Bung Utha, senyampang Bung masih berada di tengah kami, sebelum bumi menerima jasad dan Tuhan menyambut Bung kembali, izinkan kami bicara. Dunia sepertinya sudah tua, Bung. Lihatlah. Seolah kematian makin akrab. Seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa*.
Dua hari lalu, seniman Sunda, Darso. Kemarin Bung dijemput-Nya dari kami semua. Bung, tiga bulan lalu kami semua terenyak membaca berita. Dalam sebuah perjalanan mulia, silaturahim mengunjungi saudara ke Pekanbaru, Bung terkapar dihajar stroke. Juni lalu itu pun membuka fakta yang sebelumnya mungkin tak pernah Bung duga.
Aktivitas dan tanggung jawab yang padat serta kerinduan untuk selalu memberi sesuatu pada dunia seni negeri ini membuat Bung mengesampingkan kenyataan betapa ringkihnya kita sebagai manusia. Saat pemeriksaan itu, terkuak bahwa Bung pun mengidap diabetes dan gangguan jantung. Belum lagi sebab yang membuat Bung terkapar itu: penyumbatan pembuluh darah.
Setelah itu, Bung diminta-Nya bersabar dengan kelumpuhan di sisi kanan tubuh. Dan, kami melihat Bung begitu sabarnya. Mungkin terilhami lagu yang sering Bung nyanyikan, "Tuhan pun tahu hidup ini sangat berat. Tapi, takdir pun tak mungkin selalu sama."
Di mata kami, Bung terlihat begitu rela. Tetapi memang, bagaimana tidak. Di usia 56, puncak kiprah seorang manusia, Bung telah menorehkan banyak catatan bersejarah. Bermula pada 1981, saat menyanyikan "Tembang Pribumi" karya Christ Kayhatu dalam Lomba Cipta Lagu Remaja, nama Bung mulai dilirik publik musik. Setelah itu, yang ada hanya prestasi.
Bung meraih gelar Penampilan Terbaik Kedua pada ASEAN Pop Song Festival 1989 di Manila. "Sesaat Kau Hadir" yang Bung bawakan juga menjadi lagu terbaik di festival itu. Bung jugalah Sang Juara II Asia Pacific Singing Contest di Hong Kong (1989), Juara Kedua Asia Pacific Broadcasting Union/ ABU Golden Kite World Song Festival di Kuala Lumpur (1990), saat berduet dengan Trie Utami.
Andil Bung dalam dunia musik Indonesia pun tak ternafikan dengan belasan album yang Bung terbitkan. Bung, kami bisa belajar dari optimismemu. Dalam keharusan operasi tempurung kepala, kami dengar kau tak kehilangan gembira. Kita tahu, operasi itu yang membuatmu beralasan meninggalkan kami kemarin, Rabu (13/9).
Biarlah luka itu justru akan jadi penanda pertemuan kita nanti. Tak hanya raut muka. Bahkan kelihatan bekas luka, dekat kening. Kami tahu, Bung tak memaksakan diri. Untuk pergi meninggalkan** kami.
*Dari "Dan Kematian Makin Akrab", puisi Subagio Sastrowardoyo. ** "Maaf", lagu Utha Likumahuwa
Kamis, 04 Agustus 2011
Beradu Kuat Merebut Film Hollywood
Film Hollywood jika digambarkan layaknya gula yang selalu menjadi incaran para semut. Gara-gara daya pikat film-film blockbuster dari negeri Paman Sam itu, kini perseteruan para pebisnis perbioskopan Tanah Air telah terpantik untuk saling merebut untung.
Perseteruan para pengusaha itu ternyata juga membawa pemerintah ke pusaran konflik. Presiden Komisaris Blitz Megaplex, AM Hendropriyono, menuding, pemerintah -- dalam hal ini Kementerian Budaya dan Pariwisata -- telah berperan dalam melanggengkan praktek monopoli.
Jika sebelum diboikotnya pemutaran film Hollywood di Tanah Air, klaim monopoli mengarah pada 21 dan XXI. Pengakuan ini sempat diakui oleh Menbudpar Jero Wacik pada jumpa pers yang dilakukannya pekan lalu di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
''Dulu memang (dikuasai) 100 persen. Tetapi sekarang 21 dan XXI hanya (menguasai) 80 persen saja (distribusi film impor),'' kata Jero Wacik.
Tapi setelah keran film Hollywood kembali dibuka -- hal ini ditandai dengan diputarnya film Transformers: Dark of the Moon dan Harry Potter and the Deathly Hallows Parts-2 -- masalah monopoli tetap saja menjadi kata yang tak pernah hilang dalam setiap perbincangan.
Tudingan monopoli itu muncul karena PT Omega -- perusahaan yang telah mendapat kepercayaan sebagai mitra major studio Hollywood -- dinilai masih satu baju dengan 'pemain lama' yang pernah melakukan praktek monopoli.
Raam Punjabi, produser dari Multivision Plus, mengatakan PT Omega dan 21 itu masih sama. Ia mengungkapkan, dirinya sudah pernah melakukan negosiasi dengan pihak MPAA (Motion Pictures Association of America).
''Dari pertemuan itu MPAA hanya mau memberikan film-filmnya kepada agennya yang memiliki gedung bioskop yang banyak saja. Nah itu artinya Omega dan 21 itu sudah ada satu bukti,'' ujarnya.
Namun tudingan Raam itu ditampik oleh Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Djonny Syafruddin. Ia menyangkal jika praktek monopoli masih dilakukan oleh pemain lama.
Meski demikian Djonny mengakui untuk kepemilikan bioskop saat ini masih didominasi oleh pihak 21. Dari sekitar 676 layar yang tersebar di 210 bioskop, pihak 21 menguasai hampir 80 persen. Lalu Blitz memiliki sekitar 37 layar. ''Tapi Blitz bukan anggota kami,'' cetus Djonny.
Sedangkan dari pihak Blitz memberikan data yang berbeda kepada Republika. Dari tujuh lokasi, jumlah layar keseluruhan sebanyak 66 layar.
Nah mengapa persoalan dugaan monopoli ini bisa menjadi buah bibir yang begitu sengit dibahas? Ilham Bintang dalam sebuah percakapan kepada Republika pernah membeberkan gepokan rupiah yang berhasil diraup dari pengusaha bioskop ketika memutar film Hollywood.
Ilham mengungkapkan sepanjang tahun lalu pemasukan hasil penjualan tiket penonton bioskop nasional yang diterima dari penayangan film asing di Indonesia nilainya mencapai Rp780 miliar. Jumlah tersebut berasal dari 65 judul film.
''Tapi dari jumlah tersebut, pemerintah ternyata hanya mendapatkan penerimaan dalam bentuk pajak bea masuk sekitar Rp5 miliar saja,'' ujarnya.
Data itu juga kian diperkuat lagi ketika film-film Hollywood tidak ada diputar di bioskop nasional sekitar lima bulan terakhir. Pada periode tersebut, Djonny mengakui, telah terjadi penurunan pemasukan. Ia mengambil sampel di Jakarta. Penurunannya, kata dia, mencapai 60 persen.
Angka itu menyitir dari data Dinas Pendapatan Daerah Jakarta. Pada Januari pendapatan bersih pajak hiburan khusus dari bioskop di Jakarta mencapai Rp3,9 miliar. Angka itu didapat sebelum film Hollywood absen di bioskop nasional.
''Sedangkan pada Juni, angka yang didapat hanya ada sekitar Rp 1,8 miliar saja. Itu artinya film asing memang masih lebih menguntungkan dibanding film lokal bagi para pengusaha bioskop,'' ujar Djonny dalam perbincangannya melalui saluran telpon kepada Republika.
Grup band legendaris Indonesia, God Bless, berhasil membius ribuan penonton Java Rockin'Land di Pantai Karnaval, Ancol, Sabtu (23/7) malam. Dalam aksi panggungnya tersebut, God Bless untuk kali pertama sejak 28 tahun melantunkan kembali lagu Cermin ke hadapan para penggemarnya.
''Lagu ini terakhir kali kita bawakan pada 1983. Ini spesial buat Anda semua yang ada di sini,'' kata Ahmad Albar, vokalis God Bless, saat tampil di atas Gudang Garam Intermusic Stage.
Saat manggung, God Bless hadir dengan membawa formasi Ahmad Albar sebagai vokalis. Lalu ada Ian Antono (gitar), Donny Fattah Gagola (bass), Yaya Moektio (drums) serta Abadi Soesman (keyboard).
Sementara itu untuk lagu Cermin, lagu tersebut menjadi salah satu singel yang terselip di album kedua God Bless dengan judul yang sama seperti singelnya. Album tersebut disebut-sebut sebagai album yang kaya estetika secara musikalitas, namun kurang mendapat respons besar secara penjualan.
Dalam sebuah artikel di laman wikipedia diklaim bahwa album Cermin ini hadir sebagai karya yang melawan arus industri musik saat itu. Benang merah musik yang mereka usung ketika itu adalah rock progresif.
Sebagai momentum pertama, God Bless juga mengemas lagu Cermin ini secara eksploratif. Mereka juga tampil dengan sokongan choir yang berjumlah 16 pieces. Meski masih terlihat gahar secara musikalitas, namun usia para personelnya yang telah melampaui separuh abad tetap menjadi salah satu kendala untuk menghibur di atas panggung.
Selain Cermin, God Bless juga menghadirkan salah satu karya dari proyek Gong 2000 berjudul Bara Timur. Saat membawakan lagu ini, God Bless memboyong seniman asal Bali, I Gusti Kompyang Raka. Kolaborasi ini diperkaya juga dengan aksi tari barong Bali. Secara penampilan, kolaborasi etnik ini kian mempertegas bahwa God Bless masih tetap mengakar karya-karyanya pada kearifan budaya lokal.
Selain kedua karya masterpieces tersebut, God Bless juga menghadirkan lagu-lagu terbaiknya seperti Semut Hitam, Panggung Sandiwara, Syair Kehidupan, hingga "N.A.T.O. (No Action Talk Only)". Lagu terakhir ini merupakan salah satu repertoar yang ada di album terbaru God Bless, 36th, yang dirilis tiga tahun silam.
Suara koor massal dari ribuan penonton melantun bersama di tengah semilir angin malam yang terasa mengigit tulang. ...In your head, in your head, zombie, zombie, zombie...
Lantunan massal itu melafalkan sepenggal refrain dari lagu Zombie milik grup band The Cranberries. Ya, grup rock asal Irlandia yang dimotori oleh Dolores O'Riordan (vokal), Noel Hogan (gitar), Mike Hogan (bass), dan Fergal Lawler (drum) itu telah membuhulkan sihirnya ke hadapan ribuan penggemarnya yang memadati Pantai Carnaval Ancol, Jakarta, Sabtu (23/7) malam hingga Ahad (24/7) dinihari WIB.
Malam itu, Cranberries menjadi magnet yang dinanti dari perhelatan Java Rockin'Land 2011. Penampilan Dolores dkk itu menjadi istimewa. Konsernya di Jakarta kali ini menjadi buah dari ikhtiar hasil islah mereka setelah terpisah enam tahun lamanya. Dalam 'bahasa kerennya', konser Cranberries di Jakarta malam itu menjadi rangkaian tur reunifikasi Cranberries.
Zombie hanyalah satu dari sekitar 19 lagu yang dilantunkan oleh personel Cranberries di atas Gudang Garam Intermusic Stage -- salah satu panggung utama pada gelaran Java Rockin'Land 2011. Sambutan yang begitu bergemuruh dari para penonton terhadap lagu Zombie ini bisa dimahfumi. Lagu yang terselip dari album kedua Cranberries, “No Need to Argue” (1994), ini adalah salah satu singel yang telah melambungkan nama mereka ke peta industri musik dunia. Mereka dikenal melampaui batas negaranya sebagai pengusung aliran alternatif rock.
Meski liriknya berisi refleksi terhadap perang yang melanda Irlandia pada abad ke-20, namun para pemujanya tak pernah galau untuk melantunkan Zombie. Zombie di sini dapat diartikan sebagai hujatan terhadap para pelaku dari peristiwa bersejarah di negara mereka, The Troubles. The Troubles ini merupakan periode konflik etno-politik yang terjadi di Irlandia Utara sejak 1969 dan baru berakhir setelah 29 tahun kemudian.
Saat melantunkan Zombie, Dolores juga mempertontonkan kepiawaiannya memainkan instrumen gitar. Ia tak alpa pula untuk berjingkrakan dan mengitari panggung. Meski usia telah menggerusnya, namun vokalis kelahiran 6 September 1971 itu tetap terlihat powerfull untuk menghibur para pemujanya.
Untuk konsernya kali ini, ada sedikit hal yang berbeda dari aksi panggung Cranberries, khususnya Dolores. Di era 1990-an -- ketika lagu Zombie itu tengah booming -- perempuan bernama lengkap Dolores Mary Eileen O'Riordan ini lebih percaya diri dengan penampilan rambut cepak dan warna rambutnya yang dicat kekuningan.
Tapi dalam konser reunifikasinya kali ini, rambut Dolores sudah terlihat berbeda. Rambutnya terlihat sedikit memanjang sampai batas leher dengan warna hitam. Sedangkan ciri khas lainnya, seperti sepatu boot, masih tetap ia kenakan ketika tampil di atas panggung.
Menyaksikan Cranberries rasanya wajar jika perhatian lebih banyak tertuju pada sosok Dolores. Selain satu-satunya perempuan, karakter vokal Dolores juga menjadi ciri khas yang unik dari Cranberries. Sedangkan saat melantunkan singel Salvation, ia juga menyita perhatian ketika mengenakan topi ala suku Indian. Ia berlari ke setiap sudut panggung sambil mengajak para pemujanya untuk terus melantun bersamanya.
Selain membawakan Zombie, Cranberries juga menyuguhkan semua lagu hits mereka yang termaktub di lima album terdahulunya. Ada Linger yang menjadi singel hits dari debut album mereka, “Everybody Else Is Doing It, So Why Can't We?”.
Lalu, ada juga Ode to My Family, I Can't Be With You, Ridiculous Thoughts, dan Dreaming My Dreams yang mengisi album kedua. Selanjutnya lagi ada Salvation, Free to Decide, Analyse, Animal Instinct, Promises serta sebuah lagu berjudul Tomorrow yang menyisip di album terbaru Cranberries, Roses.
Sejak awal perkembangannya, orkes gambang bukan sekadar musik pengiring para penyanyi, atau dipergelarkan layak orkes simfoni, tapi sering dimainkan sebagai musik latar pertunjukan teater dan pengiring tarian (ngibing).
Teater pertama bukan lenong Betawi seperti kita kenal saat ini, tapi sandiwara Cina. Pemainnya adalah pria dan wanita belum dewasa, atau di bawah umur. Tidak ada catatan ba gaimana teater itu dimainkan. Phoa Kian Soe hanya mengatakan, teater dimainkan dalam bahasa Tionghoa.
Cerita yang ditampilkan kebanyakan dari daratan Cina. Salah satunya, dan merupakan cerita silat, adalah Sie Djin Kwi Tjeng Tang. Kian Soe juga tidak menyebut cerita-cerita lainnya, karena pada 1940-an tidak ada lagi yang mewarisi. Lenong Tionghoa, sebut saja begitu, relatif telah hilang dari panggung pertunjukan masya rakatnya, karena hampir tidak ada upaya menelusuri dan menemukannya kembali. Terlebih, masyarakat peranakan Tionghoa yang lahir di pertengahan abad ke-19 relatif mulai meninggalkan bahasa leluhurnya.
Lenong Betawi baru muncul di penghujung abad ke-19, dan berkembang di awal abad ke-20. Almarhum Firman Muntaco mengatakan, lenong Betawi bukan adaptasi dari Cina, tapi teater stambul.
Menjadi Gambang Kromong
Sejarawan Betawi mengenal Oey Tamba Sia sebagai playboy yang mati di tiang gantungan dan relatif mengabaikan peran sang letnan dalam bis nis suhian di Batavia. Suhian adalah rumah plesir atau tempat hibur an–ti dak beda dengan coffee house atau diskotek saat ini.
Namun, kata suhian hanya digunakan untuk rumah plesir biasa, bu kan milik para orang kaya. Rumah ple sir milik letnan, mayor, atau kapi ten, disebut empang atau kebon. Ti dak ada keterangan mengapa kedua kata digunakan untuk rumah plesiran.
Yang pasti, Bintang Mas–rumah plesir yang didirikan Oey Tamba Sia di Ancol– dikelilingi empang. Mayor Tan Eng Goan, pesaing serius Tamba Sia, membuat rumah plesir di Kebon Baru, yang diberi nama Kebon Mayor.
Di penghujung abad ke-19, sejumlah suhian berdiri di Pasar Baroe, Tanah Abang, dan Pasar Senen. Tan Wang Wee, salah satu pebisnis suhian pascaera Oey Tamba Sia, mengelola rumah plesiran di Senen.
Setiap suhian memiliki kelompok pemain orkes gambang dan beberapa penyanyi serta gadis-gadis yang siap diajak ngibing. Bagi pemain gambang, menjamurnya suhian adalah lahan pekerjaan paling menarik.
Akibatnya, muncul kelompok-kelompok orkes gambang, tidak hanya dari kalangan Tiong hoa tapi juga pribumi. Persaingan antarkelompok orkes gambang tak terhindarkan. Per saing an inilah yang memicu revolusi musim orkes gambang.
Revolusi paling berani dilakukan Teng Tjoe, seorang kepala permukiman (wijkmeester)– sering pula disebut bek– Tionghoa, pada 1880. Ia memasukkan unsur kemong, kempul, gendang, dan gong, ke dalam orkes gambang, dan dimainkan di suhian milik Tan Wang Wee.
Orkes gambang tidak lagi mendayudayu, tapi dinamis. Pukulan gen dang khas Sunda memprovokasi pengunjung suhian untuk turun me nari, wanita penghibur dan tjio kek meng ikat kan cukin (selendang–Red) seba gai tanda mengajak pengunjung untuk menari.
Sejak saat itu masyarakat tidak lagi menyebutnya orkes gambang, tapi gambang kromong. Kelompok Teng Tjoe tak pernah sepi panggilan dari satu ke lain suhian. Puncak popularitasnya terjadi ketika kelompok Teng Tjoe tampil pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Sukses eksperimen Teng Tjoe di Pasar
Senen memprovokasi Nam Ho, seorang
bek di Tanah Tinggi, mela kukan hal
serupa. Ia memasukkan unsur baru,
yaitu menabuh mangkok Cina yang diisi
air. Eksperimen ini juga menarik perha -
tian, tapi sulit dimainkan di tempat
terbuka.
Di Kwitang, Tjoe Kong Koen melakukan eksperimen lain. Ia memadukan gambang kromong dengan piano dan menyebutnya gambang piano. Eksperimen ini sempat mena rik perhatian penikmat musik saat itu, tapi tidak lama.
Booming suhian dan keberanian pelaku permainan orkes gambang melakukan eksperimen, tak luput dari perhatian masyarakat Tionghoa kelas atas di Batavia. Mereka menyebut gambang kromong sebagai orkes gambang liar. Para panjak, atau pemain gambang kromong, dituding telah merusak kaidah asli orkes gambang.
Akibatnya, menjadi panjak bukan lagi profesi terhormat. Bahkan, menurut Kian Soe, nyonya terhormat menyebut panjak sebagai setan su hian. Di sisi lain, suhian bukan lagi sekadar rumah plesir para orang ka ya untuk mendengar penyanyi ‘piaraan’-nya beraksi, tapi berubah menjadi tempat prostitusi.
Perempuan pribumi dari desa-desa di pinggir Batavia, tanpa kemampuan menyanyi, datang mengisi suhian dan menjadi teman ngibing dan menjual tubuh. Pelanggannya bukan lagi babababa, atau orang-orang kaya, tapi anakanak muda kelas menengah Tionghoa.
Kalangan kelas menengah atas masyarakat Tionghoa merespons situasi ini dengan melarang anak-anak mereka bermain musik. Mereka menyebut pemain gambang kromong bermoral rendah, dan tidak tahu malu. Masih banyak lagi kata-kata tak sedap disematkan kepada pemain gambang kromong saat itu.
Reaksi itu tidak menghentikan perkembangan gambang kromong sebagai musik populer. Gambang kromong perlahan tapi pasti mengubur eksistensi orkes gambang dengan suara tjiokek-nya yang mendayu-dayu, dan meminggirkan pemainnya.
Kalangan generasi tua Tionghoa tidak diam. Kian Soe mencatat tahun 1913, sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa di Batavia; Boe Gie Hong, Tan Tjoen Hong alias Endong, Lim Tjio San alias Serang, Tan Jan Tji, dan masih banyak lagi, menemui Khoe Siauw Engsekretaris Majelis Kongkoan Batavia.
Mereka menyampaikan kegundahan akan terpinggirkannya orkes gambang, akibat serbuan gambang kromong. Lagu-lagu orkes gambang tidak lagi dimainkan dengan kaidah yang benar dan sesuai partitur, tapi dirusak sedemikian rupa.
Khoe Siauw Eng, yang memahami orkes gambang dengan baik, merespons positif pengaduan mereka. Ia menyediakan diri untuk diangkat sebagai pemimpin kelompok orkes gambang Ngo Hong Lauw, mendirikan klub, dan mengampanyekan pentingnya melestarikan orkes gambang.
Upaya Siauw Eng tak sia-sia. Siauw Eng memanfaatkan popularitasnya sebagai sekretaris Majelis Kongkoan untuk menghimpun anggota klub, dan berhasil. Ketika anggota klub sedemikian banyak, Siauw Eng memindahkan tempat permainan orkes gambang ke gedung yang lebih besar.
Setiap pekan, atau pada hari-hari tertentu, Siauw Eng dan para penggede Tionghoa di Batavia berkumpul untuk menikmati orkes gambang, dengan la gu-lagu yang dimainkan sesuai kaidah aslinya. Namun, hanya itu yang bisa dilakukan Siauw Eng. Ia tidak bisa melebarkan sayapnya, dengan membentuk perkumpulan lain di beberapa tempat.
Entah sampai berapa lama orkes gambang kembali populer sebagai mu sik kelas menengah ke atas. Di sisi lain, gambang kromong kian mapan se bagai musik kelas menengah ke ba wah. Tidak lagi melulu dimainkan masyarakat Tionghoa, tapi juga pribumi.
Ngo Hong Lauw melewati dua masa krisis; kematian Siauw Eng dan pendudukan Jepang. Mereka bisa melewatinya berkat bantuan keuangan Tan Liauw Lioe dan Nio Djit Seng. Selepas tahun 1960, orkes gambang warisan Tionghoa Batavia benar-benar telah punah akibat tidak adanya regenerasi.
Sedangkan gambang kromong kian mapan dan mapan, dan pada 1970-an mencapai puncak keemasannya dengan munculnya Benjamin S, Ida Royani, Lilis Suryani, dan lainnya. Sebagai musik rakyat, gambang kromong menunggu inovasi baru dan eksperimen kreatif pelakunya.
(dikutip dari naskah Teguh Setiawan di Rubrik Teraju-Republika)
Maksum (52), penyanyi gambang kromong asal Bekasi, menghabiskan setengah usianya untuk kelestarian kesenian yang diklaim milik masyarakat Betawi. Ia hafal hampir seluruh lagu gambang kromong modern, terutama lagu-lagu Benyamin S, Ida Royani, dan Lilis Suryani, tapi tak mengenal seluruh lagu yang jauh lebih tua.
“Waduh, kalo untuk lagu-lagu klasik mungkin yang bisa hanya Masnah Pang Tjin Nio,” katanya kepada Republika saat ditemui pada perayaan Pecun di Tangerang, beberapa waktu lalu.
Kosim Balada (54), pemilik gambang kromong Lenong Mini (Bang Lemin), menga ku masih mengenal beberapa repertoar klasik dan lagu lama kesenian ini. Ia tahu “Pobin Kong Ji Lok”, “Pobin Po Pan Tau”, tapi tidak tahu belasan lainnya.
Yang ia tahu, pobin—repertoar yang dimainkan pada masa awal orkes gambang, sebutan lain untuk gambang kromong—adalah musik sakral masyarakat Tionghoa. Ia coba melestarikan beberapa dengan memasukkannya ke elekton.
“Untuk lagu-lagu klasik yang saya hafal adalah ‘Kramat Karem’, ‘Gula Ganting’, ‘Mas Nona’, dan lainnya,” ujar Kosim.
Maksum dan Kosim adalah generasi terakhir gambang kromong. Maksum relatif bisa memainkan satu atau dua alat musik tradisional peranakan Tionghoa Be tawi itu. Sementara Kosim hanya penyanyi dan tidak berupaya belajar memainkan alat musik.
Keduanya, seperti kebanyakan pemain gambang kromong di sekujur Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, tidak banyak mewariskan lagu-lagu dan repertoar klasik. Bahkan, Smithsonian Folkways hanya bisa merekam dua pobin: “Kong Ji Lok” dan “Po Pan Tau”, dan memopulerkannya di Youtube.
Wikipedia sedikit lebih maju dengan mencatat sejumlah pobin: seperti “Kong Ji Liok”, “Sip Pat Mo”, “Poa Si Li Tan”, “Peh Pan Tau”, “Cit No Sha”, “Ma Cun Tay”, “Cu Te Pan”, “Cay Cu Teng”, dan “Cay Cu Siu”. Sedangkan lagu klasik (dalem) yang tercatat relatif baru. Sebut sa ja: “Centeh Manis Berdiri”, “Mas No na”, “Gula Ganting”, “Semar Gu nem”, “Gula Ganting”, “Tanjung Bu rung”, “Kula Nun Salah”, dan “Mawar Tumpah”.
Sedangkan lagu-lagu pop (sayur), yang relatif telah menjadi klasik adalah “Jalija li”, “Stambul”, “Centeh Manis”, “Surilang”, “Persi”, “Balo-balo”, “Akang Haji”, “Renggong Buyut”, “Jepret Payung”, “Kramat Karem”, “Onde-onde”, “Gelatik Ngunguk”, “Lenggang Kangkung”, dan “Sirih Kuning”.
Tidak ada keterangan tahun penciptaan lagu-lagu di atas. Seolah lagu-lagu itu, pobin maupun lagu klasik, telah ada begitu saja dan telah sedemikian lama.
Evolusi
Gambang kromong yang kita kenal saat ini telah mengalami evolusi selama lebih 200 tahun. Sebagai seni musim pertunjukan, gambang kromong serangkaian dimodifikasi. Ketika keluar dari lingkung an elite masyarakat Tionghoa Batavia, gambang kromong menjadi permisif terhadap inovasi baru.
Ketika gambang kromong kali pertama dimainkan masyarakat Tionghoa Batavia pada 1743, etnis Betawi belum ada. Menggunakan studi Lance Castle, antropolog Dr Yasmine Zaki Shahab MA memperkirakan etnis Betawi baru terbentuk antara 1815-1893.
Sensus Pemerintah Hindia-Belanda tahun 1893 menunjukkan lenyapnya sejumlah suku bangsa yang pernah mendiami kawasan pinggiran Kota Batavia: Moor, Jawa, Sunda, Sumbawa, Ambon, Banda, dan Melayu. Sebagai gantinya, sejumlah penduduk menyebut diri sebagai Betawi. Pada sensus 1930, Pemerintah Hindia-Belanda memunculkan kategori baru dalam lembar sensus, yaitu orang Betawi.
Catatan terakhir mengenai evolusi gambang kromong terdapat dalam majalah Pantjawarna—majalah pengganti mingguan Sin Po, yang tidak terbit sejak kedatangan Jepang—edisi 9 Juni 1949. Catatan itu berupa artikel hasil wawancara dengan Phoa Kian Soe, penulis naskah film dokumenter: “Anak Naga Beranak Naga, Gambang Kromong: Akulturasi Budaya Tionghoa Betawi”.
Dalam artikel itu, Kian Soe bertutur bagaimana dia harus mengitari Tangerang, Bekasi, dan sekujur Jakarta untuk menghimpun data soal gambang kromong dan repertoar klasiknya serta mencari tahu sejarah perkembangan kesenian itu dari masa ke masa. Ia mewawancarai pemain gambang kromong yang telah lanjut usia, tapi masih memiliki ingatan kuat.
“… saja telah bisa dapetken noot dari lagoe-lagoe, jang kebanyakan dari pemaen-pemaen orkest gambang djeman sekarang tida mengarti, terketjoeali marika jang paham hoeroef Tionghoa,” tulis Kian Soe.
Menurut Kian Soe, tidak ada yang tahu kapan orkes gambang—demikian kesenian ini kali pertama disebut—dimainkan. Cerita yang dituturkan orang-orang tua menyebutkan kesenian ini kali pertama diperkenalkan saat menyambut kembalinya Kapiten Nie Hoe Kong.
Nie Hoe Kong adalah tokoh pemberontakan di dalam Kota Batavia tahun 1740, yang menyebabkan pembantaian lebih 10 ribu Tionghoa. Ia dibuang ke Makassar oleh Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier. Pada 1743, Gubernur Jenderan Baron van Imhoff membebaskannya.
Lim Beng, panitia penyambutan, mengumpulkan lima perangkat orkes gambang. Setiap perangkat terdiri atas soekong, hosiang, thehian gihian, kongngahian, sambian, soeling, pan (ketjrek), dan ningnong. Saat itu, instrumen gambang belum masuk karena masya rakat Tionghoa masih mencari Yang Khim—alat musik khas tradisional Cina yang biasa dikombinasikan dengan soekong, hosiang, thehian, dan gihian. Mereka yakin kelak akan ada pendatang baru dari daratan Cina yang membawa Yang Khim.
Harapan tinggal harapan, alat musim itu tak pernah singgah di Batavia. Di luar tembok kota, gambang telah dimainkan sebagian masyarakat Tionghoa, tapi dengan cara berbeda. Menurut Kian Soe, di tangan orang Tionghoa dan pribumi sekitar, suara menjadi tidak halus, dan dimainkan di luar kaidah musik tradisional Jawa.
Tidak diketahui kapan gambang mulai menjadi bagian permainan musik Tionghoa di kota Batavia. Yang pasti, alat musik ini mulai coba dikombinasikan dengan soekong, thehian, kongahian, pan, sambian, dan gehian, setelah masyakat Tionghoa lelah menunggu Yang Khim.
“Pemaen-pemaen “Orkest Gambang” haroes ada orang-orang jang mengenal hoeroef Tionghoa, kerna goe na maenken lagoe-lagoe Pobin, marika moesti menoeroet betoel pada noot,” tulis Kian Soe.
Keharusan mengenal huruf Cina membuat gambang kromong pada awal perkembangannya tidak mungkin dimainkan masyarakat pribumi. Perge laran orkes gambang tidak ubahnya konser musik klasik di gedung-gedung kesenian di Barat karena di hadapan setiap pemain alat musik terdapat partitur.
Akibatnya, orkes gambang hanya dimainkan di rumah-rumah orang kaya; kaptoa (kapiten), kapja (letnan), dan siasia —atau anak-anak para kapten dan letnan. Orkes gambang kerap hadir di rumah-rumah mereka saat ulang tahun, perkawinan, atau pesta-pesta tertentu.
Kian Soe mencatat pada beberapa dekade awal, orkes gambang memainkan pobin dengan partitur. Pobin terdiri atas beberapa. “Matodjin”, “Si Djin Kwi Hwee Ke”, “Lui Kong”, “Tjoe Te Pan”, “Tjhia Pe Pan”, “It Ki Kim”, “Tay Peng Wan”, “Pek Bouw Tan”, “Tjay Tjoe Sioe”, dimainkan sebagai persembahan untuk yang berulang tahun (shejit).
Kim Hoa Tjoen, Lioe Tiauw Kim, Sie Say Hwee Ke, Ban Kim Hoa, Pat Sian Kwe Hay, Po Pan Tauw, Lian Hoa The, Tjay Tjoe Teng, Say Ho Liu, Hong Tian, Tjoan Na, Kie Seng Tjo, Tjiang Koen Leng, Tio Kong In, Sam Pauw Hoa, Pek Houw Tian, Kim Soen Siang, Phay In, dimainkan sebagai persembahan kepada para pembesar. Sedangkan Kong Ji Lok biasanya merupakan pembuka sebelum penyanyi (tjokek atau zangeres) membawakan lagu tertentu.
Di luar pobin, terdapat sejumlah lagu berbahasa Tionghoa dan Melayu. Lagu Tionghoa yang populer adalah Tauw Tiat, Dji Tiat, Sam Tiat, Tauw To, Dji Toh, Sam To, Si To, Gouw To, Lak To, Tjit To, dan Pe To. Sedangkan lagu berbahasa Melayu yang populer adalah Dempok, Temenggoeng, Menoelis, Engkosi Baba, Indoeng-indoeng, Mas Nona, Djoeng djang Semarang, Bong Tjeng Kawin, Koelannoen Salah, Bangliau, Goenoeng Pajoeng, Petjahpiring, dan Tandjoeng Boeroeng.
Semua lagu-lagu cenderung mendayudayu dan tidak bisa dijadikan pengiring dansa atau ngibing. Pun, tidak banyak yang piawai menyanyikan lagu itu karena membutuhkan kemampuan olah vokal prima. Jadi, hanya para cokek atau zangeres, penyanyi wanita gambang kromong, papan atas yang bisa menyanyikannya.
Pada 1949, Kian Soe pernah meminta beberapa grup gambang kromong dan banyak penyanyi memainkan lagu ini, tapi tidak satu pun yang bisa. Meski demikian, Kian Soe cukup gembira karena Lim Tjio San menuliskan not lagu di atas secara lengkap, kecuali Dempok.
Tidak ada yang tahu di mana Tjio San menyimpan partitur ini. Kalaupun ditemukan, mungkin tidak ada lagi yang bisa membaca partitur itu dan memainkannya.
(dikutip dari naskah Teguh Setiawan di rubrik Teraju-Republika)
Sejauh manakah Anda mengenal sistem monarki konstitusional di Inggris? Ups, tulisan ini bukan berniat mengajak Anda untuk mengenal tentang seluk beluk sistem pemerintahan. Ya, tulisan ini memang bukanlah sebuah ujian buat Anda! Tetapi jika Anda masih awam tentang monarki konstitusional di Inggris maka film Iron Clad setidaknya akan mengajak Anda untuk selintas memahaminya.
Film indie garapan Jonathan English Ini menyitir kisahnya dari sebuah peristiwa bersejarah di Inggris. Sebuah penggalan sejarah yang pernah lahir pada abad pertengahan, 1215 Masehi. Pada periode waktu tersebut terlahirlah sebuah kesepakatan penting bernama Magna Carta. Sebuah piagam yang prinsip dasarnya memuat pembatasan kekuasaan raja.
Tapi apakah esensi bersejarah itu akan terasa garing ketika diadaptasikan rangkaian ceritanya ke sebuah film berdurasi 121 menit? Tidak! Jonathan English, Erick Kastel, dan Stephen McDool yang menjadi penulis cerita dan skenario, paham benar tuntutan sebuah film yang menghibur.
Di dalam film ini dihadirkan juga kisah asmara yang terjadi pada seorang ksatria templar Marshall Thomas (James Purefoy) dengan Isabel (Kate Mara). Ksatria templar ini merujuk pada pengertian legiun pasukan perang dan pengawal kepercayaan raja yang ikut serta secara aktif menjadi pasukan Perang Salib.
Lalu yang tak akan kalah membuat adrenalin Anda bakal bergolak, film ini memperlihatkan adegan-adegan kekerasan yang nyaris mendekati nyata. Mari kita bayangkan bagaimana perasaan Anda ketika seorang manusia, bagian kaki dan tangannya dipancung. Lalu dari proses itu diperlihatkan cucuran darah yang terlihat merah segar! Hmm...
Potret-potret kekejaman itu bukanlah sebuah rekaan. Tapi potret itu sepertinya ingin mengajak para penonton bahwa berdiri tegaknya kebebasan atau monarki konstitusional di Inggris itu juga harus diwarnai dengan pengorbanan melalui beragam aksi kekerasan.
Periode brutal dan kegelapan itu ditandai ketika Raja John (Paul Giamatti) berkuasa. Saat itu para bangsawan dan templar melakukan pemberontakan terhadap kelaliman sang raja. Dalam tahapan itu ditandai dengan hadirnya kesepakatan piagam Magna Carta. Tetapi konflik dari film ini dihadirkan ketika Raja John berupaya melakukan aneksasi terhadap benteng Rochester. Benteng ini menjadi tempat strategis untuk bisa menguasai wilayah selatan Inggris.
Usaha aneksasi Raja John itu berlatar amarah setelah ia telah dipaksa untuk menandatangani piagam Magna Carta. Salah satu penandatangan piagam itu adalah Baron Albany (Brian Cox). Albany menentang perilaku raja yang megalomaniak dan haus darah. Ia memimpin aksi pemberontakan terhadap Raja. Ia kemudian mengumpulkan sekelompok prajurit yang mendapat restu dari pemimpin gereja.
Dari sekelompok prajurit itu ada Ksatria Templar yang dihantui rasa bersalah atas kekejaman yang telah ia lakukan selama perang salib. Lalu ada juga Beckett (Jason Flemyng) yang tidak hanya berjuang untuk Tuhan dan negaranya tetapi juga haus darah dan berperang demi mendapatkan bayaran.
Kemudian dari para kelompok prajurit pimpinan Albany itu ada juga tokoh bernama Guy (Aneurin Barnard) yang merasakan bagaimana pengalaman membunuh dan berperang untuk kali pertama dalam hidupnya. Total prajurit yang dipimpin Albany ketika berada di benteng Rochester itu hanya berjumlah 20 personel. Mereka berperang melawan seribu balatentara bayaran Raja John. Pertempuran ini berlangsung cukup lama.
Selama periode perang itulah tersaji beragam adegan-adegan yang boleh jadi membuat Anda bakal menutup mata karena tak kuasa melihat kepingan-kepingan tubuh manusia harus terpisah dari tubuhnya. Tetapi sekali lagi, film ini bukan berniat untuk menjual kekerasan. Namun di balik semua itu, film yang disutradarai oleh Jonathan English ini sarat dengan pesan-pesan humanis seperti pentingnya kesetiaan, keberanian dan tak alpa tentunya; cinta!