah polemik FFI ini hanya sampai di sana saja? Ternyata tidak! Kisruh kian meruncing ketika pengumuman daftar nominasi film cerita terpaksa diundurkan. Penyebabnya, dewan juri dinilai bersikap 'ngeyel' dengan memberikan penilaian pada film Sang Pencerah -- film yang tak masuk ke dalam daftar sepuluh film nominee hasil seleksi KS.
Lalu puncak terbelahnya dari sekoci FFI itu ketika KFFI mengeluarkan mandat memberhentikan dewan juri. Ini sebuah sejarah bagi penyelenggaraan FFI. Dalam hal ini, untuk kali pertama panitia penyelenggara FFI memberhentikan dewan juri sebelum pengumuman hasil akhir FFI dilakukan.
Berkaca dari semua persoalan itu, FFI sejatinya memang harus segera melakukan pembenahan secara sistemis. Tio Pakusadewo, aktor terbaik FFI 2009, mengusulkan agar anggota komite seleksi itu tidak diumumkan secara terbuka sehingga di antara mereka tidak ada yang bisa saling mengenal. ''Kalau kita melihat Academy Awards, mereka yang melakukan seleksi filmnya jumlahnya sangat banyak. Lalu di antara mereka sendiri juga tak ada yang saling mengenal,'' ujarnya.
Terhadap usulan semacam ini, pengarah KFFI Deddy Mizwar sudah memikirkannya. ''Tetapi itu kerja tahunan. Sehingga kalau diberlakukan pada tahun depan, rasanya masih belum bisa,'' kata dia.
Namun Deddy juga sempat mengatakan, adanya rencana untuk meniadakan KS. ''Kalau dulu judul film kita bisa sampai ratusan. Tetapi sekarang kan tidak sebanyak itu lagi. Ya, mungkin bisa saja dinilai langsung oleh (dewan) juri,'' katanya.
Selain mengubah sistem penilaian, bagian paling penting lagi adalah bagaimana para insan film bisa saling menghormati atas segala keputusan. Namun, perlu diingat juga, keputusan yang telah ditetapkan itu tentunya juga harus konsisten.
Nah, jika masih tetap merasa tak puas, rasanya konsistensi sikap yang telah dilakukan Mira Lesmana cs tampaknya jauh lebih arif. Karya-karya Mira sejak 2007 tak lagi menjadi bagian dari FFI usai terjadinya kisruh pada gelaran FFI 2006. Tetapi apakah itu sebuah pilihan? Rasanya Andalah, para sineas Indonesia yang akan lebih memahami jawabannya sendiri.....
Rabu, 24 November 2010
Komputer Pertama Buatan Apple Terjual Rp 1,9 Miliar
Soal prosesor, komputer ini memang 1.000 kali lebih lamban ketimbang iPad. Soal penampilan, pasti kalah jauh dari Apple MacBook. Tapi, dari segi harga, jangan tanya. Komputer pribadi yang merupakan cikal bakal keluarga Apple ini 425 kali lebih mahal daripada iPad.Ya, Apple I, satu dari 200 model yang pernah dibuat, terjual di rumah lelang Christie, London, kemarin, seharga 133.250 pound sterling atau setara dengan Rp 1,9 miliar.Sang pembeli mendapatkan seluruh paket asli Apple I plus tulisan sales dari Steve Jobs, salah satu pendiri perusahaan Apple yang kini menjabat sebagai CEO Apple Inc.Ketika Apple I diluncurkan pada 1976, inilah satu-satunya komputer pribadi yang sudah lengkap dengan motherboard.Pembeli saat itu tinggal memakainya saja karena paket penjualan sudah termasuk keyboard, power supply, dan display, kata rumah lelang Christie.Harga jualnya ketika itu adalah US$ 666,66 atau sekitar Rp 5,9 juta. Sayang, pada 1977 komputer ini sudah tidak diproduksi lagi.Lantas siapa pemilik baru Apple I ini? Dalam proses pelelangan yang cukup singkat pebisnis asal Italia dan kolektor benda langka, Marco Boglione, menjadi pemilik baru.Boglione tak hadir di rumah pelelangan Christie. Ia hanya memberi penawaran lewat telepon. Tapi adiknya, Francesco Boglione, hadir di sana.Menurut Francesco, kakaknya itu memang gila komputer. “Pertama kali saya mengenal komputer dari Marco. Dia ngotot membeli Apple I ini karena dia cinta komputer.”Juga hadir dalam pelelangan itu Steve Wozniak, salah satu pendiri perusahaan Apple Computer. Seperti Jobs, ia pun membubuhkan tanda tangannya di surat pelelangan.Menurut Wozniak, acara lelang ini menjadi sangat berarti bagi hasil kerja kerasnya. Apalagi penjualan kali ini juga diikuti oleh perusahaan teknologi hebat lainnya.Enigma, mesin pembuat kode rahasia asal Jerman, dan tulisan ahli matematika asal Inggris, Alan Turing, yang dianggap sebagai salah satu penemu komputer modern, juga ikut dilelang.“Hari ini jantung saya serasa mau copot. Apalagi hari ini juga dilelang dokumen Turing dan mesin Enigma, dan tentu Apple I,” ucap Wozniak. “Saya bangga dengan tuan yang membeli benda-benda ini.”Menurut Francesco, setelah Apple I ini diboyong pulang akan diperbaiki dan harus dalam kondisi siap pakai. Dan tentu untuk menambah koleksi komputer Apple di rumah kakanya.
sumber: tempointeraktif
Beatles yang Memikat Penikmat iTunes
Oleh: Mohammad Akbar
Perjalanan panjang pihak Apple untuk merilis karya-karya grup band legendaris The Beatles akhirnya berbuah manis juga. Dari pekan perdana penjualan di gerai musik virtual iTunes, lagu-lagu dari The Beatles ini telah terjual lebih dari dua juta. Selain itu lagi, lebih dari 450 ribu album ludes pula terjual secara global dari pekan perdananya.
Pihak Apple menyatakan dari 13 katalog album studio The Beatles yang dirilis pada pekan lalu itu album "Abbey Road" menjadi yang paling laris terjual secara digital. Tapi penjualan laris itu hanya untuk wilayah gerai iTunes di kawasan Amerika Serikat.
Walau menjadi yang terlaris, namun secara menyeluruh album kesebelas The Beatles yang pernah dirilis pada 1969 itu hanya mampu nangkring di urutan enam. Pencatatan penjualan itu sampai 22 November lalu.
Kemudian lagi "The Beatles Box Set" juga menjadi salah satu album laris yang terjual di iTunes. Dalam daftar tangga album penjualan di iTunes, album tersebut berada di urutan kesepuluh.
''Sementara "Here Comes the Sun" menjadi singel Beatles yang paling laris terjual. Sayangnya singel tersebut tidak masuk ke dalam daftar sepuluh besar pada pekan kemarin,'' demikian disampaikan pihak Apple.
Lantas bagaimana ekspansi karya-karya The Beatles yang ada di iTunes di luar kawasan Amerika? Sayangnya dari hasil laporan yang mengutip laman Reuters tersebut pihak Apple tidak merilis data penjualannya.
Katalog The Beatles ini telah dirilis di iTunes -- salah satu retailer musik digital terbesar dunia -- untuk kali pertama pada 16 November silam. Proses itu menuntaskan negosiasi bertahun-tahun yang telah dilakukan antara pendiri Apple Steve Jobs, perusahaan manajemen The Beatles dan perusahaan rekaman EMI.
Di gerai virtual iTunes ini, lagu-lagu Beatles dijual dengan harga 1,29 dolar AS per lagu. Sedangkan untuk album dobel harganya sebesar 19,90 dolar AS. Label Beatles EMI mengatakan pernjanjian iTunes-Beatles merupakan perjanjian ekslusif pada 2011. Tapi EMI menampik kontrak perjanjian ini bakal berakhir hanya sampai tahun depan saja.
Analis dari BGC Patners, Colin Gillis, menilai penjualan lagu-lagu Beatles ini sebagai upaya pihak Apple untuk lebih memperluas lagi ekspansi penjualan iPod. ''Terutama pada musim liburan ini penjualan iPod cukup penting dan rasanya penjualan hingga 20 juta iPod tentu tidak akan menyakitkan,'' ucap Gillis.
Sementara itu laporan dari laman Billboard yang dirilis Selasa waktu setempat, debut iTunes dari Fab Four -- sebutan lain dari personel grup band The Beatles -- ini ternyata lebih favorit dibandingkan dengan band-band lainnya dalam upaya bergabung pada proses revolusi penjualan musik digital.
Merujuk laporan Nielsen Soundscan, katalog band Led Zeppelin pada penjualan debut digitalnya pada November 2007, hanya memperoleh penjualan di wilayah Amerika sebanyak 47 ribu unit album serta 300 ribu lagu.
Tapi jika dibandingkan dengan karya-karya gres dari penyanyi R&B Rihanna maupun komedi musikal laris televisi Glee, karya The Beatles masih kalah bersaing.
Menurut Apple, album baru Loud milik Rihanna masih menjadi penjualan album terbaik pada pekan lalu di iTunes Amerika. Menyusul di belakangnya adalah karya dari Glee.
Label:
Apple,
Glee,
iTunes,
Led Zeppelin,
revolusi musik digital,
Rihanna,
The Beatles
Kamis, 04 November 2010
In the Name of God, Sebuah Refleksi terhadap Islam
Seperti apakah Islam di Pakistan? Adakah radikalisme itu menjadi pembenaran buat melakukan jihad? Lantas seperti apakah Islam memandang musik dan gaya berpakaian dalam keseharian?
Semua pertanyaan itu menjadi benang merah dari film asal Pakistan Khuda Kay Liye (In the Name of God) karya Shoaib Mansoor. Film yang akan beredar di bioskop nasional mulai 4 November ini meramu berbagai persoalan tentang Islam dan buntut dari aksi teror 11 September di menara kembar World Trade Centre (WTC) Amerika Serikat.
Meski isi ceritanya terkesan 'menggurui', namun film berdurasi hampir tiga jam ini mampu memberikan sebuah pencerahan dalam melihat Islam. Setidaknya, film ini bisa menjadi bentuk solusi bagi Barat dalam memandang Islam.
Dan menjadi lebih penting lagi, film ini menjadi sebuah lompatan besar buat industri perfilman Pakistan. Negara yang berbatasan dengan India ini secara kuantitas maupun teknologi boleh jadi masih tertinggal jauh oleh geliat industri Bollywood. Namun di tengah keterbatasan, film yang menjadi debut karya Shoaib ini telah cukup cerdas memberi pencerahan tentang Islam dan berbagai persoalan yang mengungkungnya.
Film ini memusatkan ceritanya pada tokoh kakak beradik, Mansoor (dimainkan oleh Shaan) dan Sarmad (Fawad Khan). Turut mendukung cerita ada Mary (Iman Ali), perempuan Pakistan berkewarganegaraan Inggris; dua ulama besar Pakistan -- Kyai Maulana Tahiri (Rasheed Naz) dan Kyai Maulana Wali (Naseeruddin Shah) -- serta Dave (Alex Edwards).
Kisah dari film ini dimulai dari kesedihan seorang perempuan bule di Chicago pada musim gugur 2002. Tak lama, film pun melompat mundur ke masa dua tahun sebelumnya. Sebuah gladi resik pertunjukkan musik tengah dipersiapkan untuk menyambut pergantian tahun 2000.
Mansoor dan Sarmad -- dua musisi kakak beradik -- tengah berlatih mempersiapkan diri. Tanpa disangka, persiapan itu berantakan karena diserang sekelompok pria berpakaian putih. Mereka merusak panggung dan melarang pertunjukkan tersebut.
Lalu cerita terus mengalir. Mansoor mengalami pergolakan hidup. Pertemuannya dengan kiai Maulana Tahiri mengubah pemahamannya tentang Islam. Ia memutuskan diri meninggalkan dunia musik. Ia juga mengubah penampilannya dengan memelihara jenggot serta mengenakan baju gamis.
Sebaliknya, Sarmad -- kakak dari Mansoor, melanjutkan kegemarannya terhadap musik. Ia terbang ke Amerika Serikat untuk mendalami pengetahuannya tentang musik. Dua kehidupan dari kakak beradik itu mulai menorehkan ceritanya.
Konflik Cerita Di sini, penonton harus menunggu sabar untuk menantikan hadirnya konflik dari film ini. Konflik itu lahir setelah terjadi penyerangan menara kembar WTC di Amerika. Negeri Paman Sam menjadi membabi buta dalam memerangi terorisme.
Sarmad yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan seorang perempuan bule harus diciduk saat tertidur lelap. Ia dituduh terkait dengan kelompok Usamah bin Ladin. Dasar penangkapannya karena ditemukan semacam jimat yang biasa dijadikan kalung.
Jimat itu berbahasa Arab. Namun karena jimat itu ada memiliki tulisan menyerupai angka 9 dan 11 maka ditahanlah Sarmad tanpa melalui proses peradilan.
Sebaliknya, Mansoor juga harus menjalani pengasingan diri ke sebuah perkampungan tandus. Ia mengikuti titah sang guru dan pamannya untuk menikahi Mary. Mary sendiri sebenarnya telah memiliki pilihan hati saat tinggal di Inggris. Lelaki itu bernama Dave.
Pernikahan dilakukan secara paksa. Di tempat tandus itu, Mansoor juga berlatih perang. Pascaledakan WTC, ia 'terjebak' pada jihad dalam perang saudara. Ia tak setuju untuk membunuh. Tetapi ia terpaksa membunuh ketika nyawanya terancam. Namun ia menjadi galau karena pria yang dibunuhnya sebelum menghembuskan napas juga melafalkan dua kalimat syahadat.
Persoalan kian pelik. Terutama setelah Mary berhasil dibebaskan dari tempat pengasingannya yang tandus. Proses peradilan berjalan. Di sinilah dialog-dialog bernas terlahir. Sekaligus juga dalam persidangan ini dijabarkan bagaimana Islam memandang jihad, musik maupun gaya berpakaian yang disampaikan lewat sosok kiai Maulana Wali.
Di penghujung kisah, Shoaib ternyata cukup cerdas melemparkan otokritiknya dalam melihat pergulatan pemikiran yang sampai kini masih mengungkung umat muslim dunia. Ia menghadirkan Mansoor dengan berpakaian kasual. Saat ia melafazkan azan, kiai Maulana Tahiri menyuruh anak didiknya untuk mengambil mikropon. Dua pemuda muslim sama-sama melafazkan azan.
Namun lantunan yang sejatinya terasa merdu justru melahirkan alunan yang telah membuat burung-burung menjauhi masjid. Ah, sebuah metafora yang cukup apik dalam memotret persoalan Islam masa kini. n mohammad akbar
Langganan:
Komentar (Atom)
