Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2011

Masjid Jami' Sungai Jambu, Rumah Allah Terbaik di Sumatra Barat

Sore baru saja menyambut langit Nagari Sungai Jambu. Dari dalam masjid, terdengar alunan ayat-ayat suci Alquran. Bukan orang tua sepuh yang tengah membacanya, tetapi lantunan yang terdengar syahdu itu keluar dari mulut anak-anak.  Mereka sebagian besar masih berstatus sebagai pelajar sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).


Mereka tampak begitu hidmat mengikuti setiap yang diberikan para pengajarnya. Meski sesekali ada yang terlihat bercanda sesama rekannya, namun anak-anak itu tetap berkonsentrasi. Ketika saatnya harus membaca, anak-anak itu langsung mengikuti teknik  irama membaca Alquran yang sedang diajarkan. Para pengajarnya adalah jebolan qari nasional dari Sumatra Barat.

Aktivitas keislaman itu merupakan rutinitas yang bisa dijumpai setiap Jumat sore di Masjid Jami' Sungai Jambu. Kegiatan tersebut menjadi aktivitas mingguan yang bisa dijumpai selepas shalat Jumat hingga waktu Ashar menjemput.

Masjid Jami' berada di kaki Gunung Merapi, Sumatra Barat. Secara wilayah, masjid ini berada di Jurong Sungai Jambu yang berada di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar.

Dalam tambo Minangkabau, nagari ini termasuk salah satu yang tertua di bumi Minangkabau. Sebagai nagari yang sudah lama berdiri, begitu pula halnya dengan Masjid Jami' ini. Masjid ini awalnya telah dirintis pembangunannya pada 1918. Ketika itu atapnya masih beratap ijuk.

Namun, setelah pembangunan secara permanen yang mulai dilakukan pada 1988, masjid ini terus berbenah diri. Kucuran dana yang datang dari masyarakat perantau dan penduduk lokal ternyata tidak hanya digunakan untuk memperbaiki bangunan fisik masjid saja. Tapi berjalan seiring, masjid ini juga terus membenahi sistem manajemen maupun kegiatan yang ada di dalamnya.

Tak seperti kebanyakan masjid megah di Pulau Jawa, masjid itu cukup mampu memainkan perannya secara maksimal. Hampir semua kegiatan sosial kemasyarakatan juga banyak berpusat dari dalam masjid.

Menurut salah seorang pengurus Masjid Jami', Amlis Luis, maraknya kegiatan yang ada digelar masjid itu telah membawa berkah. Di pengujung September lalu, masjid ini telah dinobatkan sebagai masjid terbaik se-Sumatra Barat oleh Kementerian Agama (Kemenag) provinsi itu. Status sebagai masjid terbaik, tentu tidak datang begitu saja.

Setahun terakhir ini, kata Amlis, pengelola masjid mencoba menggiatkan berbagai macam aktivitas yang semuanya bermuara dari dalam Rumah Allah ini. Kegiatan mengajarkan teknik irama membaca Alquran yang diikuti oleh anak-anak kampung itu hanyalah satu dari sekian banyak kegiatan rutin yang lahir dari dalam Masjid Jami' Sungai Jambu ini.

''Alhamdullilah kegiatan-kegiatan seperti ini sudah mulai aktif sejak November setahun yang lalu. Banyak kegiatan yang kita lakukan dengan tujuan mendidik anak-anak kita agar cinta agamanya,'' kata Amlis  kepada Republika di Jakarta.

Menurut Amlis, di masjid itu juga digelar kegiatan Pondok Alquran. Kegiatan ini lebih banyak melibatkan anak-anak untuk dipersiapkan menjadi para mubaligh yang siap untuk tampil setiap Jumat. "Sejak 11 bulan yang lalu, sudah ada sekitar enam orang yang sudah siap tampil. Pesertanya adalah mereka yang sudah tingkat SMP hingga SMA," ungkapnya.

Selain itu,  ada lagi kegiatan kursus bahasa Arab dan bahasa Inggris. Lalu, untuk memperdalam kemampuan hafalan anak-anak kampung terhadap Alquran, di masjid itu juga diadakan kajian hafalan ayat-ayat suci. Sejauh ini, kata Amlis, sudah ada beberapa anak yang memiliki kemampuan untuk menghafal surah al-Baqarah hingga 80 ayat.

"Bahkan, untuk mereka yang masih TK, ada juga yang sudah bisa menghafal sampai 20 ayat," katanya.  Selain menyasar pendidikan dan pemahaman anak-anak terhadap agama, Masji Jami' juga berperan di bidang sosial dan kesehatan.  Secara rutin, masjid itu menggelar kegiatan bernama Balai Kesehatan Masjid (BKM).

Kegiatannya berupa pemeriksaan kesehatan jamaah masjid. Aktivitasnya dilakukan setiap Ahad. "Kita melakukan pemeriksaan ini tanpa biaya apa pun. Dokternya kita datangkan dari puskesmas terdekat," tutur Setrial dt Tankali, pengurus Masjid Jami' Sungai Jambu lainnya.

Masjid Jami' juga turut menopang kehidupan ekonomi jamaahnya. Masjid itu menjadi basis ekonomi keumatan. Masjid itu memiliki usaha dalam bentuk koperasi. Sejauh ini anggota yang tercatat baru ada 30 orang. "Tetapi, kami berharap jumlahnya masih bisa terus bertambah," kata Setrial.

Masjid itu juga mampu mengelola dana yang dihimpun dalam bentuk Badan Amil Zakat (BAZ). Dana ini dikumpulkan dalam bentuk zakat mal. Dalam setahun, masjid Jami' Sungai Jambu bisa dua kali  menggelar kegiatan menyantuni anak yatim-piatu. Biasanya kegiatan ini dilakukan pada saat menyambut tahun ajaran baru sekolah dan saat menghadapi Lebaran.

"Masing-masing kami berikan Rp 300 ribu. Untuk kegiatan yang kemarin, kami menyantuninya kepada 27 anak yatim-piatu yang ada di sekitar masjid," jelas Setrial. Sementara itu, untuk memperkaya khasanah pengetahuan agama, masjid yang memiliki luas bangunan 600 meter persegi ini juga memiliki ruang pustaka.

"Kami menamakannya Pustaka Masjid," kata Amlis. "Saat ini sudah ada ratusan judul buku yang ada di dalam Pustaka Masjid." Untuk kegiatan rutin harian, Masjid Jami' juga melakukan tadarus Alquran. Kegiatan ini dilakukan setelah Maghrib sampai waktu shalat Isya.

 "Saat ini ada sekitar 40 orang yang rutin mengikuti tadarus Alquran ini. Alhamdulillah kegiatannya selalu bisa kami lakukan sehabis shalat Maghrib berjamaah." Lalu untuk menambah pengetahuan dan pemahaman agama bagi jamaah, Amlis mengatakan, pengurus masjid menggelar kegiatan ceramah di malam hari.

Untuk ceramah yang dilakukan setiap Rabu, kata Amlis, pengisinya berasal dari dalam kampung sendiri. Sedangkan untuk setiap Sabtu, kerap kali mendatangkan penceramah dari luar. Kegiatan ini juga berjalan seiring dengan aktivitas Lembaga Didikan Shubuh (LDS) dan kuliah Shubuh.

Program LDS, kata dia, target pesertanya adalah anak-anak. Sedangkan untuk kuliah Shubuh yang dilakukan secara rutin setiap hari, kata Amlis, lebih banyak menyasar para orang tua. "Kami ingin masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah. Tetapi, kami berharap dari masjid bisa dihasilkan banyak hal untuk menjalani hidup," katanya.

Sederet kegiatan yang digelar Masjid Jami' Sungai Jambu ini, kata Amlis, tak lepas peran serta para perantau yang tersebar di berbagai tempat. Ia menceritakan keringanan tangan para masyarakat perantau itu juga ditunjukkan setiap kali Lebaran tiba. "Alhamdullilah saat shalat Id pada Lebaran kemarin, dana yang berhasil kita kumpulkan sebanyak Rp 42 juta."

Jumat, 01 April 2011

Saat Hanung Bramantyo Menggugat lewat Film ?




Seperti apakah memaknai kemajemukan etnis dan agama yang ada di negeri ini? Sepantasnya kah kita harus bertengkar hanya karena perbedaan? Dua pertanyaan sederhana ini mungkin saja mudah terucap tetapi kenyataannya negeri ini kerap kali terkungkung oleh satu masalah besar bernama perbedaan!

Hanung Bramantyo, pembuat film yang pernah meraih tropi Citra sebagai Sutradara Terbaik Festival Film Indonsia (FFI) 2005 dan 2007, tergelitik hatinya. Ia berupaya masuk dan coba merekam ulang perbedaan-perbedaan itu dalam kapasitasnya sebagai pembuat film.

Sejatinya, Hanung tak sedang mencela apalagi memancing sengkarut di negeri kita. Tetapi, sineas berusia 35 tahun asal Yogyakarta ini, hanya ingin mengajak kita semua untuk kembali lagi merenung 'masih pentingkah kita berbeda?'

Hasilnya? Sebuah film berjudul ? (baca tanda tanya,red) dihadirkannya. Film ini merupakan produksi perdana dari Mahaka Pictures bekerja sama dengan Dapur Film. Sebuah tanda tanya sengaja diberikan kepada judul film ini karena Hanung memang masih menyimpan tanda tanya besar ketika melihat atas nama perbedaan agama, suku, dan ras, ternyata sebagian anak negeri ini bisa saling bertikai, bahkan juga membunuh.

Mengawali cerita film, Hanung langsung menghadirkan sebuah konflik. Seorang pastur yang tengah menyambut para jemaat di muka gereja ditikam seorang pemuda. Dugaan Anda tak keliru rupanya karena pikiran kita akan digiring  pada tudingan bahwa umat Islam-lah yang telah dengan sengaja melakukannya. Tetapi benarkah demikian?

Setelah memberikan konflik berbau agama, cerita film ini lebih banyak memotret pada lingkup kehidupan yang lebih kecil tetapi cukup menyimpan persoalan pelik di dalamnya. Panggung cerita itu disajikan di salah satu sudut kota tua di Semarang bernama Pasar Baru.

Di sana ada masjid, gereja, dan klenteng. Lalu, untuk membuat cerita ini hidup, Hanung menghadirkan tiga keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi dan suku yang berbeda.

Ada keluarga Tan Kat Sun (diperankan oleh Hengky Sulaeman) yang memiliki restoran Canton Chinese Food. Ia adalah seorang kepala keluarga yang toleran terhadap perbedaan tetapi ternyata menyimpan persoalan dengan putranya, Hendra (Rio Dewanto) dalam menjelaskan betapa pentingnya bertoleransi dengan tetangga yang berbeda agama dan budaya.

Bentuk tolorensi Tan Kat Sun ini, salah satunya ditunjukkan dengan membedakan perkakas memasak untuk makanan tidak halal dan halal serta memberikan libur selama lima hari kepada karyawannya yang Muslim ketika masa Lebaran tiba.

Lalu ada lagi kehidupan sepasang suami-istri, Soleh (Reza Rahadian) dan Menuk (Revalina S Temat). Keduanya adalah warga lokal yang taat pada agamanya. Menuk, perempuan yang digambarkan berjilbab, bekerja sebagai pelayan restoran di keluarga Tan Kat Sun. Sedangkan Soleh, hanyalah seorang kepala keluarga yang labil. Sepanjang hidupnya, ia selalu berupaya untuk mendapatkan pengakuan eksistensi sebagai suami sekaligus kakak bagi adiknya.

Kemudian kehidupan lainnya disajikan pada tokoh bernama Rika (Endhita) dan Surya (Agus Kuncoro). Rika ini berstatus janda satu orang anak. Bagi lingkungan sekitar, Rika dicibir karena keputusannya bercerai serta berganti agama menjadi penganut agama Katolik.

Sementara Agus digambarkan sebagai seorang pemuda muslim yang semasa karirnya sebagai sineas hanya mendapatkan peran figuran. Hingga pada satu titik ia berhasil mendapatkan peran utama. Tetapi kata hatinya beradu apakah ia harus bersedia menerima peran sebagai Yesus pada perayaan malam Paskah dan Natal?

Secara cerita, skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena ini cukup kuat. Cerita tersebut juga menjadi apik ketika diperkuat lagi dengan setting lokasi yang ditata rapi sebagai lingkungan urban masa lampau serta pengambilan sudut gambar yang tak mengganggu pandangan.


Sedangkan sebagian besar konflik yang dibangun di dalam cerita ini, seperti diakui Hanung, sebagiannya diinspirasi dari kisah nyata yang pernah terjadi di negeri ini. Salah satunya adalah ketika Soleh mencoba mengamankan perayaan malam Natal.

Soleh yang kala itu sudah mendapat pekerjaan sebagai anggota Banser NU dengan keberaniannya menjadi tameng terhadap bom yang meledak. Hanung sempat mengatakan sosok Soleh ini terinspirasi dari kisah anggota Banser NU bernama Riyanto yang wafat ketika bertugas mengamankan malam Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, sepuluh tahun silam.

Tetapi sebagai sebuah karya populer, Hanung tetap tidak mau melupakan bumbu cinta di dalam filmnya. Namun bukan cinta sepasang ABG yang hendak disajikannya. Tetapi cinta di sini bisa juga menjadi universal bagaimana seorang anak mencintai ibunya atau juga hubungan cinta Rika-Surya.

Lalu ada pula api cemburu yang terletup hingga menghadirkan konflik seperti amarah Hendra kepada Soleh. Hendra dan Menuk sebelumnya sempat menjalin kasih. Namun cinta keduanya sempat tak berlanjut ke pelaminan karena perbedaan agama.

Sebelum Soleh dan Hendra menemukan kesadaran bahwa perbedaan itu adalah anugerah, keduanya sering kali beradu mulut dan fisik. Hendra menyebut Soleh sebagai teroris karena streotip bahwa Islam itu kerap berperilaku anarkis. Sedangkan Soleh secara rasial menghardik Hendra sebagai Cina -- sebuah ucapan bentuk kesal yang merujuk pada satu etnis tertentu.

Tetapi segala konflik dan roman cinta yang ada di film ini cukup apik pula dituntaskan menjadi sebuah karya yang happy ending. Dan tak lupa pula, sebagai jawaban atas kegelisahan Hanung sebagai Muslim yang kerap dituding teroris, ia mencoba memberikan jawab atas kegelisihan tersebut. Lewat dialog antara ustad (David Chalik) dan Hendra ketika bertanya tentang Islam, sang ustad menjelaskan bahwa Islam sejatinya adalah agama pembawa rahmat.