Senin, 28 Februari 2011

The King's Speech Terbaik di Pentas Oscar




Film drama "The King's Speech" mengukuhkan perannya sebagai yang terbaik dari pentas Academy Awards ke-83 di Kodak Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat, Ahad (27/2) waktu setempat atau Senin (28/2) WIB. Film yang bercerita tentang Raja George VI yang gagap semasa Perang Dunia ke-2 itu berhasil membawa pulang empat tropi Oscar, yakni pada kategori film terbaik, aktor terbaik (Colin Firth), sutradara terbaik (Tom Hooper) serta penulis skenario asli terbaik (David Seidler).

Sementara peran Natalie Portman di film Black Swan telah mengantarkannya menerima Oscar sebagai Aktris Terbaik. Selanjutnya dua peran pembantu -- masing-masing pembantu aktor terbaik dan aktris terbaik -- diberikan kepada Christian Bale dan Melissa Leo. Keduanya sama-sama berperan di film The Fighter.

Sedangkan untuk film berbahasa asing terbaik diberikan kepada film asal Denmark berjudul In a Better World. Pada kategori ini, salah satu film asal anak negeri berjudul Alangkah Lucunya (Negeri Ini) sempat pulang bersaing. Sayangnya, film garapan Deddy Mizwar tersebut tidak sampai masuk ke dalam nominasi Oscar.

Dalam persaingan di ajang Oscar tahun ini, The King's Speech berhasil menyisihkan sembilan nominator film terbaik lainnya. Kesembilan film tersebut adalah 127 Hours, Black Swan, The Fighter, Inception, The Kids Are All Right, Winter's Bone, True Grit, Toy Story serta The Social Network. Namun para pengamat film Hollywood justru lebih banyak menghadapkan The King's Speech dengan The Social Network. Sebelumnya, film yang bercerita tentang pendiri jejaring sosial Facebook itu sempat dinobatkan sebagai film terbaik oleh Hollywood Foreign Press Association lewat ajang bergengsi bernama Golden Globe.

Tetapi para pemilih Oscar yang tergabung di dalam Academy of Motion Picture Arts and Sciences lebih memilih The King's Speech. Dari ajang Oscar ini, The Social Network hanya mengantarkan Aaron Sorkin sebagai penulis skenario adaptasi terbaik serta dua kategori pada Original Score dan Film Editing. Sedangkan sutradara David Fincher yang sempat menggondol penghargaan Golden Globe harus pulang dengan tangan hampa.

Terhadap sukses yang telah diraih oleh filmnya, Hooper hanya sekedar menyampaikan ucapan basa-basi kepada para kru film maupun para sejawatnya yang telah menyertainya selama proses pembuatan. Tetapi secara khusus ia menyampaikan terima kasihnya kepada sang bunda.

''Untuk kali pertama saya justru ingin menyampaikan terima kasih kepada ibu yang telah menyarankan saya membuat The King's Speech ini,'' ujarnya saat berada di atas podium. ''Terus terang moral dari cerita film ini adalah dengarkanlah nasehat ibu mu,'' lanjutnya kembali.

Dalam sebuah kesempatan wawancara kepada The Wall Street Journal, Hooper pernah mengaku ibunya menjadi orang pertama yang mengirimkan naskah skenario. Skenario tersebut bercerita tentang kisah nyata dari ahli terapi bicara yang pernah membantu raja Inggris, King George VI, dalam usahanya untuk keluar dari masalah kegagapan dalam berbicara.


Kegembiraan serupa juga menyelimuti sosok Colin Firth yang membintangi peran Raja George VI. ''Ah saya sudah sempat memiliki perasaan karier saya telah mencapai puncak,'' candanya saat menerima tropi Oscar.

Bagi Firth, film The King's Speech ini telah membuatnya sebagai aktor yang paripurna. Pengakuan itu telah ditunjukkan lewat beberapa pentas penghargaan utama di industri film Hollywood. Aktor yang telah berusia separuh abad ini selalu berhasil menyabet penghargaan sebagai aktor terbaik. Sebutlah di antaranya Golden Globe serta Screen Actors Guild Award.

Selanjutnya lagi kegembiraan yang begitu terasa dapat terlihat dari ekspresi Natalie Portman. Perannya sebagai seorang penari balerina muda di film Black Swan itu telah membawanya meraih penghargaan bergengsi sebagai aktris terbaik. Ketika tropi Oscar berada di dalam genggamannya, emosinya meluap. Air matanya menetes.

Tak lama kemudian, dengan suara yang terdengar bergetar, ia berucap,''Ini sungguh gila. Terus terang saya memang sudah begitu mengharapkan penghargaan ini dengan bekerja baik.'' Lalu ketika berada di belakang panggung, Portman menyebut,''Saya seperti berada dalam sebuah mimpi saja.''

Pada persaingan di kategori aktris terbaik ini, Portman berhasil menyisihkan Nicole Kidman yang bermain di film Rabbit Hole, Annette Bening (The Kids Are All Right), Jennifer Lawrence (Winter's Bone), dan Michelle Williams (Blue Valentine). Sebelumnya Portman juga berhasil menyabet penghargaan dari ajang Golden Globe.

n reuters/bbc/mohammad akbar

Hasil lengkap pemenang Oscar

- Film Terbaik - "The King's Speech"

- Sutradara Terbaik - Tom Hooper ("The King's Speech")

- Aktor Terbaik - Colin Firth ("The King's Speech")

- Aktris Terbaik - Natalie Portman ("Black Swan")

- Aktor Pendukung Terbaik - Christian Bale ("The Fighter")

- Aktris Pendukung Terbaik - Melissa Leo ("The Fighter")

- Skenario Asli Terbaik - "The King's Speech" (David Seidler)

- Skenario Adaptasi Terbaik - "The Social Network" (Aaron Sorkin)

- Film Berbahasa Asing Terbaik - "In a Better World" (Denmark)

- Film Animasi - "Toy Story 3"

Minggu, 13 Februari 2011

Killing Me Inside Gelar Konser Keliling Indonesia




Killing Me Inside, grup band indie bergenre modern rock, menapak babakan baru dalam upaya memperkenalkan karyanya kepada para penikmat musik anak negeri. Sebanyak 13 kota besar di Indonesia telah dijadwalkan untuk memanggungkan Onad (vokal), Josaphat (gitar), dan Davi (drum).

Onad mengungkapkan kota-kota yang telah dijadwalkan akan mereka sambangi itu adalah Bali, Surabaya, Malang, Jogjakarta, Solo, Semarang, Cirebon, Bandung, Medan, Makassar, Manado, Balikpapan, dan Jakarta. ''Untuk rangkaian tur ini kami sudah memulainya dari Bandung, kami berharap tur bisa berjalan sesuai dengan harapan kami,'' katanya dalam sebuah perjumpaan di Jakarta.

Rangkaian konser yang kini tengah dijalani Killing Me Inside sebagai upaya untuk lebih menggaungkan album terbaru yang mengusung tajuk Self Tittled. Sebelumnya, album yang bernaung di bawah bendera PT Royal Prima Musikindo (RPM) ini telah dilepas secara massal pada penghujung tahun lalu.

''Punya album dan tur ke seluruh Indonesia adalah impian kami sejak dulu. Musik ini kami dedikasikan buat fans Killing Me Inside yang ada di seluruh negeri,'' kata Josaphat dalam mengekspresikan kesempatannya untuk manggung ke seluruh pelosok negeri. ''Ya, kami juga berharap semoga saja konser ini tidak hanya di kota besar, tetapi bisa pula mendatangi ke seluruh tempat yang ada di negeri ini.''

Dalam album terbaru ini, Killing Me Inside hadir dengan 12 lagu. Sebagai lagu hits pertamanya adalah Biarlah. Di lagu ini, Onad menunjukkan karakter vokal yang segar lewat lengkingan nada-nada tinggi. Sedangkan untuk memperkuat aroma rock diperkuat lewat permainan gitar dari Josaphat serta sentuhan drum Davi yang powerfull. 

Di jalur indie, nama grup band ini sebenarnya sudah tak lagi asing. Grup ini telah memulai perjalanan kariernya pada awal 2006. Selama perjalanannya, grup ini sempat melakukan bongkar pasang personel. Di antaranya hengkangnya gitaris Raka ke grup band Vierra dan Sansan yang kini bersama Pee Wee Gaskins.


Ketekunan mereka dalam membesarkan band ini membuahkan hasil dengan menyabet 2 gelar bergengsi sebagai pemenang kategori Best Indie dan Best New Artist dalam ajang Indigo Awards 2010 di Plenary Hall JCC Senayan. Indigo Awards ini merupakan ajang bagi insan musik berbakat.



Walau sempat melakukan bongkar pasang personel, namun pengalaman grup ini ternyata sudah cukup kenyang dalam menjajaki beragam pentas. ''Pengalaman kemarin menjadi hal yang sangat berharga buat kami semua,'' kata Onad.

Sementara itu Octav Panggabean, direktur RPM, menyimpan optimisme yang besar terhadap grup band ini. Skill bermusik serta pilihan jenis musik yang telah dimainkan Killing Me Inside ini, kata dia, menjadi salah satu alasan pihaknya bersedia berkerjasama.

''Saya punya harapan besar terhadap band ini. Mudah-mudahan anak-anak muda ini memiliki attitude yang tetap sama hingga nanti mereka benar-benar menjadi band besar, tetap rendah hati, ramah, dan tidak macam-macam,'' katanya. ****

Jumat, 28 Januari 2011

The Lonelly Bull'z, Mimpi dari Jawara Wanted 2010







''Semua yang kini kami dapatkan sudah seperti mimpi yang menjadi nyata,'' sepenggal kalimat itu terluncur dari mulut Rinto. Rinto seperti ingin mewakili bagaimana perasaan rekan-rekannya yang tergabung di dalam grup band The Lonelly Bull'z.

Apa yang membuat hatinya berbunga-bunga? Ah, ternyata impian lima remaja asal Surabaya untuk menembus dapur rekaman telah terbuka jalannya usai memenangkan kontes band pencarian berbakat bernama Wanted. Ajang ini sebelumnya telah menelurkan d'Masiv, Geisha, dan juga Supernova yang kini tengah merajai industri musik negeri ini.

TLB, begitu para personel grup band ini menyingkat nama dirinya, memang patut berbunga hati. Jalannnya untuk menjadi juara Wanted juga sedikit berliku. Bahkan, ketika juri seleksi tahap awal ingin menilai, grup yang beranggotakan Meta (vokal), Voe (gitar), Doddy (keyboard), Bembi (bass) dan Rinto (drum), nyaris saja tersisih namanya dari kontes ini.

''Waktu itu CD yang kami kirimkan ke juri seleksi ternyata tidak bisa dibaca. Tapi kami sungguh beruntung, ternyata usaha kita mengirimkan CD ke perusahaan-perusahaan rekaman di Jakarta sebelum acara Wanted telah menyelamatkan kami,'' kenang Voe ketika bersilahturahim ke redaksi Republika, Kamis (27/1).

Cerita Voe tadi merujuk pada perjalanan mereka untuk menembus industri rekaman ke Jakarta. Tiga minggu sebelum dibuka ajang Wanted 2010, para personel TLB ini sempat mengais harapan. Kepingan cakram yang berisi enam lagu berbentuk demo disodorkan ke beberapa perusahaan rekaman. ''Ternyata salah satu juri yang turut menjadi anggota juri tahap awal Wanted, masih ada yang menyimpan CD kami. Akhirnya CD itulah yang kemudian menolong kami dari ancaman diskualifikasi.''

Kini, setelah mimpi itu mulai tercapai, sebuah babakan awal sebenarnya baru mulai dirintis. Jalan menjadi pesohor sudah berada di depan mata. Namun berusaha keras tentu masih harus tetap dilakoni.

Sebagai wujud ikhtiar, TLB memilih singel Tak Marah sebagai pembuka jalan untuk bisa menjadi lebih besar. Lagu ini menjadi salah satu singel dari album kompilasi Wanted 2010. Singel berbalut aransemen pop ini merupakan buah karya dari Meta. Ia adalah satu-satunya personel perempuan tapi mampu menjadi lumbung kreasi dalam membuat lagu buat TLB. ''Ha..ha..ha...pengalaman pribadi,'' kata Meta melepaskan senyumannya.

Sementara itu Noey Java Jive, produser yang turut membidani album kompilasi Wanted 2010, menilai materi yang dimiliki TLB memiliki kekuatan untuk dapat bersaing di industri musik nasional.

 ''Memang masih ada beberapa hal yang perlu perbaikan, tetapi saya melihat penampilan mereka di atas panggung menjadi salah satu yang paling menonjol dari mereka. Ini bisa menjadi faktor untuk bisa lebih dikenal lagi,'' kata Noey dalam perbincangan lewat saluran telpon kepada Republika.

 Pujian yang disampaikan oleh Noey ternyata juga menjadi pengakuan dari para personel TLB. ''Untuk penampilan di panggung kami berupaya memberikan sesuatu yang berbeda. Untuk konsepnya kami menyesuaikan dengan setiap lagu yang mau kami bawakan,'' kata Voe menjelaskan.

 Meski lagu Tak Marah ini terasa agak pop mellow, namun grup ini secara alaminya mengusung musik beraliran pop-rock. Khusus genre rock, seperti diakui Dodi, tetap dipilih untuk menjaga identitas grup band Surabaya yang dikenal sebagai gudangnya musisi rock Tanah Air. ''Kami tetap tidak mau menghilangkan identitas Surabaya. Meski kami bermain di jalur industri pop, namun warna rock masih tetap kami jaga. Kami memberi nama genre yang kami mainkan adalah rock elektro,'' kata Dodi menjelaskan.

Namun apapun pilihan genre yang dibawa, kehadiran TLB ini juga membawa sebuah asa kedaerahan. ''Kami juga ingin membawa lagi nama Surabaya bisa dikenal di industri ini. Dulu Surabaya banyak sekali melahirkan musisi. Dan kini kami berharap bisa mencatatkan nama kami di tengah industri musik ini,'' kata Meta turut menimpali.

Rabu, 26 Januari 2011

Romansa Cinta ala Hasta Band





Cinta sepertinya tak akan pernah lekang ditelan waktu. Berbicara soal cinta maka selalu saja akan lahir beragam ide dan karya.

Lewat bahasa cinta itu juga lima remaja yang bernaung di bawah nama Ha5ta Band mencoba untuk membagikan karyanya. Sebuah lagu berbalut tulang musik pop dipersembahkan. 'Masih Adakah Cinta' , begitu judul yang kemudian disematkannya.

''Cinta selalu menjadi bahasan yang menarik. Tak akan pernah habis kata untuk membahasnya. Kami bukanlah pemuja cinta, tetapi kami merasa cinta telah memberikan sebuah inspirasi buat karya yang kami buat,'' begitu Ilham, vokalis Ha5ta band, bercerita perihal buah kreatifnya.

Singel 'Masihkah Adakah Cinta' ini memang menjadi hasil perenungan dari Ilham. Ia hendak bercerita tentang keraguan seorang pria terhadap cinta kekasihnya yang mulai terasa dingin.

Ada rasa galau di dalamnya. Ilham hendak mempersoalkan lewat lirik lagunya tentang keindahan, kemesraan , dan romantisme yang tak lagi mewarnai sepasang kekasih. ''Ini kemudian menimbulkan keraguan di hati sang pria akan keberadaan cinta dari kekasihnya,'' kata Ilham.

''Sehingga lewat lagu ini saya ingin mencoba bertanya, masih adakah cinta  bagiku untuk dapat terlelap di sampingmu?, Masihkah adakah tempat untukku dan dapat sandarkan diri di hatimu?''

Ah, Ilham memang melankolik dalam memaknai sebuah kadar cinta. Tetapi, pemaknaan itu justru mampu dibalut menjadi ceria lewat imbuhan musik pop. Ada beat yang menendang di dalamnya sehingga membuat pendengarnya bakal terlupa kalau lagu ini sebenarnya tengah bercerita akan kegalauan cinta.

Singel ini dijadikan oleh Ha5ta band sebagai langkah ikhtiar untuk meretas sukses di panggung industri musik tanah air. Ilham (vokal), Arief (gitar), Joan (bass), Dika (drum), dan Qiki (keyboard) menyimpan asa itu.

''Hasrat, asa, cinta dan cinta memang menjadi landasan kami untuk bisa berbicara di industri musik,'' kata Ilham menambahkan.

Selasa, 25 Januari 2011

Idealisme Tompi






''Album ini lahir supaya saya tidak jatuh miskin pada tahun ini,'' Tompi berseloroh ketika berbincang santai di kantor redaksi Republika pada akhir pekan kemarin di Jakarta.

Tompi jatuh miskin? Rasanya terdengar hiperbolis, tentu. Tetapi begitulah solois bernama asli Teuku Adifitrian ini memberikan gambaran singkat tentang album terbarunya "Tak Pernah Setengah Hati". Album ini merupakan album solo kelima dari pria asal bumi Nanggroe Aceh Darussalam.

Hati Tompi memang telah terbelah pascamerilis album "Paris-Jakarta Express" pada 2009 silam. Album yang kental dengan kearifan dan keunikan seni tradisi daerah itu justru tak mendapat respons baik dari publik dalam negeri. Tetapi album itu justru, seperti diklaim Tompi, lebih banyak mendapatkan tempat di telinga pendengar orang bule di Eropa.

''Kebetulan juga album ("Paris-Jakarta Express") ini melibatkan dua orang Prancis. Jadi saya tak terlalu banyak kehabisan amunisi,'' kata Tompi sambil melepaskan senyumannya.

Ah, Tompi memang pandai membuat suasana menjadi terasa cair. Tak ada sekat yang ia bangun ketika berbincang-bincang dengan awak redaksi Republika. Ia tetap memperlihatkan pesonanya sebagai sosok yang asik diajak berbincang banyak hal, termasuk soal karyanya di dunia musik.

Terkait dengan album "Tak Pernah Setengah Hati" ini, Tompi ternyata tak hanya sekedar memberi judul. Tetapi ada pesan yang sebenarnya hendak ia sampaikan. ''Sebenarnya saya ingin menyampaikan kritik kepada media dan pelaku musik di negeri ini. Saya gelisah karena sekarang ini begitu banyak orang ingin mengambil jalan pintas sehingga mereka tak pernah malu-malu untuk mencontek karya orang lain,'' katanya.

Bahkan dalam sebuah kesempatan, Tompi pernah mendapat tawaran dari sebuah perusahaan rekaman untuk mengubah sedikit lagu milik orang lain. Ingin tahu berapa angka yang siap ditransfer ke rekening dia? ''Kalau melihat angkanya sih siapa yang tak tergiur. Rp 250 juta hanya mengubah sedikit-sedikit saja. Tetapi saat itu saya menolak karena untuk apa kita membohongi diri kita sendiri,'' kata pria yang kini berstatus sebagai dokter spesialis bedah ini.

Ah, Tompi untuk kesekian kalinya telah menunjukkan identitasnya yang berbeda. Sebuah idealisme bermusik yang mungkin saat ini menjadi barang langka di tengah segelintir pembuat lagu yang gemar melakukan praktek plagiat demi mengejar lagunya dapat laris di pasar.

Lantas bagaimana kalau lagu Tompi suatu saat justru dituding melakukan juga praktek 'mencuri'? Tompi mengaku dirinya bukanlah sosok yang tanpa pernah ada kesalahan. Tetapi untuk menyortir karya-karyanya sebelum diperkenalkan kepada khalayak ramai, ia melakukan kontrol cukup ketat.

''Saya justru bertanya dulu kepada istri, teman-teman bahkan para MD (music director). Kalau memang ada lagu saya yang mirip-mirip, saya langsung membuangnya,'' kata dia. ''Lantas kalau sampai keluar, wah itu memang sial buat saya. Tetapi pada dasarnya saya sangat menginginkan karya-karya saya adalah sesuatu yang orisinal, bukan dari hasil jiplakan.''

Evolusi Changcuters




''Ini gaya baru kita. Ayo terus joget,'' Tria, vokalis Changcuters, mengajak para Changcut Ranger – sebutan bagi para pemuja Changcuters – untuk bersuka ria bersama ketika tampil di atas panggung.

Gaya baru? Ya, Changcuters memang telah memperkenalkan wajah barunya. Mereka tak lagi tampil dengan celana ketat serta rambut-rambut yang disasak.

Tapi Tria (vokalis), Qibil (gitar), Alda (gitar), Dipa (bass), dan Erick (drummer), telah berevolusi. Di atas panggung "Nusa Konser" yang digelar di lapangan Pemda Cibinong, Sabtu (15/1) malam, mereka tampil bagaikan mafioso-mafioso Italia.

Para personel Changcuters itu menghibur para pemujanya dengan jas, celana bagy serta potongan rambut yang lebih mature.

''Kan kita mau mengeluarkan album baru. Nah setiap album baru, kita itu pasti ada sesuatu yang baru. Kebetulan konsep yang sekarang ya kaya gini,'' kata Tria sebelum naik ke atas panggung menjelaskan.

Tria juga menjelaskan penampilan baru ini merupakan yang perdana diperkenalkan secara resmi di atas panggung.

Nah khusus untuk rangkaian "Nusa Konser" ini, Changcuters akan tampil di enam kota. Selepas Cibinong, Changcuters akan menyambangi para penggemarnya di Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya, Subang dan Cirebon pada 2 April mendatang.

''Untuk Cibinong ini jadi tempat pertama kita tampil kayak ini,'' kata Dipa turut menimpali soal penampilan baru Changcuters.

Dalam konser yang dijejali ribuan anak-anak ABG itu, Changcuters mempersembahkan sekitar 12 lagu selama hampir 1,5 jam. Lagu pembuka yang langsung membakar suasana venue adalah Suka-Suka. Lagu ini merupakan salah satu singel hits yang termaktub dari album ketiga mereka yang berjudul Misteri Kalajengking Hitam yang dirilis dua tahun lalu.

Tapi suasana kian meriah setelah Racun Dunia dan Hijrahg ke London di lantunkan. Koor massal dari ribuan pemuja Changcuters membaur bersama vokal Tria yang berada di atas panggung.

Di pertengahan penampilan, grup asal Bandung ini memperkenalkan juga singel terbaru mereka. Lagu itu berjudul Parampampam.

Tetapi sambutan lebih meriah justru kembali lagi menyeruak ketika Changcuters membawakan 'I Love U Bibeh', 'Gila-gilaan'. Sebelum hits 'Main Serong' diantarkan sebagai tembang pamungkas, para pemuja Changcuters itu berseru bersama,''Lagi...lagi...lagi...!''

Selain tampil beda dengan konsep busana di atas panggung, penampilan Changcuters di 'Nusa Konser' ini juga disertai dengan sesuatu yang lebih anyar.

Dalam penampilannya, mereka juga disokong oleh anak-anak muda berbakat dari alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Di atas panggung, Changcuters berkolaborasi dengan performance art yang menampilkan karya seni berupa gambar serta iringan alat-alat yang tidak biasa seperti sekrup, lakban, pita kaset, daun tembakau, dan cat.

Menimang Musik 'Metal' di 2011


Akankah ada yang baru bakal tersaji dari industri musik dalam negeri di tahun yang baru ini? Akankah roda berputar, tak lagi menjadikan musik pop melayu mendayu-dayu, menjadi medan magnet bagi para debutan yang hendak mencari peruntungan di tahun Kelinci ini?

''Berbicara soal prediksi musik, khususnya musik-musik berlanggam Melayu, pada tiga kwartal pada 2011 ini rasanya tak akan banyak berubah,'' begitu Remmy Soetansyah memberi pandangannya. Remmy adalah pengamat musik yang memiliki lembaga Rumah Musik Indonesia.

Remmy tak hanya sekedar berspekulasi. Argumentasinya berlandaskan pada fenomena yang terjadi di sepanjang tahun lalu. Selama setahun kemarin, grup band pengusung genre musik ini masih menjadi yang paling nge-hits di gendang telinga anak negeri. Sebutlah di antaranya nama Wali atau juga ST 12 .



Kedua grup ini telah menyedot para pengguna telpon genggam dalam negeri untuk menjadikan lagu mereka sebagai Ring Backtone (RBT) sampai angka 10 juta aktifasi. RBT sendiri merupakan 'napas baru' bagi para musisi dalam negeri untuk tetap hidup di tengah maraknya pembajakan yang sampai kini tak pernah bisa diurut simpul keruwetannya.

''Ini angka yang sungguh luar biasa, apalagi jika dibandingkan dengan musik-musik di luar genre melayu total (metal) yang sangat melempem aktifasi RBT-nya,'' kata Remmy kembali.

Apa yang disampaikan Remmy dipertegas juga oleh Krish Pribadi, vice president Digital Music and Content Marketing dari Telkomsel. ''Di tempat kami, lagu dari Wali ini masih menjadi penyumbang RBT terbesar,'' katanya.



Krish mengungkap, lagu-lagu dari Wali telah menyedot 5,5 juta aktifasi. ''Memang kalau di total dari semua provider yang ada di Indonesia, angkanya (lagu Wali) saya kira bisa menembus 12-13 juta aktifasi,'' katanya. ''Begitu juga dengan ST 12 yang juga bagus RBT-nya.''

Dengan trend positif yang telah ditunjukkan oleh grup band pengusung musik 'metal' itu apakah membuat para pemilik perusahaan rekaman akan terus menggenjot potensi tersebut pada tahun ini?

Rahayu Kertawiguna, produser dari perusahaan Nagaswara, mengatakan, secara bisnis genre yang telah ditawarkan oleh grup band Wali rasanya masih belum bisa diabaikan. Wali sendiri merupakan grup band yang menjadi salah satu mesin uang bagi Nagaswara. ''Yang pasti untuk tahun ini kita akan terus me-maintenance para penggemar grup Wali,'' kata Rahayu ketika ditemui di ruang kerjanya. ''Karena kita masih melihat potensi itu masih besar.''

Bahkan agresifitas Nagaswara untuk merebut pendengar musik Tanah Air lewat genre musik pop melayu itu tidak hanya mengandalkan pada kepiawaian Wali menghadirkan karyanya. ''Kita juga memiliki beberapa grup sejenis yang siap untuk bersaing tahun ini,'' kata Rahayu.

Rahayu menyebut nama SET 14. Grup asal Lampung ini dirancang kehadirannya pada Februari mendatang. Lampung tercatat juga sebagai kota yang pernah melahirkan grup Kangen Band yang sempat dicemooh namun laris secara penjualan.

Dalam obrolannya kepada Republika, Rahayu sempat memperdengarkan salah satu karya dari grup ini. Dari penilaian Republika, karakter vokal dari SET 14 ini memiliki kemiripan dengan karakter vokal Charly van Houten, vokalis dari grup band ST 12.

Apakah model duplikasi sukses ST 12 itu menjadi kiat untuk bisa meraup potensi penikmat musik 'metal' di dalam negeri? ''Saya sih melihatnya ini hanya kebetulan saja mirip seperti Charly. Karena buat saya yang lebih saya cari adalah musik yang menjual. Dan saya melihat potensi itu ada pada mereka (SET 14),'' ujarnya.

Sementara itu dalam obrolan terpisah, Charly sempat bercerita saat ini dirinya berupaya melakukan pengembangan karya. ''Saya melihat sekarang ini sudah begitu banyak yang mengekor karya-karya ST 12. Untuk itu kita harus bisa terus melakukan inovasi, namun kita akan tetap menjaga konsep dari ST 12,'' katanya.

Charly menyebutkan upaya perubahan itu telah mulai dirintisnya pada album Pangeran Cinta. ''Di sana kita coba menyisipkan aransemen yang up beat juga kok. Memang vokal saya tidak akan berubah karena ini menjadi salah satu identitas dari ST (12),'' ujarnya.