Sebuah ruang untuk membahas berbagai macam persoalan. Mulai dari seni budaya, olahraga, politik, dan lain sebagainya
Senin, 13 September 2010
Kesegaran Pop Urban ala Volume Band
Daya pikat industri musik tanah air sepertinya tak pernah henti dalam menarik band pendatang baru. Volume band adalah satu di antara yang terbaru itu. Ia datang dengan menawarkan sebuah konsep musik pop urban yang siap memberikan kesegaran di telinga Anda.
Pop urban ala Volume band ini cukup banyak dipengaruhi oleh sound-sound dari musisi favorit mereka. Sebutlah di antaranya nama beken musisi dunia semacam Jason Mraz dan John Meyer. Walau nge-fans abiz, tapi grup yang digawangi oleh Fawdy Irianto (gitar), Wafda Saifan (vokal), Nico Suryadarma (bass), dan Ryan Hazairin (drum) ini tidak kemudian harus menduplikasi begitu saja musikalitas yang telah dimainkan para idolanya.
Simaklah singel pertama "Hey Cantik" yang dijadikan nomor perkenalan dari Volume band. Secara musikalitas, tak perlu harus menyebut singel Volume band itu sebagai karya plagiat. ''Tidak karena kami punya cara sendiri untuk mengekspresikan karya kami,'' kata Wafdah Saifan, vokalis dari Volume band, di sela perjumpaannya dengan wartawan di Jakarta.
Menyimak secara detail lagu "Hey Cantik", bersiaplah telinga Anda untuk menikmati suguhan lagu bertempo medium up beat. Diawali dengan raungan sound gitar yang cruchy dari Fawdy. Lalu harmonisasi itu disahut begitu apik dengan betotan bas dari Nico.
Lalu bersahutanlah kemudian dengan gebukan drum yang konstan dari Ryan. Lengkapkah musik mereka? Belum! Di saat musik yang begitu segar telah tersaji, baru muncullah vokal Wafda yang sedikit tipis, ringan tapi tetap terasa powerfull. Semuanya itu benar-benar membentuk satu kesatuan harmonisasi lagu yang asyik dan menyenangkan, serta mampu menghantarkan nuansa positif ke gendang telinga kita yang mendengarkannya.
''Kami memang berusaha untuk memberikan kesegaran bermusik,'' kata Wafdah. ''Buat kami bermusik itu harus memakai hati, dan pilihan hati kami adalah musik yang bisa memberikan kesegaran buat yang mendengarkannya.''
Soal makna yang terselip dari lirik lagu ini, Wafda bercerita banyak hal. Tapi pada intinya, lagu "Hey Cantik" ini mengisahkan tentang seorang playboy yang gagal total dalam menaklukkan hati wanita pujaannya. Ternyata, tongkrongan sang playboy masih kalah kuat untuk membuat wanita cantik itu meninggalkan kekasihnya.
''Ha..ha..ha..ini bukan pengalaman pribadi,'' begitu cepat-cepat Ryan menyambut tudingan lagu itu terinspirasi dari sebuah pengalaman personel Volume band. ''Terus terang kisah cinta yang semacam itu sebenarnya sangat mungkin dialami oleh siapa saja.''
Singel "Hey Cantik" ini hadir sebagai sebuah upaya dalam mengikuti tren pasar industri musik yang memang mengharuskan untuk berkarya secara efektif. ''Albumnya sendiri kini sudah siap, tetapi kami sengaja melepas terlebih dahulu singel,'' kata Wafda.
Nah soal grup band ini sendiri, Fawdy menceritakan grup ini sebenarnya telah mulai merintis perjalanan kariernya ke dunia industri sejak 2008. Makna pemberian nama Volume sendiri merujuk pada artian 'isi' dan 'ukuran suara'. Setelah mematangkan diri sebagai band anak sekolah, peruntungan mulai berpihak. Pertemuan anak-anak Volume band dengan Lolita dan Ichwan Ramlan kemudian membawa mereka untuk memberanikan diri masuk ke dapur rekaman.
Beberapa karya Volume band ini sempat diproduseri oleh Anang Hermansyah serta Budi “Drive” yang turut menjadi Music Director pada beberapa lagu mereka. Kini, usaha panjang itu mulai meretas hasil.
Untuk lagu "Hey cantik" ini, Fawdy mengaku, sudah mulai menjadi langganan request di sejumlah radio di kota-kota besar tanah air. Begitu juga dengan video klip yang sudah dapat dinikmati di beberapa televisi nasional.
''Kami berharap, kehadiran kami di blantika musik Indonesia ini bisa memberikan satu pilihan musik yang berbeda bagi pecinta musik di tanah air. Kami juga berharap musik kami bisa diterima dengan baik,'' ucap Wafda menguatkan harapannya.
Sabtu, 11 September 2010
Karpet Merah buat Ridho Rhoma
Ada yang masih belum dilengkapi oleh Ridho Rhoma dalam menyandang status sebagai Putera Pangeran dari Raja Dangdut Rhoma Irama. Jika Rhoma telah melengkapi kariernya sebagai penyanyi yang berperan di layar lebar, kini tantangan serupa giliran digelayutkan ke pundak Ridho.
Ridho yang sebelumnya sudah menuai sukses berkat singel Menunggu, kini berganti giliran untuk melintasi karpet merah yang telah digelar oleh sang papa. Film "Dawai 2 Asmara" diharapkan bisa mengantarkan Ridho menjadi seorang penghibur yang paripurna -- layaknya Rhoma Irama yang telah melengkapi dirinya sebagai penyanyi dan juga aktor film.
''Film ini sebenarnya hanya untuk mengantarkan Ridho untuk menjadi seorang superstar,'' kata Rhoma dalam perbincangan eksklusif kepada Republika dan Kompas di Jakarta, Selasa (7/9).
Dalam perbincangan itu Rhoma didampingi oleh sang putra, Ridho. Terhadap usaha yang telah diretas oleh sang papa, Ridho hanya tersenyum. Kata syukur pun tak terhindar dari mulutnya. ''Yang pasti papa dan saya mempunyai ciri yang berbeda,'' kata Ridho. ''Tugas saya sekarang sebenarnya hanya melanjutkan saja perjuangan yang telah dilakukan papa (sebagai penyanyi dangdut dan aktor).''
Untuk menapak ke layar lebar ini tentu bukan karena 'haji mumpung' saat pamor Ridho tengah di atas. Bagi Ridho, berperan sebagai seorang aktor sebenarnya sudah menjadi impiannya sejak lama. ''Saya memang suka film,'' ujarnya tersenyum simpul.
Guna mewujudkan segala hasratnya berperan di layar lebar, Ridho melakukan sejumlah pembekalan. ''Termasuk selama sebulan saya melakukan workshop berakting,'' ujarnya.
Adakah sesuatu yang memberikan tantangan berbeda ketika beradegan di depan kamera? Ah, ternyata pria yang disebut oleh Rhoma Irama memiliki anugerah good looking itu berujar,''Cukup banyak. Terutama ketika saya harus beradegan dengan Cathy (Sharon).''
Ups, tapi jangan dulu berburuk sangka kalau Ridho tak kuasa dalam mengendalikan gejolak asmaranya terhadap mantan VJ MTV blasteran Prancis, Manado dan Tionghoa tersebut. Ridho hanya merasa canggung karena lawan mainnya di film Dawai 2 Asmara itu adalah 'orang baru' dalam kehidupannya. ''Soalnya saya termasuk orang yang tidak mempunyai banyak teman perempuan. Jadi cukup canggung saja ketika harus beradegan dengan Cathy,'' ucap Ridho sambil melirik papa yang berada disampingnya.
Tentang keterlibatannya di dunia akting ini, kata Ridho, dirinya berusaha untuk menjadi diri sendiri. ''Sama seperti papa,'' katanya menyebutkan peran Rhoma Irama yang selalu menjadi diri sendiri dari 25 film yang pernah dilakoninya.
Dalam perbincangan sebelumnya Rhoma sempat menjelaskan kalau dalam setiap film yang dilakoninya ia selalu berusaha menjadi diri sendiri. Di dalam film-filmnya Rhoma tampil sebagai musisi sambil mendengungkan gema dakwah. ''Nah yang membedakannya, saya hana berusaha untuk menjadi pribadi tetapi sebagai seorang yang romantis saja,'' kata Ridho.
Buat Lagu
Terkait tentang karier Ridho berikutnya, ia tetap berusaha untuk selalu berkarya. Bahkan di dalam film perdananya ini, Ridho juga menyelipkan sebuah lagu garapannya sendiri. Lagu yang diberi judul Let's Have Fun itu berisi tentang ajakan dari Ridho kepada para penggemarnya untuk bisa beranjak dari segala persoalan yang menghimpit.
''Lagu ini pada dasarnya merupakan ajakan kepada masyarakat agar jangan lagi bersedih dan terlarut berkepanjangan dalam kesusahan,'' kata Ridho.
Sepanjang proses penggarapan lagu ini, Ridho mengaku selalu meminta masukan dari sang ayah. ''Pokoknya apa yang saya tulis selalu dikembalikan dulu kepada papa. Wah lumayan sih sempat beberapa kali dikembalikan. Tapi Alhamdullilah akhirnya karya itu bisa juga jadi,'' ujarnya.
Jumat, 10 September 2010
Foto Iwan Fals pada Konser Keseimbangan
Mau mengetahui aksi-aksi Iwan Fals saat tampil di konser Ngabuburit Bareng Iwan Fals dan League di kampus Al-Azhar, Jakarta? Hm, kebetulan saya memiliki beberapa hasil jepretannya.
Maaf, secara estetika mungkin masih jauh dari kata sempurna. Tapi sungguh menyenangkan bisa melihatkan Pahlawan Asia versi Majalah Times itu memekikkan 'Hidup Mahasiswa!' sambil melantunkan beberapa lagu anyar dari album Keseimbangan dan lagu-lagu lawasnya....
Untukmu....
Dengarlah suaraku,
Karenaku kan tersenyum....
Dan kulihat kau dari jauh...
Rabu, 08 September 2010
Iwan Fals? Ngak Ada Matinye....
Iwan Fals sepertinya masih menjadi magnet tersendiri bagi para penggemarnya. Hm, mungkin boleh jadi saya adalah salah satunya juga yah....
Buat saya, penampilan Iwan selalu saja memberikan kesan. Mau tahu seperti apa Iwan saat manggung di kampus Al-Azhar, Jakarta beberapa waktu lalu? Coba deh simak laporannya di bawah ini....
Tak ada yang pernah berubah pada sosok Iwan Fals ketika membicarakan soal kehidupan. Ia tetap lantang menyalak dalam bahasa yang sederhana, tanpa menyusupkan bumbu-bumbu politik praktis yang kian membosankan.
Ah, Iwan tetaplah Iwan. Meski rambutnya telah memutih, tak ada semangat yang meredup di dirinya ketika harus berbicara soal kehidupan. Kini ia memang tak lagi menyorot parodi politik yang kian dungu. Tapi Iwan lebih menyorot persoalan yang lebih substil dengan berbicara soal lingkungan. Tanpa ada regenerasi yang peduli terhadap lingkungan, menurut Iwan, bumi tempat kita berpijak akan lenyap.
''Ratusan tahun yang lalu orang-orang asing telah mengambil pohon dan rempah-rempah kita, lantas mengapa kita harus meninggalkannya sekarang? Muah-mudahan kita bisa menjaga warisan nenek moyang kita dan juga warisan dunia yang diberikan kepada kita,'' Iwan berpetuah dalam konsernya di kampus Al-Azhar, Jakarta, Rabu (25/8) sore.
Konser bertajuk Ngabuburit Bareng Iwan Fals dan League ini menjadi rangkaian kepedulian penyanyi balada ini terhadap masalah lingkungan yang kini semakin terlupakan. Konser ini juga menjadi bagian dari promo album baru "Keseimbangan" yang dirilis pada tahun ini.
Untuk mengkampanyekan persoalan ini Iwan secara khusus memilih civitas akademika yang dinilainya lebih 'bersih' dan memiliki waktu luang lebih banyak. ''Bukan tak percaya pada politisi, tetapi pekerjaan mereka sekarang memang lebih banyak membodohi kita semua,'' ujarnya.
Tentang pilihannya ke kampus, Iwan juga memberikan lagi alasannya. ''kampus tempatnya intelektual muda dan saya optimis mereka bisa membawa negeri ini ke arah yang lebih baik, sesuai dengan visi kita bersama yaitu Keseimbangan Bumi League, Bumi Kita,'' ujarnya.
Selain bertandang ke kampus Al-Azhar, Iwan juga mendatangi almamaternya sendiri di IISIP. Lalu ia pun bergerak ke Paramadina, Budi Luhur, Fakultas Kehutanan IPB dan dijadwalkan menutup rangkaian kampus ke kampus ini di Institut Kesenian Jakarta pada sore nanti .
Dalam setiap kunjungannya ke kampus, Iwan mengawali lebih dulu dengan aksi tanam pohon. ''Kita sebenarnya ingin mengajak kepada generasi muda untuk menanam dan merawat pohon. Karena inilah yang terkadang sulit kita lakukan,'' ujarnya.
Yang unik dari konser ini, Iwan menjadikan bus yang dibawanya keliling kampus itu sebagai medium panggung. Artinya, secara tata panggung Iwan menampilkan kesederhaan dengan formasi gitar pada Totok Tewel, Edi Darome (keyboard), Heru Buhari (bass) dan Deni (drum).
Meski ia tampil ala kadarnya, tetap saja aksi panggung Iwan secara akustik tetap mampu menyedot perhatian besar para penggemar yang tergabung dalam wadah OI (Orang Indonesia) maupun penggemarnya dari masyarakat umum.
Saat tampil di kampus Al-Azhar, Iwan membawakan sebanyak sebelas lagu hits. Di antara lagu-lagu tersebut Iwan menyelipkan dua buah lagu yang berbicara soal lingkungan. Judulnya Pohon Untuk Kehidupan dan Hutanku. Keduanya adalah lagu yang terdapat di dalam album baru Keseimbangan.
Ramadhan
Iwan juga menyampaikan alasannya memilih kampanye ini di masa Ramadhan karena ia merasa kegiatan ini menjadi lebih maksimal lagi. Ia menyebut bagaimana Rasul pada masa hidupnya dahulu juga banyak melakukan perang kepada kaum kafir di masa Ramadhan.
''Sekarang kita memang tidak berperang, tetapi dari pengalaman Rasul itu menunjukkan bahwa Ramadhan adalah masa yang paling tepat untuk bisa melakukan sesuatu yang besar. Dan saya melihat kegiatan ini akan menjadi lebih bermakna lagi jika dilakukannya di masa Ramadhan,'' kata ayah tiga anak ini dengan penuh semangat.
Penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listanto ini juga ingin menunjukkan kepada semua penggemarnya bahwa menjalani puasa tidak harus dengan berletih lesu. ''Saya justru merasa di bulan puasa ini latihannya menjadi merasa lebih enak saja. Jadi kalau kita puasanya lemes-lemesan, ayo mulai sekarang kita ubah. Tetap semangat dalam berkarya,'' kata penyandang predikat Asian Heroes versi majalah Times ini. n mohammad akbar
Film Sang Pencerah, Refleksi bagi Generasi Muda Masa Kini
Menyaksikan film Sang Pencerah telah memberikan nilai tersendiri buat saya. Mengapa? Hadirnya film garapan Hanung Bramantyo ini setidaknya, sekali lagi buat diri saya sendiri loh, telah memberikan alternatif cerita dalam film bioskop kita sekarang. Hm, di tengah menjamurnya film-film berbau selangkangan atau film yang hanya menjual romantisme cinta remaja, Hanung ternyata mampu memberikan sebuah alternatif buat kita yang ingin mengenal lebih dalam tentang sosok pendiri Muhammadiyah.
Seperti apakah filmnya? Berikut ini saya coba berikan sedikit catatan dari saya tentang film ini....Semoga tak terusik yah
Apa yang telah Anda lakukan ketika usia masih 21 tahun? Pertanyaan dasar inilah yang coba hendak diberikan oleh Hanung Bramantyo ketika mengawali pembuatan Sang Pencerah. Sang Pencerah merupakan karya biografi pictures perdana dari sutradara kelahiran Yogyakarta 34 tahun silam ini. Sosok yang coba dihidupkannya ke dalam versi layar lebar itu adalah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Seperti apakah filmnya? Berikut ini saya coba berikan sedikit catatan dari saya tentang film ini....Semoga tak terusik yah
Apa yang telah Anda lakukan ketika usia masih 21 tahun? Pertanyaan dasar inilah yang coba hendak diberikan oleh Hanung Bramantyo ketika mengawali pembuatan Sang Pencerah. Sang Pencerah merupakan karya biografi pictures perdana dari sutradara kelahiran Yogyakarta 34 tahun silam ini. Sosok yang coba dihidupkannya ke dalam versi layar lebar itu adalah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Dalam film ini, Hanung tak hanya menghadirkan rangkaian kisah Dahlan semata. Tapi jauh yang lebih mengusik hatinya adalah Hanung sebenarnya ingin mengajak kepada generasi muda zaman sekarang untuk melihat seratus tahun ke belakang tentang sosok anak muda bernama Ahmad Dahlan.
Niat yang awalnya sangat sederhana untuk mengubah arah kiblat Masjid Besar Kauman ternyata memberikan dampak begitu besar bagi Kauman dan negeri ini. Muhammadiyah sebagai sebuah pergerakan pendidikan dan kesehatan berbasis pada umat Islam terlahir dari sebuah semangat juang yang telah dirintis oleh Dahlan sejak usianya masih 21 tahun.
Untuk membungkus cerita biopic ini Hanung menggarapnya secara istimewa. Dalam hal penulisan skenario, setidaknya Hanung membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk merampungkan ceritanya agar bisa menjual namun juga tetap terjaga berada dalam koridor ketokohan Ahmad Dahlan.
Memang, jika kita berkaca pada trend pasar film pada masa kini, cerita yang coba diberikan pada Sang Pencerah ini tidaklah terlalu menjual efek dramatis dari kisah percintaan tokoh yang ada di dalamnya. Sebutlah jika pembanding itu disejajarkan dengan Ayat Ayat Cinta yang juga digarap oleh Hanung. Tapi sebuah karya tentunya tetap memiliki aspek cerita yang unik. Dalam film ini Hanung sepertinya ingin lebih menekankan nilai-nilai keteguhan dari sosok Ahmad Dahlan dalam mewujudkan idenya.
Walau demikian ada beberapa hal yang mungkin akan memberikan perspektif baru buat Anda. Setidaknya hal ini bisa menambah perspektif warga Muhammadiyah dalam memandang Ahmad Dahlan. Dahlan, sosok yang tak banyak berbicara itu, ternyata juga piawai dalam memainkan biola. Kemampuan itu ia perlihatkan dalam mengajar. Hanung juga cukup apik menyelipkan sebuah edukasi -- jika itu tak mau disebut kritikan -- ketika ia menjelaskan makna agama.
Dahlan tidak memberikan jawaban tekstual seperti yang sudah biasa dijelaskan para ulama maupun kiai di kampungnya. Tapi ia mengawalinya dengan sebuah permainan biola dengan alunan musik yang begitu sentimentil dan halus. Lewat permainan biola tadi Hanung kemudian menjelaskan lewat sosok Ahmad Dahlan bahwa agama pada intinya memberikan orang yang merasakannya menjadi tentram, indah, dan nyaman. Dan semua itu tentunya harus berdasarkan pada ilmu.
Lalu dari barisan pemeran, Hanung memboyong para pemain terbaik yang ada di negeri ini. Sebutlah nama Slamet Rahardjo, Ikranegara, Sujiwo Tedjo, Sitok Srengege yang tak perlu lagi disangsikan kemampuan seni perannya di depan kamera. Para pemain berkualitas itu pun disandingkan dengan sosok-sosok muda seperti Lukman Sardi, Ihsan Tarore, Giring Nidji, Joshua dan Zaskia Mecca.
Dari semua pemeran tersebut rasanya patut diberikan penghargaan besar. Wabil khusus diberikan kepada Lukman Sardi. Putra dari Idris Sardi ini, seperti dalam film-film lainnya, selalu mampu menyelami setiap karakter yang dimainkannya. Dan pada karakter Ahmad Dahlan dewasa, Lukman bermain dengan begitu paripurna.
Sedangkan satu-satunya akting yang terasa mengganggu adalah Zaskia Mecca. Zaskia di film ini berperan sebagai Nyai Dahlan. Di film ini begitu terlihat jelas betapa istri dari Hanung Bramantyo ini tak bisa mengartikulasikan dialeg Jawa. Namun pada saat jumpa pers, Hanung berkata soal penampilan Zaskia. ''Dari pada harus dipaksakan lebih baik seperti itu saja,'' kata Hanung.
Selain aspek akting maupun cerita, Hanung juga dibuat kerja ekstra untuk bisa menghadirkan kembali suasana akhir 1800-an di sekitar Yogyakarta. Bagaimana hasilnya? Seperti di film Ayat-Ayat Cinta -- ketika itu Hanung mampu menduplikasi suasana Mesir dengan hanya mengambil setting lokasi shooting dari tanah air -- Hanung juga tetap piawai. Secara artistik, film ini patut diberikan penghargaan tinggi.
Jadi bagi Anda, terutama kaum muda yang memang menjadi pasar terbesar dalam industri perfilman Indonesia masa sekarang, tak ada salahnya untuk melangkahkan kaki menikmati film Sang Pencerah ini di layar bioskop. Karena film ini tak hanya sekedar propaganda tentang organisasi Muhammadiyah. Tapi Hanung lebih ingin mengajak generasi muda zaman sekarang untuk bisa merefleksikan kembali dirinya; apa yang sudah kita perbuat bagi negeri ini!
James F Sundah, Pembajakan Seperti Kanker
Membicarakan soal pembajakan dan keadilan hak cipta bagi musisi rasanya tak akan pernah lepas dari sosok yang satu ini. James F Sundah namanya. Ayah satu anak ini adalah pencipta lagu Lilin Lilin Kecil yang pernah dipopulerkan mendiang Chrisye dan September Ceria miliknya Vina Panduwinata. Sekian tahun bergelut dengan industri musik, begitu banyak catatan yang disimpannya.
Mulai dari persoalan pembajakan yang digambarkannya seperti penyakit kanker yang sudah masuk ke stadium lima sampai pada pembagian royalti yang masih belum berpihak kepada para pencipta lagu. Tapi adakah rasa putus asa pada diri lelaki kelahiran Semarang, 1 Desember 1955 ini? Berikut petikan wawancara wartawan Republika Mohammad Akbar yang menemui James di tengah kesibukannya mempersiapkan sebuah karya buat anak-anak, Jumat (20/8) malam lalu di Jakarta.
Seberapa parahkah masalah pembajakan ini terjadi di industri musik Indonesia?
Kalau kita melihat pembajakan (yang ada di Indonesia) sebenarnya sudah begitu mengerikan. Dari sisi industri banyak perusahaan-perusahaan yang berguguran. Lalu dari sisi pencipta lagunya, banyak dari mereka yang tidak bisa mendapatkan hak royaltinya.
Kalau diberi perumpamaan, masalah pembajakan ini sudah bagaimana?
Melihat kondisi yang ada sekarang, ketika kita sudah begitu permisifnya terhadap (barang-barang) bajakan karena memang tidak ada hukumannya yang tegas maka kalau ini diibaratkan sudah seperti penyakit kanker yang sudah masuk stadium lima. Mau dibersihkan sudah susah. Paling-paling yang bisa dilakukan adalah kita tinggal menunggu zaman baru saja.
Kondisi permisif itu sejak kapan mulai menguat?
Tanda-tanda itu sudah kita lihat sejak lima tahun belakangan. Masyarakat kita sudah begitu permisif terhadap pembajakan, di mana masyarakat sudah melihat pembajakan itu sebagai barang biasa. Penjualan-penjualan itu bahkan ada di depan pengadilan umum, kantor polisi, (kantor) Mahkamah Agung sampai depan istana sekalipun. Itulah fakta yang paling jelas bahwa negara tak mampu lagi melawan pembajakan.
Adakah angka yang bisa Anda sebutkan dari beredarnya barang bajakan di pasar?
Sepuluh tahun yang lalu kita (Pappri) punya data yang sifatnya mengira-ngira saja. Mengapa ini bisa terjadi karena untuk mendapatkan data yang resmi itu sungguh sulit. Ibaratnya seperti menentukan berapa banyak tabung gas yang bakal meledak. Ini semua sudah kacau luar biasa dan ini semua bermula dari transparansi dan lemahnya pengawasan sehingga tidak bisa lagi terdata (antara barang asli dan bajakan).
Anda punya rasio antara barang asli dan bajakan?
Dengan maraknya peredaran CD-CD kosong, ditambah lagi dengan banyaknya sentra (pembajakan) baru yg tidak hanya di Jakarta, lalu ditambah munculnya juga teknologi yang memungkinkan untuk dikerjakannya sebagai karya rumahan, kita membuat perbandingan kasar. Nah dalam perbandingan terakhir ini kita menghitungnya sudah sampai 1:200 plus 100. Artinya, satu karya original berbanding dengan dua ratus karya musik bajakan. Kemudian masih ditambah lagi dengan seratus keping CD porno.
Mengapa bisa demikian?
Jaringan pelaku pembajakan itu sama semua. Mulai dari musik, film sampai produk-produk film pornografi. Penjual CD bajakan itu, mulai dari atas sampai ke bawah (yang menjualnya) di lapak-lapak itu sama dengan pelaku penjual VCD porno. Jadi sebenarnya dengan hadirnya Undang-Undang Anti-pornografi itu sebenarnya sama juga tujuan akhirnya, yakni untuk bisa menghajar para pembajak juga. Hal ini semakin terlihat jelas dengan terungkapnya kasus video porno yang mirip artis (yang diduga melibatkan vokalis grup band Ariel Peterpan). Di sana ternyata banyak yang menjual lagu-lagunya tapi ada juga video pornonya.
Berbicara soal UU, bagaimana kondisinya di Indonesia?
Sebenarnya untuk peraturan kita sudah terlambat. Peraturan tentang Hak Cipta ini baru ada di indonesia pada 1982. Sementara industri musik itu sudah ada sebelumnya. Kalau sebelumnya kita masih pakai peraturan yang mengadopsi peraturan Auteurswet yang dibuat Belanda, sedangkan di situ masih sangat sempit (dalam mengatur) apa artinya pembajakan, plagiat, piracy, dan sebagainya. Sementara UU yang lama itu masih belum banyak yang bisa dipakai karena masih banyak adjustmen atau penyesuaian. Kemudian diamandemen pertama pada tahun 1987. Lalu sepuluh tahun baru dirubah lagi sampai 1997. Sementara UU itu sudah sangat terlambat. Baru munculnya UU yang terbaru yang diresmikan pada 2002. Nah selama saat itu sebenarnya sudah begitu banyak pelanggaran yang terjadi.
Konsekuensinya apa?
Akibatnya yang paling nyata, dalam hal ini negara, kalau tidak salah pada 2001 kita sudah langsung masuk sebagai negara ke dalam kategori priority wacth list. Itu yang menentukannya Barat seperti USTR (United Stade TRade Representative) dan itu gambaran yang memperlihatkan bahwa Indonesia adalah negara pembajak.
Akibatnya?
Sama seperti Indonesia yang dicap sebagai teroris. Karya-karya kita pun kalau mau bersaing di tingkat internasional langsung dicurigai sebagai karya piracy. Lalu yang kedua kita tak bisa mendapatkan software, pengetahuan-pengetahuan yang kelas satu seperti yang diperoleh oleh teman-teman kami di Malaysia atau Singapura yang menjadi negara terdekat kita. Sehingga ini menyebabkan bukan saja kita mengalami kehilangan hak ekonomi tapi secara berkarya pun kita mengalami hal yang tragis.
Secara ekonomi adakah contoh yang membuat musisi merasa dirugikan dengan maraknya pembajakan ini?
Sudah begitu banyak contohnya. Sehingga tidak mengherankan ketika ada beberapa nama teman kami (pencipta lagu), terkadang ada yang meninggal atau masuk rumah sakit tapi semua itu justru berakhir pada cerita-cerita tragis. Di antaranya seperti ada yang tak bisa bayar rumah sakit. Kami di Pappri sering mendapatkan fakta ada pencipta lagu yang dulunya sangat laris dan banyak mendapat awards ketika masa akhirnya justru mengalami cerita sampai tidak bisa dikeluarkan dari rumah sakit.
Mengapa pembajakan ini menjadi begitu menjamur di negeri ini?
Banyak faktor yang menyebabkannya. Tapi pembajakan juga terjadi dari sisi kultur. Banyak dari kita, misalnya saja ada seorang menteri, merasa senang bukunya dibajak. Begitu juga misalnya kiai, pendeta yang senang karyanya dibajak karena mereka menilai itu menjadi berkah. Nah tabrakan kultur semacam ini sangat mempengaruhi (menjamurnya pembakan itu di Indonesia).
Hal lainnya?
Terkait dengan penegakan hukum. Selama ini para pelaku pembajakan bisa saja bebas dan tidak divonis. Hal ini tidak (pernah) membuat jera para pelaku pembajakan. Sementara untuk membuat peradilan pembajakan ini begitu sulit karena sejauh ini prosesnya terlalu bertele-tele dan panjang. Nah seperti kita ketahui kalau prosesnya sudah begitu panjang maka biasanya para pelaku itu bisa saja bebas.
Soal disparitas harga?
Ya selama ini banyak disebut sebagai sumber terjadinya pembajakan. Saya sangat tidak setuju karena saya pernah melakukan kajian di universitas besar di Indonesia. Dari situ ternyata terlihat persoalan harga itu tidak semata-mata menyebabkan terjadinya pembajakan. Misalnya saja ada seorang mahasiswa yang ditawarkan diberikan sebuah pulpen milik dosennya dengan harga murah tapi ketika itu ditawarkan ternyata dia tidak berani untuk menerimanya. Begitu juga perumpamaan ketika ada seseorang yang dikasih motor dengan harga murah tapi dijelaskan ini adalah barang curian, mereka ternyata juga tidak berani untuk mengambilnya. Nah dari sini terlihat bahwa harga murah itu bukan penyebab terjadinya pembajakan.
Pernahkah dilakukan dengan membuat produk asli dengan harga murah?
Untuk mengatasi pembajakan itu, kita sebenarnya juga pernah membuat dengan menghasilkan karya-karya yang murah secara harga. Tapi tetap saja para pembeli mencari yang bajakan. Dalam hal ini sebenarnya tak ada yang bisa menangkap maknanya ketika itu dibandingkan dengan kasus penjualan motor curian atau pulpen tadi. Artinya apa, masalah harga ini berada di bawah. Faktor utamanya adalah bagaimana menegakkan peraturan terhadap barang-barang bajakan. Karena bunyi UU-nya berbunyi setiap pemakai, pembuat mereka bisa langsung ditangkap.
Sebenarnya adakah solusi untuk mengatasi pembajakan ini?
Kami dari Pappri pada 2002 sebenarnya pernah memberikan usulan lewat studi dari negara-negara yang sudah lebih dulu maju. Untuk mengawasi karya-karya digital di antaranya bisa dilakukan lewat advance code system. Di sini kita bisa menggunakannya untuk mengetahui berapa banyak sih karya-karya yang dibajak itu. Tapi herannya hal ini malah ditolak oleh industri (perusahaan rekaman).
Advance code system itu modelnya seperti apa?
Sistem ini berisi tentang data-data yang sudah benar prosesnya dan itu bisa diinjek ke dalam CD, mulai dari luar sampai dalamnya. Jadi ketika baran yang dipindai tidak mengeluarkan signal maka bisa kita sebut barang itu adalah haram sehingga bisa dimajukan ke pengadilan dengan cepat dan murah.
Penolakan itu apakah karena sistemnya yang mahal?
Untuk mendatangkan teknologi itu biayanya tidak terlalu mahal dibandingkan dengan estimasi angka yang hilang, yakni sekitar Rp2,7 miliar saja. Dan itu dikeluarkan oleh pemerintah. Itu nantinya bisa dikontrol dengan Departemen Keuangan karena berkaitan dengan pajak, dan itu stiker-nya hanya satu (semacam stiker cukai). Dan sistem itu bukan seperti yang ada sekarang, di mana laku atau tidak laku, striker-nya hanya itu-itu juga. Sehingga sangat memungkinkan terjadinya permainan di sisi record.
Apakah ini terkait pada persoalan dengan sulitnya mendapatkan transparansi penjualan produk yang ada di industri?
Yang pasti pembajak itu memang memanfaatkan kesenjangan informasi transparansi yang ada di kalangan industri. Sejauh ini memang sulit sekali buat para pembuat karya itu mengetahui berapa banyak karya mereka yang terjual oleh industri. Inilah yang kemudian sekarang ini tak ada angka resmi terkait dengan pembajakan. Apalagi untuk mendapatkan angka pembajakan, untuk mendapatkan angka penjualan original saja tidak bisa didapat. Inilah konsekuensi dari industri bintang yang hanya mengedepankan popularitas ketimbang karyanya.
Soal transparansi itu apakah sudah bisa teratasi dengan hadirnya penggunaan RBT sebagai 'jualan baru' di dunia musik?
Dari sisi teknolongi RBT ini memang bisa mengatasi pembajakan. Tapi lagi-lagi kalau kita bicara soal transparansi, report, dan sebagainya, semua itu masih belum berbeda. Bahkan lebih mengerikan. Sehingga bagaimana kita bisa dibuat terkejut-kejut, Bimbo yang lagunya banyak diputar di masa Ramadhan itu ternyata sangat kecil mendapatkan (royalti)-nya, hanya Rp115 dari Rp9 ribu dalam setiap kali aktifasi.
Dan yang lebih mengerikan lagi ketika meninggalnya Mbah surip. Padahal semua pakai karya Mbah Surip tapi ketika ia meninggal kita tak pernah mendapatkan informasi yang sebenarnya. Bahkan anehnya dari satu perusahaan ada bisa keluar dua report. Itu artinya kita belum sampai ke era digital yang sesungguhnya dan keadaan ini sebenarnya bisa menjadi bom waktu.
Berbicara soal royalti, sebenarnya bagaimana kondisinya di Indonesia?
Sejauh ini yang dibayarkan kepada para pencipta lagu itu sungguh kecil. Padahal awal dari sebuah krya lagu itu adalah penciptanya. Bahkan negara tetangga kita begitu miris terhadap kondisi yang kita dapatkan.
Berapa besarannya?
Pembagian royalti kepada pembuat lagu di Indonesia itu kecil, hanya 2,7 persen dari PPD (Pricicing Price to Dealer) atau harga eceran...Misalnya saja harga di toko kaset itu harganya Rp20 ribu maka harga yang ada di eceran itu bisa saja Rp15 ribu. Angka 2,7 persen itulah yang kemudian dibagikan lagi dari yang Rp15 ribu itu. Nah kalau di dalam album ini ada 12 lagu (dengan pencipta yang berbeda) maka akan dibagi lagi.
Di luar bagaimana?
Saat ini kita paling kecil di Asia. Di Taiwan itu sudah 3 persen pada 1998. Lalu di Malaysia sudah delapan. Sedangkan di Indonesia itu angka 2,7 persen ini telah berlaku dari 1998 sampai sekarag.
Mengapa bisa sampai kecil?
Banyak hal tapi salah satunya di Indonesia itu posisi produser itu tersamar dengan posisi produsen. Yang ada selama ini adalah produsen, bukannya produser. Sementara saya selalu membedakannya. Yang dinamakan produser musik itu adalah kami, bukan mereka (perusahaan rekaman yang memiliki modal disebut sebagai produser). Karena dalam UU Hak Cipta itu diatur pembagian buat produser. Saya sering mengujinya dengan bertanya siapa produsernya maka yang disebutnya adalah produser dari perusahaan rekaman A dan itu sebenarnya salah. Dalam hal ini sebenarnya ada zakat atau hak orang lain yang hilang karena di Indonesia yang namanya produser (musik) itu tidak jelas diakui.
Adakah usaha untuk mengubahnya?
Kami, dalam hal ini adalah Pappri, sebenarnya sudah duduk bareng dengan industri. Tapi sayangnya semua itu masih belum juga bisa tercapai.
Anda sendiri, sejauh ini masih mendapatkan royalti kan?
Ya sampai sekarang saya masih mendapatkannya.
Berapa?
Untuk lagu Lilin Lilin Kecil yang dulu pernah dibawakan Chrisye pada 1970-an saya mendapatkannya Rp35 ribu saja. Tapi kalau dari versi lain yang jumlah sudah mencapai 52 versi, termasuk juga lagu yang dibawakan Chrisye pada versi tahun 1990-an saya masih menerima royalti itu. Meski angkanya tidak beda-beda jauhlah.
Nah dengan kondisi pembajakan dan royalti yang belum berpihak itu, Anda masih tetap berkarya?
Meski pembajakan itu masih begitu kuat, kami sebagai pekerja kreatif terus untuk mencari cara dalam menyiasati pembajakan ini dengan cara lain. Memang jika melihat ke depannya, semua ini sangat sulit karena tak ada transparansi, kemudian juga para pelaku pembajakan masih sangat sulit untuk diadili, lalu sporadisnya wilayah pembajakan. Namun demikian kita tetap optimis. Pertama, Indonesia ini tak bisa disanggah lagi sebagai tempat lahirnya begitu besar akar musik dan semua ini belum tergali. saya yakin akan ada masanya, itu yang lagi kita buat terus.
Kalau kita memotong satu generasi maka itu kan membuang satu generasi yang ada sekarang. Tapi yang bisa kita lakukan sekarang ini adalah bagaimana menyiapkan generasi baru yang mengerti HAKI, norma, digital. Saya tetap yakin jika itu tercipta, mungkin hanya dalam satu regional kecamatan saja, maka pengaruhnya akan sangat besar buat negara ini.
Mengapa Anda begitu ngotot memperjuangkan hal ini, apakah ada rasa dizolimi?
Gabungan. Kalau terzolimi saya tipe orang yang menghormati pada kesepakatan. Jadi untuk kasus (UU Hak Cipta 1982 yang dikaitkan dengan lagu Lilin Lilin Kecil 1970-an), saya tidak merasa dicurangi. Tapi yang pasti saya ingin berbagi kepada generasi muda bahwa perjuangan ini jangan sampai terlupakan. Karena masih begitu banyak teman-teman kita yang menggantungkan hidupnya di industri ini. Sejauh ini perjuangan kita tidak hanya formal dengan cara datang ke DPR atau presiden tapi juga turun langsung ke bawah. Itulah sebabnya saya mengetahui kasus (distribusi penjual CD bajakan) yang mirip bintang (Ariel Peterpan) itu. Dan satu hal lagi saya ingin bisa menghapus stigma Indonesia sebagai negara pembajak.
Anda beberapa tahun lalu pernah terlibat pada penggarapan album SBY. Bisa Anda ceritakan adakah pembajakannya?
Untuk album SBY kemarin itu kami sebenarnya sudah menggunakan teknologi yang bisa memindai barang bajakan atau tidak. Hasilnya ternyata 1:2. Artinya satu CD asli berbanding dengan dua CD bajakan.
Bagaimana ketika SBY mengetahui albumnya dibajak?
Beliau hanya menghela napas. Dan kebetulan saat kami bertemu waktu itu ada Kapolri Sutanto, Menkumham Andi Matalatta, Andi Malarangeng, Jero Wacik, dan Hatta Rajasa yang waktu itu masih sebagai mensesneg. Waktu itu beliau hanya bertanya,''Wah bagaimana nih kepolisian.''
Label:
Industri Musik,
James F Sunda,
Mohammad Akbar,
Pembajakan,
RBT,
Royalti
Senin, 23 Agustus 2010
Deddy Mizwar Geram Sama Tayangan Religi?
Di awal Ramadhan lalu, saya berkesempatan bertemu dengan Deddy Mizwar. Banyak hal yang kami obrolkan. Termasuk di antaranya soal begitu banyaknya tayangan religi Islam yang ternyata masih banyak menyimpang dari nilai-nilai Islam. Dalam perbincangan itu, saya juga sempat menanyakan tentang maraknya produser non-Muslim yang menggarap sinetron religi Islami.
Mau tahu, hasil obrolan Deddy Mizwar dengan saya? Yuk...silahkan simak deh secara lengkap obrolan saya dengan Bang Haji. Oh ya, obrolan ini sudah pernah dirilis di Republika.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa saja kerisauan Anda terhadap tayang an religi saat ini?
Begitu banyak hal yang perlu dirisaukan terhadap tayangan religi kita sekarang. Terutama, yang menyangkut produser atau sutradaranya yang non-Muslim atau juga sutradaranya yang Muslim tapi pengetahuan agamanya masih sangat kurang. Harusnya ini ada pengaturannya. Selama ini mereka kan bukan untuk berdakwah. Mereka hanya berdagang saja. Apalagi, di masa Ramadhan ini, pasarnya sangat besar di televisi. Nah di sinilah perlu ada pengaturan, bagaimana ini kode etiknya, karena ini menyangkut agama. Kalau ini dibikin sembarangan bisa kacau.
Berapa persen tayangan religi yang dibuat produser non-Muslim?
Jumlahnya sangat besar. Paling sedikit 80-90 persen yang membuat tayangan-tayangan bernuansa religi itu adalah produser non-Mus lim.
Kalau sudah begitu, apa yang harusnya dilakukan?
Untuk itulah, rasanya ini harus ada konsultan [dalam pembuatan tayangan religi]. Kehadiran konsultan itu harus bertanggung jawab terhadapan konten kalau ada komplain dari masyarakat atau dari episode yang menyimpangkan agama, baik itu yang disengaja mau pun tidak disengaja.
Konsultan ini perannya hanya pada konten atau isi cerita, bukan pada eksekusi teknis. Mes ki bisa saja kontennya benar, tapi pada saat eksekusinya tak sedikit yang keliru. Itu bisa saja terjadi karena pengetahuan sutradaranya yang boleh jadi belum memadai dalam menafsirkan scene yang berisi nilai-nilai agama tadi.
Ini memang serba salah. Pasarnya menggiurkan, tapi pada satu sisi, kemampuan umat Islam, khususnya produser maupun pekerja yang ada, belum memadai untuk berbicara soal ini.
Bahkan, terkadang ada yang membuat atau men-judge itulah kebenaran. Padahal, sebenarnya bukan.
Siapa saja yang perlu dilibatkan sebagai konsultan?
Orang-orang yang harus mengerti agama. Dialah yang nantinya bertanggung jawab kalau ada apa-apa. Jadi,bukan sekadar nama. Untuk itu dia harus membaca skenarionya juga. Kalau ada kalimat yang keliru, atau ada contoh yang buruk tapi tidak dikasih solusi, maka di situlah tugasnya.
Hadirnya konsultan ini akankah membuat biaya produksi membengkak?
Ah, berapa sih biayanya, dibandingkan dengan apa yang mereka dapatkan dari segi bisnis.
Mengapa baru sekarang Anda mempersoalkan?
Wah, ini sudah lama. Saya sudah menyampaikan ini sejak lama. Dan, buat saya ini seba gai lahan amal saya dalam men-counter. Karena selama ini kan masyarakat yang selalu menjadi korbannya.
Adakah hal yang ‘menyentil’ sehingga sekarang Anda menyampaikan soal tayangan religi ini kepada KPI?
Saat itu, saya hanya menyampaikan kegelisahan itu saja, bahwa KPI memiliki wewenang untuk menegur atau menegakkan kode etik penyiaran atau kelayakan penyiaran. Di sana ada wewenang punishment. Nah, ini harusnya dilaku kan. Karena, kalau tidak dilakukan maka kita tidak akan pernah tahu mana yang bagus atau tidak. Apalagi, yang menyangkut tayangan religius. Selama ini, tayangan itu kayaknya bagus. Tapi, ternyata ada penyimpangan terhadap nilai agama. Bahkan, kita semua terkadang lupa karena kemasannya.
Adakah contoh sederhana tayangan religi yang tidak konsisten dengan isinya?
Misalkan saja ada contoh rumah tangga umat Islam. Kemudian, demi kepentingan dra matis, maka dibikinlah adegan dengan menggauli istrinya pada saat haid. Herannya, pada saat itu tidak ada penjelasan apakah itu boleh atau tidak, dan mereka hanya bertujuan untuk mengambil nilai kepentingan dramatiknya saja.
Bahkan, terkadang untuk membenarkannya, mereka hanya mengambil dalil untuk pembenaran dengan sepotong saja, untuk mendapatkan pembenaran bahwa hal itu memang boleh, karena istri harus taat dan harus patuh pada suami. Nah, di sinilah pentingnya konsultan itu. Dia harus bisa menjelaskan bagaimana seharusnya dalam Islam. Bahwa dalam kondisi itu, tidak bisa dipakai dan itu justru mengabaikan nilai-nilai islam. Dalam hal ini, konsultan juga harus bertanggung jawab.
Ada contoh lainnya?
Cukup banyak. Bahkan, selama ini kita juga banyak melihat sebuah sinetron Islam. Tapi, ketika harus beradegan suami istri, padahal mereka bukanlah pasangan mahramnya, mere ka justru bisa melakukan peluk-pelukan. Nah, di sini pengetahuan seorang sutradara itu dibutuhkan. Ini film Islam.
Jadi, dia harus tahu ba gaimana mengeksekusinya.
Kalau sudah begitu (peluk-pelukan –Red), bagaimana ini masih bisa disebut sebagai film Islam? Karena orang yang bermainnya ternyata harus dibuat maksiat.
Bagaimana dengan Anda?
Untuk produksi seperti Para Pencari Tuhan (PPT), sejauh ini kita melakukannya begitu. Saya selalu berusaha untuk selalu bertanya pa da yang mengetahui ilmu serta berusaha untuk ti dak membuat film religi Islam itu menjadi menyimpang pada eksekusinya.
Apakah dapat dikatakan bahwa secara umum tayangan religi yang ada sekarang hanya kamuflase?
Ya. Mereka lebih tepatnya hanya banyak men jadikannya sebagai barang dagangan saja. Nilai-nilai hakiki dari agama justru diabaikan.
Untuk itulah, perlu diatur kode etiknya. Pengaturan ini justru tidak untuk menguntung kan umat Islam saja, tapi begitu juga jika umat Kristen hendak melakukannya. Jadi, aturan ini bukan hanya untuk satu agama. Inilah yg namanya karya yang bertanggung jawab pada kontennya.
Tapi, mengapa produser non-Muslim bisa mendominasi? Adakah yang salah dengan produser Muslim?
Bukan karena itu persoalannya, tapi karena mereka (produser Muslim) tidak mau membuat atau justru tidak berkemampuan untuk membuatnya. Sementara mereka yang bisa menulis dalam artian mereka ‘bisa’, justru mereka itu bekerja pada produser yang bukan Muslim. Atau, produser Muslim itu sendiri yang tidak memiliki akses yang baik ke stasiun televisi. Atau, bisa saja mereka tidak punya kemampuan untuk membuatnya karena mereka merasa tak ada bahan yang bagus untuk dibuat.
O, ya. Soal fatwa haram terhadap infotainment, bagaimana Anda menyikapinya?
Saya sedih bukan pada infotainment sebagai format. Tapi, kesedihan saya itu justru lebih ter tuju pada isinya. Begitu juga dengan koran atau majalah. Kalau yang isinya selalu membicarakan soal ghibah dan fitnah, maka maaf ya, harus hentikan saja.
Tapi sampai sekarang belum ada realisasinya?
Inilah yang sering kita lupakan. Harusnya ini kan ada yang mengawasinya. Dan orang yang mengawasi ini punya wewenang untuk menegurnya, bahkan mengumumkan kepada khalayak ramai. Itulah punishment. Tapi, sayangnya fatwa MUI itu sekarang ini masih terpisah dengan KPI, sehingga sulit untuk mendapatkan kelanjutan fatwa tersebut.
Mungkinkan sebuah tayangan ( infotainment) itu diberikan label haram di televisi?
Ya, bisa saja, dengan menyebutkan ta yangan tidak halal. Dan, ini boleh saja. Seharusnya juga MUI bisa terus mengkomunikasikan ini kepada KPI sebagai lembaga pengawasan. Sekali lagi, ini tidak main-main, sehingga harus bisa disikapi juga. Karena, media itu bisa mempengaruhi cara berpikir semua orang.
Sekarang, istilahnya begini saja. Ada orang menjual babi. Nah, kalau ada orang Muslim yang datang ke sana, maka dia tahu itu makan an babi. Sehingga, jangan ke sana. Tapi, kalau ada yang mau makan babi, silakan saja. Na mun, buat yang Muslim, mereka tentu harus mengetahui hukumnya.
Begitu juga dengan infotainment. Jika ini su dah disebut sebagai tayangan haram, maka yang mau menontonnya boleh-boleh saja.
Tapi, sekali lagi mereka tentu paham juga bagaimana konsekuensinya jika tetap menonton.
Harus ada kejelasan (apakah) ini tayangan haram atau tidak. KPI harusnya juga bisa menindaklanjutinya. ed: harun husein
BIODATA
Nama: Deddy Mizwar
Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 5 Maret 1955
Agama: Islam
Istri: Giselawati Wiranegara
Anak: Zulfikar Rakita Dewa, Senandung Nacita, Gacia Kalila
Profesi: Aktor, sutradara, dan produser dari Citra Sinema
Jabatan: Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N)
Penghargaan:
- 25 penghargaan sebagai aktor dan sutradara terbaik dari berbagai festival. Mulai dari Festival Film Indonesia, Festival Film Bandung, Festival Film Jakarta, Bali International Film Festival, Indonesian Movie Award, sampai JIFFest.
- Tokoh Perubahan Republika 2007
Karya sinetron religi:
Mat Angin (2 season), Abumawas, Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat (3 season), Demi Masa, Para Pencari Tuhan, Rinduku Cintamu (25 episode)
Langganan:
Komentar (Atom)