Tampilkan postingan dengan label Hanung Bramantyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanung Bramantyo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2011

Saat Hanung Bramantyo Menggugat lewat Film ?




Seperti apakah memaknai kemajemukan etnis dan agama yang ada di negeri ini? Sepantasnya kah kita harus bertengkar hanya karena perbedaan? Dua pertanyaan sederhana ini mungkin saja mudah terucap tetapi kenyataannya negeri ini kerap kali terkungkung oleh satu masalah besar bernama perbedaan!

Hanung Bramantyo, pembuat film yang pernah meraih tropi Citra sebagai Sutradara Terbaik Festival Film Indonsia (FFI) 2005 dan 2007, tergelitik hatinya. Ia berupaya masuk dan coba merekam ulang perbedaan-perbedaan itu dalam kapasitasnya sebagai pembuat film.

Sejatinya, Hanung tak sedang mencela apalagi memancing sengkarut di negeri kita. Tetapi, sineas berusia 35 tahun asal Yogyakarta ini, hanya ingin mengajak kita semua untuk kembali lagi merenung 'masih pentingkah kita berbeda?'

Hasilnya? Sebuah film berjudul ? (baca tanda tanya,red) dihadirkannya. Film ini merupakan produksi perdana dari Mahaka Pictures bekerja sama dengan Dapur Film. Sebuah tanda tanya sengaja diberikan kepada judul film ini karena Hanung memang masih menyimpan tanda tanya besar ketika melihat atas nama perbedaan agama, suku, dan ras, ternyata sebagian anak negeri ini bisa saling bertikai, bahkan juga membunuh.

Mengawali cerita film, Hanung langsung menghadirkan sebuah konflik. Seorang pastur yang tengah menyambut para jemaat di muka gereja ditikam seorang pemuda. Dugaan Anda tak keliru rupanya karena pikiran kita akan digiring  pada tudingan bahwa umat Islam-lah yang telah dengan sengaja melakukannya. Tetapi benarkah demikian?

Setelah memberikan konflik berbau agama, cerita film ini lebih banyak memotret pada lingkup kehidupan yang lebih kecil tetapi cukup menyimpan persoalan pelik di dalamnya. Panggung cerita itu disajikan di salah satu sudut kota tua di Semarang bernama Pasar Baru.

Di sana ada masjid, gereja, dan klenteng. Lalu, untuk membuat cerita ini hidup, Hanung menghadirkan tiga keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi dan suku yang berbeda.

Ada keluarga Tan Kat Sun (diperankan oleh Hengky Sulaeman) yang memiliki restoran Canton Chinese Food. Ia adalah seorang kepala keluarga yang toleran terhadap perbedaan tetapi ternyata menyimpan persoalan dengan putranya, Hendra (Rio Dewanto) dalam menjelaskan betapa pentingnya bertoleransi dengan tetangga yang berbeda agama dan budaya.

Bentuk tolorensi Tan Kat Sun ini, salah satunya ditunjukkan dengan membedakan perkakas memasak untuk makanan tidak halal dan halal serta memberikan libur selama lima hari kepada karyawannya yang Muslim ketika masa Lebaran tiba.

Lalu ada lagi kehidupan sepasang suami-istri, Soleh (Reza Rahadian) dan Menuk (Revalina S Temat). Keduanya adalah warga lokal yang taat pada agamanya. Menuk, perempuan yang digambarkan berjilbab, bekerja sebagai pelayan restoran di keluarga Tan Kat Sun. Sedangkan Soleh, hanyalah seorang kepala keluarga yang labil. Sepanjang hidupnya, ia selalu berupaya untuk mendapatkan pengakuan eksistensi sebagai suami sekaligus kakak bagi adiknya.

Kemudian kehidupan lainnya disajikan pada tokoh bernama Rika (Endhita) dan Surya (Agus Kuncoro). Rika ini berstatus janda satu orang anak. Bagi lingkungan sekitar, Rika dicibir karena keputusannya bercerai serta berganti agama menjadi penganut agama Katolik.

Sementara Agus digambarkan sebagai seorang pemuda muslim yang semasa karirnya sebagai sineas hanya mendapatkan peran figuran. Hingga pada satu titik ia berhasil mendapatkan peran utama. Tetapi kata hatinya beradu apakah ia harus bersedia menerima peran sebagai Yesus pada perayaan malam Paskah dan Natal?

Secara cerita, skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena ini cukup kuat. Cerita tersebut juga menjadi apik ketika diperkuat lagi dengan setting lokasi yang ditata rapi sebagai lingkungan urban masa lampau serta pengambilan sudut gambar yang tak mengganggu pandangan.


Sedangkan sebagian besar konflik yang dibangun di dalam cerita ini, seperti diakui Hanung, sebagiannya diinspirasi dari kisah nyata yang pernah terjadi di negeri ini. Salah satunya adalah ketika Soleh mencoba mengamankan perayaan malam Natal.

Soleh yang kala itu sudah mendapat pekerjaan sebagai anggota Banser NU dengan keberaniannya menjadi tameng terhadap bom yang meledak. Hanung sempat mengatakan sosok Soleh ini terinspirasi dari kisah anggota Banser NU bernama Riyanto yang wafat ketika bertugas mengamankan malam Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, sepuluh tahun silam.

Tetapi sebagai sebuah karya populer, Hanung tetap tidak mau melupakan bumbu cinta di dalam filmnya. Namun bukan cinta sepasang ABG yang hendak disajikannya. Tetapi cinta di sini bisa juga menjadi universal bagaimana seorang anak mencintai ibunya atau juga hubungan cinta Rika-Surya.

Lalu ada pula api cemburu yang terletup hingga menghadirkan konflik seperti amarah Hendra kepada Soleh. Hendra dan Menuk sebelumnya sempat menjalin kasih. Namun cinta keduanya sempat tak berlanjut ke pelaminan karena perbedaan agama.

Sebelum Soleh dan Hendra menemukan kesadaran bahwa perbedaan itu adalah anugerah, keduanya sering kali beradu mulut dan fisik. Hendra menyebut Soleh sebagai teroris karena streotip bahwa Islam itu kerap berperilaku anarkis. Sedangkan Soleh secara rasial menghardik Hendra sebagai Cina -- sebuah ucapan bentuk kesal yang merujuk pada satu etnis tertentu.

Tetapi segala konflik dan roman cinta yang ada di film ini cukup apik pula dituntaskan menjadi sebuah karya yang happy ending. Dan tak lupa pula, sebagai jawaban atas kegelisahan Hanung sebagai Muslim yang kerap dituding teroris, ia mencoba memberikan jawab atas kegelisihan tersebut. Lewat dialog antara ustad (David Chalik) dan Hendra ketika bertanya tentang Islam, sang ustad menjelaskan bahwa Islam sejatinya adalah agama pembawa rahmat.

Selasa, 07 Desember 2010

Catatan FFI 2010, Masih Perlukah FFI?


Oleh Akbar


Gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 2010 telah usai. Banyak hal yang tersisa. Ada amarah yang menyumbat tetapi ada pula senyum ceria yang tersembul ketika festival pelat merah ini menggelar malam puncaknya, Senin (6/12) malam di Central Park, Jakarta

Sebagai sebuah pesta buat insan film nasional, FFI sepertinya masih banyak yang harus dibenahi. Setidaknya persoalan ini bisa disorot dari silang sengketa yang muncul dari film Sang Pencerah

Film karya Hanung Bramantyo ini telah membelah pendapat para sineas negeri ini. Sengkarut itu berawal dari keputusan mengejutkan Komite Seleksi (KS) yang tidak memasukkan film ini ke dalam salah satu daftar nominee.

Pada pengumuman nominasi, Sang Pencerah dinilai Komite Seleksi ''telah membuat kesalahan fakta-fakta historis...sehingga otomatis mengurangi kredibilitas film tersebut.''

Polemik lainnya juga muncul ketika Komite Festival Film Indonesia (KFFI) memperlihatkan inkonsistensinya dalam menetapkan keputusan KS. Pada pengumuman awal, KS yang dipimpin Viva Westi, hanya memasukkan delapan judul film saja sebagai film nominee.

Tapi keputusan itu langsung berubah hanya selang tiga hari. Entahlah, apakah perubahan itu disebabkan adanya kritikan media atau memang KFFI secara sadar mengubah keputusannya dengan merujuk pada aturan Pedoman Pelaksanaan FFI. Dalam aturan itu tertulis,''Komite Seleksi menetapkan sekurang-kurangnya 10 judul film dan sebanyak-banyaknya 15 judul film pilihan.''

Apakah polemik FFI ini hanya sampai di sana saja? Ternyata tidak! Kisruh kian meruncing ketika pengumuman daftar nominasi film cerita terpaksa diundurkan. Penyebabnya, dewan juri dinilai bersikap 'ngeyel' dengan memberikan penilaian pada film Sang Pencerah -- film yang tak masuk ke dalam daftar sepuluh film nominee hasil seleksi KS.

Lalu puncak terbelahnya dari sekoci FFI itu ketika KFFI mengeluarkan mandat memberhentikan dewan juri. Ini sebuah sejarah bagi penyelenggaraan FFI. Dalam hal ini, untuk kali pertama panitia penyelenggara FFI memberhentikan dewan juri sebelum pengumuman hasil akhir FFI dilakukan.

Berkaca dari semua persoalan itu, FFI sejatinya memang harus segera melakukan pembenahan secara sistemis. Tio Pakusadewo, aktor terbaik FFI 2009, mengusulkan agar anggota komite seleksi itu tidak diumumkan secara terbuka sehingga di antara mereka tidak ada yang bisa saling mengenal. ''Kalau kita melihat Academy Awards, mereka yang melakukan seleksi filmnya jumlahnya sangat banyak. Lalu di antara mereka sendiri juga tak ada yang saling mengenal,'' ujarnya.

Terhadap usulan semacam ini, pengarah KFFI Deddy Mizwar sudah memikirkannya. ''Tetapi itu kerja tahunan. Sehingga kalau diberlakukan pada tahun depan, rasanya masih belum bisa,'' kata dia.

Namun Deddy juga sempat mengatakan, adanya rencana untuk meniadakan KS. ''Kalau dulu judul film kita bisa sampai ratusan. Tetapi sekarang kan tidak sebanyak itu lagi. Ya, mungkin bisa saja dinilai langsung oleh (dewan) juri,'' katanya.

Selain mengubah sistem penilaian, bagian paling penting lagi adalah bagaimana para insan film bisa saling menghormati atas segala keputusan. Namun, perlu diingat juga, keputusan yang telah ditetapkan itu tentunya juga harus konsisten.

Nah, jika masih tetap merasa tak puas, rasanya konsistensi sikap yang telah dilakukan Mira Lesmana cs tampaknya jauh lebih arif. Karya-karya Mira sejak 2007 tak lagi menjadi bagian dari FFI usai terjadinya kisruh pada gelaran FFI 2006. Tetapi apakah itu sebuah pilihan? Rasanya Andalah, para sineas Indonesia yang akan lebih memahami jawabannya sendiri.....

Rabu, 08 September 2010

Film Sang Pencerah, Refleksi bagi Generasi Muda Masa Kini

Menyaksikan film Sang Pencerah telah memberikan nilai tersendiri buat saya. Mengapa? Hadirnya film garapan Hanung Bramantyo ini setidaknya, sekali lagi buat diri saya sendiri loh, telah memberikan alternatif cerita dalam film bioskop kita sekarang. Hm, di tengah menjamurnya film-film berbau selangkangan atau film yang hanya menjual romantisme cinta remaja, Hanung ternyata mampu memberikan sebuah alternatif buat kita yang ingin mengenal lebih dalam tentang sosok pendiri Muhammadiyah.

Seperti apakah filmnya? Berikut ini saya coba berikan sedikit catatan dari saya tentang film ini....Semoga tak terusik yah




Apa yang telah Anda lakukan ketika usia masih 21 tahun? Pertanyaan dasar inilah yang coba hendak diberikan oleh Hanung Bramantyo ketika mengawali pembuatan Sang PencerahSang Pencerah merupakan karya biografi pictures perdana dari sutradara kelahiran Yogyakarta 34 tahun silam ini. Sosok yang coba dihidupkannya ke dalam versi layar lebar itu adalah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Dalam film ini, Hanung tak hanya menghadirkan rangkaian kisah Dahlan semata. Tapi jauh yang lebih mengusik hatinya adalah Hanung sebenarnya ingin mengajak kepada generasi muda zaman sekarang untuk melihat seratus tahun ke belakang tentang sosok anak muda bernama Ahmad Dahlan.

Niat yang awalnya sangat sederhana untuk mengubah arah kiblat Masjid Besar Kauman ternyata memberikan dampak begitu besar bagi Kauman dan negeri ini. Muhammadiyah sebagai sebuah pergerakan pendidikan dan kesehatan berbasis pada umat Islam terlahir dari sebuah semangat juang yang telah dirintis oleh Dahlan sejak usianya masih 21 tahun.



Untuk membungkus cerita biopic ini Hanung menggarapnya secara istimewa. Dalam hal penulisan skenario, setidaknya Hanung membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk merampungkan ceritanya agar bisa menjual namun juga tetap terjaga berada dalam koridor ketokohan Ahmad Dahlan.

Memang, jika kita berkaca pada trend pasar film pada masa kini, cerita yang coba diberikan pada Sang Pencerah ini tidaklah terlalu menjual efek dramatis dari kisah percintaan tokoh yang ada di dalamnya. Sebutlah jika pembanding itu disejajarkan dengan Ayat Ayat Cinta yang juga digarap oleh Hanung. Tapi sebuah karya tentunya tetap memiliki aspek cerita yang unik. Dalam film ini Hanung sepertinya ingin lebih menekankan nilai-nilai keteguhan dari sosok Ahmad Dahlan dalam mewujudkan idenya.

Walau demikian ada beberapa hal yang mungkin akan memberikan perspektif baru buat Anda. Setidaknya hal ini bisa menambah perspektif warga Muhammadiyah dalam memandang Ahmad Dahlan. Dahlan, sosok yang tak banyak berbicara itu, ternyata juga piawai dalam memainkan biola. Kemampuan itu ia perlihatkan dalam mengajar. Hanung juga cukup apik menyelipkan sebuah edukasi -- jika itu tak mau disebut kritikan -- ketika ia menjelaskan makna agama.

Dahlan tidak memberikan jawaban tekstual seperti yang sudah biasa dijelaskan para ulama maupun kiai di kampungnya. Tapi ia mengawalinya dengan sebuah permainan biola dengan alunan musik yang begitu sentimentil dan halus. Lewat permainan biola tadi Hanung kemudian menjelaskan lewat sosok Ahmad Dahlan bahwa agama pada intinya memberikan orang yang merasakannya menjadi tentram, indah, dan nyaman. Dan semua itu tentunya harus berdasarkan pada ilmu.

Lalu dari barisan pemeran, Hanung memboyong para pemain terbaik yang ada di negeri ini. Sebutlah nama Slamet Rahardjo, Ikranegara, Sujiwo Tedjo, Sitok Srengege yang tak perlu lagi disangsikan kemampuan seni perannya di depan kamera. Para pemain berkualitas itu pun disandingkan dengan sosok-sosok muda seperti Lukman Sardi, Ihsan Tarore, Giring Nidji, Joshua dan Zaskia Mecca.

Dari semua pemeran tersebut rasanya patut diberikan penghargaan besar. Wabil khusus diberikan kepada Lukman Sardi. Putra dari Idris Sardi ini, seperti dalam film-film lainnya, selalu mampu menyelami setiap karakter yang dimainkannya. Dan pada karakter Ahmad Dahlan dewasa, Lukman bermain dengan begitu paripurna.

Sedangkan satu-satunya akting yang terasa mengganggu adalah Zaskia Mecca. Zaskia di film ini berperan sebagai Nyai Dahlan. Di film ini begitu terlihat jelas betapa istri dari Hanung Bramantyo ini tak bisa mengartikulasikan dialeg Jawa. Namun pada saat jumpa pers, Hanung berkata soal penampilan Zaskia. ''Dari pada harus dipaksakan lebih baik seperti itu saja,'' kata Hanung.

Selain aspek akting maupun cerita, Hanung juga dibuat kerja ekstra untuk bisa menghadirkan kembali suasana akhir 1800-an di sekitar Yogyakarta. Bagaimana hasilnya? Seperti di film Ayat-Ayat Cinta -- ketika itu Hanung mampu menduplikasi suasana Mesir dengan hanya mengambil setting lokasi shooting dari tanah air -- Hanung juga tetap piawai. Secara artistik, film ini patut diberikan penghargaan tinggi.

Jadi bagi Anda, terutama kaum muda yang memang menjadi pasar terbesar dalam industri perfilman Indonesia masa sekarang, tak ada salahnya untuk melangkahkan kaki menikmati film Sang Pencerah ini di layar bioskop. Karena film ini tak hanya sekedar propaganda tentang organisasi Muhammadiyah. Tapi Hanung lebih ingin mengajak generasi muda zaman sekarang untuk bisa merefleksikan kembali dirinya; apa yang sudah kita perbuat bagi negeri ini!