Tampilkan postingan dengan label Iwan Fals. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iwan Fals. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Januari 2011

"Andai Aku Gayus" dan Sejarah Lagu Protes di Indonesia


sumber foto: Tribunnews


Kasus mafia pajak Gayus Tambunan, mengilhami Bona Paputungan mencipta sebuah lagu berjudul "Andai Aku Gayus" yang kini lagu tersebut meledak. Ini lagu main-main, tapi dampaknya bukan main. Sebab, lagu ini bertema protes dan setengah menghujat sistem peradilan negeri ini.

Nampaknya, fenomena sosial banyak mengilhami para seniman musik. Sejak rezim orde lama sampai orde baru, pemerintah rajin membrangus seniman musik. Ada beberapa lagu ciptaan yang dilarang diputar, tapi ada beberapa pula yang lolos dan secara sembunyi diperdengarkan.

Pembrangusan seniman musik negeri ini diawali oleh Koes Bersaudara. Pada Kamis 1 Juli 1965, pasukan tentara menangkap band Koes Bersaudara (Tony, Yon, Yok, Nomo Koeswoyo). Aparat lantas mengurung band bersaudara ini di LP Glodok, Jakarta.

Mengapa ditahan? Mereka dituduh memainkan lagu-lagu The Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Sebuah tuduhan tanpa dasar hukum, bahkan terkesan mengada ada. Mereka dianggap memainkan musik "ngak ngik ngok" istilah pemerintahan Presiden Soekarno yang berkuasa saat itu, musik yang cenderung imperialisme pro barat.

Waktu pun berjalan, Sampai di masa orba masih banyak berseliweran karya-karya musisi yang membuat kuping Soeharto, presiden RI waktu itu, memerah. Sebut saja "Tante Sun" (Bimbo) yang mengritik dominasi ibu negara (Tien Soeharto), atau "Pak Tua" (El Pamas) yang menyindir Soeharto atas masa kekuasaannya di negeri ini. Beruntung, dua lagu itu lolos dari larangan.

Tapi tahun 1978 an, Mogi Darusman (almarhum) menggegerkan Indonesia dengan lagu "Rayap-Rayap". Liriknya terang-terangan menohok koruptor dan sebangsanya, sehingga waktu itu jaksa agung, atas perintah Soeharto, melarang lagu ini beredar.

Bagi generasi sekarang, sekadar tahu saja, Mogi Darusman adalah musisi sepupu Marzuki Darusman, SH (politikus) dan Chandra Darusman (musisi jazz). Lagunya direkam dan diedarkan, namun tidak lama, album Aje Gile dilarang beredar, dan Mogi Darusman seolah dipasung, sampai ia wafat karena sakit.

Lihat saja sepenggal liriknya yang membuat para petinggi negeri ini kebakaran jenggot:

"Kau tahu rayap-rayap/makin banyak dimana-mana/ dibalik baju resmi/ merongrong tiang negara//
Kau tahu babi-babi/ makin gemuk di negeri kita/ mereka dengan tenang/ memakan kota dan desa//

Lagu itu amat sangat relevan untuk diperdengarkan di era sekarang ketika korupsi makin subur dan banyak muncul mafioso seperti Gayus Tambunan yang lantas menginspirasi Bona Paputungan membuat lagu "Andai Aku Gayus" yang membuat namanya mencuat karena lagu ini diposting di You Tube.

Kritik sosial

Mogi Darusman dibrangus, muncul Harry Roesli. Pemusik asal Bandung ini melahirkan karya-karya sarat kritik sosial dan, bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan Orde Baru.

Bersama DKSB (Depot Kreasi Seni bandung) dan Komite Mahasiswa Unpar, Harry Roesli mementaskan pemutaran perdana film dokumenter "Tragedi Trisakti" dan panggung seni dalam acara "Gelora Reformasi" di Universitas Parahyangan.

Saat pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tidak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara memelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.

Zaman berubah. Era reformasi menjadi euforia para seniman bebas membuat lagu bertema sosial. Kritik tak lagi membuat menyakitkan, karena para petingi dan koruptor d Indonesia sudah "mati rasa". Mestinya lagu "Rayap-rayap" sangat pas untuk kondisi sekarang di mana para pejabat yang korup relevan disebut babi-babi gemuk.

Sehingga pada era tahun 90 an sampai 2000 an lagu-lagu dengan tema antikorupsi dari para musisi banyak dibuat. Mereka memiliki kepekaan cukup tinggi terhadap fenomena korupsi masih pun marak.

Bisa disebut "Surat Buat Wakil Rakyat" (Iwan Fals), "Seperti Para Koruptor" (Slank), "Pemimpin Budiman (GIGI), "Gosip Jalanan" (Slank), "Kwek Kwek Kwek" (Iwan Fals), "Merdekakah Kita" (Saykoji), "Jengah" (Pas Band), dan "Rubah" (Iwan Fals), serta "Sapuku Sapumu Sapu Sapu" (Iwan Fals).

Lantas musisi generasi muda seperti "Music Guyonan" (Dedy Suardi), "KA (Koruptor Anjink)" (ANTINK band), "Krisis Ekonomi vs Korupsi" (RCP), "Distorsi" (Ahmad Band), "John Esmod" (/rif), "I.C.U" (Tipe-X), "Nagih" (Slank), "Dekadensi" (Chrisye), "Sini Oke Sana Ko" (Seurieus), "Politik Uang" (Iwan Fals), "Birokrasi Kompleks" (Slank), dan "Indonesia" (Rhoma Irama), serta "Negeri Cintaku" (Keenan Nasution)

Beruntung di zaman reformasi ini, lagu-lagu bertema sosial itu bebas berseliweran di kuping. Artinya, lagu-lagu itu tidak dilarang, ini terkait dengan "mati rasa"nya para subjek yang dikritik.

*Artikel asli bisa klik di sini

Jumat, 10 September 2010

Foto Iwan Fals pada Konser Keseimbangan

Mau mengetahui aksi-aksi Iwan Fals saat tampil di konser Ngabuburit Bareng Iwan Fals dan League di kampus Al-Azhar, Jakarta? Hm, kebetulan saya memiliki beberapa hasil jepretannya. 

Maaf, secara estetika mungkin masih jauh dari kata sempurna. Tapi sungguh menyenangkan bisa melihatkan Pahlawan Asia versi Majalah Times itu memekikkan 'Hidup Mahasiswa!' sambil melantunkan beberapa lagu anyar dari album Keseimbangan dan lagu-lagu lawasnya....

Untukmu....











                                                             Dengarlah suaraku,



Karenaku kan tersenyum....














                                         Dan kulihat kau dari jauh...



Rabu, 08 September 2010

Iwan Fals? Ngak Ada Matinye....

Iwan Fals sepertinya masih menjadi magnet tersendiri bagi para penggemarnya. Hm, mungkin boleh jadi saya adalah salah satunya juga yah....

Buat saya, penampilan Iwan selalu saja memberikan kesan. Mau tahu seperti apa Iwan saat manggung di kampus Al-Azhar, Jakarta beberapa waktu lalu? Coba deh simak laporannya di bawah ini....





Tak ada yang pernah berubah pada sosok Iwan Fals ketika membicarakan soal kehidupan. Ia tetap lantang menyalak dalam bahasa yang sederhana, tanpa menyusupkan bumbu-bumbu politik praktis yang kian membosankan.

Ah, Iwan tetaplah Iwan. Meski rambutnya telah memutih, tak ada semangat yang meredup di dirinya ketika harus berbicara soal kehidupan. Kini ia memang tak lagi menyorot parodi politik yang kian dungu. Tapi Iwan lebih menyorot persoalan yang lebih substil dengan berbicara soal lingkungan. Tanpa ada regenerasi yang peduli terhadap lingkungan, menurut Iwan, bumi tempat kita berpijak akan lenyap.

''Ratusan tahun yang lalu orang-orang asing telah mengambil pohon dan rempah-rempah kita, lantas mengapa kita harus meninggalkannya sekarang? Muah-mudahan kita bisa menjaga warisan nenek moyang kita dan juga warisan dunia yang diberikan kepada kita,'' Iwan berpetuah dalam konsernya di kampus Al-Azhar, Jakarta, Rabu (25/8) sore.

Konser bertajuk Ngabuburit Bareng Iwan Fals dan League ini menjadi rangkaian kepedulian penyanyi balada ini terhadap masalah lingkungan yang kini semakin terlupakan. Konser ini juga menjadi bagian dari promo album baru "Keseimbangan" yang dirilis pada tahun ini.

Untuk mengkampanyekan persoalan ini Iwan secara khusus memilih civitas akademika yang dinilainya lebih 'bersih' dan memiliki waktu luang lebih banyak. ''Bukan tak percaya pada politisi, tetapi pekerjaan mereka sekarang memang lebih banyak membodohi kita semua,'' ujarnya.

Tentang pilihannya ke kampus, Iwan juga memberikan lagi alasannya. ''kampus tempatnya intelektual muda dan saya optimis mereka bisa membawa negeri ini ke arah yang lebih baik, sesuai dengan visi kita bersama yaitu Keseimbangan Bumi League, Bumi Kita,'' ujarnya.

Selain bertandang ke kampus Al-Azhar, Iwan juga mendatangi almamaternya sendiri di IISIP. Lalu ia pun bergerak ke Paramadina, Budi Luhur, Fakultas Kehutanan IPB dan dijadwalkan menutup rangkaian kampus ke kampus ini di Institut Kesenian Jakarta pada sore nanti . 

Dalam setiap kunjungannya ke kampus, Iwan mengawali lebih dulu dengan aksi tanam pohon. ''Kita sebenarnya ingin mengajak kepada generasi muda untuk menanam dan merawat pohon. Karena inilah yang terkadang sulit kita lakukan,'' ujarnya.

Yang unik dari konser ini, Iwan menjadikan bus yang dibawanya keliling kampus itu sebagai medium panggung. Artinya, secara tata panggung Iwan menampilkan kesederhaan dengan formasi gitar pada Totok Tewel, Edi Darome (keyboard), Heru Buhari (bass) dan Deni (drum).

Meski ia tampil ala kadarnya, tetap saja aksi panggung Iwan secara akustik tetap mampu menyedot perhatian besar para penggemar yang tergabung dalam wadah OI (Orang Indonesia) maupun penggemarnya dari masyarakat umum.

Saat tampil di kampus Al-Azhar, Iwan membawakan sebanyak sebelas lagu hits. Di antara lagu-lagu tersebut Iwan menyelipkan dua buah lagu yang berbicara soal lingkungan. Judulnya Pohon Untuk Kehidupan dan Hutanku. Keduanya adalah lagu yang terdapat di dalam album baru Keseimbangan.

Ramadhan
Iwan juga menyampaikan alasannya memilih kampanye ini di masa Ramadhan karena ia merasa kegiatan ini menjadi lebih maksimal lagi. Ia menyebut bagaimana Rasul pada masa hidupnya dahulu juga banyak melakukan perang kepada kaum kafir di masa Ramadhan.

''Sekarang kita memang tidak berperang, tetapi dari pengalaman Rasul itu menunjukkan bahwa Ramadhan adalah masa yang paling tepat untuk bisa melakukan sesuatu yang besar. Dan saya melihat kegiatan ini akan menjadi lebih bermakna lagi jika dilakukannya di masa Ramadhan,'' kata ayah tiga anak ini dengan penuh semangat.

Penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listanto ini juga ingin menunjukkan kepada semua penggemarnya bahwa menjalani puasa tidak harus dengan berletih lesu. ''Saya justru merasa di bulan puasa ini latihannya menjadi merasa lebih enak saja. Jadi kalau kita puasanya lemes-lemesan, ayo mulai sekarang kita ubah. Tetap semangat dalam berkarya,'' kata penyandang predikat Asian Heroes versi majalah Times ini. n mohammad akbar