Senin, 10 Oktober 2011

Berkedok Kuis dan Penawaran Jasa Layanan


Cerita tentang SMS Penyedot Pulsa 
(Bagian 1 dari tiga tulisan)

Siang hari sekitar dua bulan lalu, ponsel Nokia milik Devi Anggraini berbunyi. Satu SMS diterimanya. Namun, isinya bukan sapaan dari kawan ataupun keluarga, melainkan SMS berisi ucapan terima kasih karena telah menggunakan layanan Facebook dan diperpanjang untuk tiga hari ke depan.

Spontan keningnya berkerut. Seingatnya, ia tak pernah mendaftarkan diri untuk mengikuti satu layanan yang ditawarkan provider Flexi ini. Apalagi, ponselnya sudah sekitar lima bulan tidak terlalu aktif dipakainya. "Ya, saya cuekin saja karena saya tidak pernah merasa registrasi," katanya kepada Republika, Kamis (6/10).

Tetapi, SMS serupa diterimanya setiap pekan selama tiga kali berturut-turut. Kesal dan bertanya-tanya, perempuan asal Gresik, Jawa Timur, ini pun lantas mengecek sisa pulsanya. Ternyata, hal yang dianggap remeh ini berdampak pada jumlah pulsa yang dimilikinya.

Devi ingat betul sebelum SMS itu muncul, pulsa di ponselnya masih berkisar Rp 20 ribu. Setelah itu berkurang drastis hingga Rp 13 ribu. "HP itu jarang saya pakai. Kalaupun dipakai, saya tidak pernah menelepon hingga menghabiskan Rp 7.000 atau berkurang secepat itu. Sudah saya hitung-hitung," ujarnya yakin.

Artinya, setiap mendapatkan SMS itu pulsanya berkurang sekitar Rp 2.000. Memang, jumlah itu bukan angka yang besar. Tetapi, Devi mengaku kesal.

Dari situlah ia berinisiatif mengadukan kejadian ini ke call center provider tersebut. Cara untuk unregister pun diberitahukan. Tetapi, dicoba berkali-kali selalu gagal.

Anehnya, nomor tujuan untuk unregister tidak sama dengan nomor tujuan awal yang bernada memberitahukan telah mengikuti satu layanan. Waktu menerima SMS pertama kali, ada tujuh atau lima digit. Tetapi, saat hendak mengajukan unreg cuma empat digit.

Karena kesal, Devi kemudian menelepon call center lagi. Emosi pun sempat meledak. Ia tak mau tahu, persoalan pemotongan pulsa secara ilegal itu harus dihentikan. "Saya tidak pernah registrasi dan nggak mau pulsa saya kepotong untuk hal yang tidak saya lakukan," ujarnya waktu itu.

Barulah call center yang bersangkutan merespons lebih serius. Tapi, hingga kini belum ada kabar yang menyatakan nomornya sudah 'sehat' dari SMS yang menyedot pulsa itu. Ponselnya pun dibiarkan menganggur dan tak lagi dia gunakan.

Kasus SMS premium yang kerap dikeluhkan masyarakat ini beberapa hari terakhir meledak lagi. Ulah content provider yang secara sepihak memotong pulsa konsumen dinilai telah meresahkan, seperti yang dialami Devi tadi. Padahal ulah nakal penyedia jasa SMS itu termasuk perbuatan pidana.

Serupa tapi tak sama, kejadian seperti itu juga pernah dialami Astuti Ningsih yang pulsanya habis karena mengikuti kuis-kuis SMS yang muncul tanpa diundang. "Saya pakai XL dan pulsa sering habis karena kuis-kuis entah apa gitu. Padahal cuma sekali registrasi," katanya.

Meski cuma sekali mendaftar, nyatanya Astuti tak bisa keluar dari jeratan kuis itu. Awalnya, dia hanya berniat coba-coba dan tak terlalu mempersoalkan biaya pulsa. Tetapi, setelah SMS datang bertubi-tubi dan pulsanya terus berkurang Rp 2.000 per hari, barulah dia merasa dirugikan.

Apalagi, SMS sedot pulsa itu tetap saja datang meski ia sudah mencoba menghentikannya dengan mengirim pesan unreg. "Sudah di-unsub, di-unreg, eh nggak ilang-ilang. Pulsa tetap kesedot juga," ujarnya geram. Kecewa, ia lalu tak memakai lagi nomor ponselnya dan mengganti dengan nomor provider lain.

Brilianing Pratiwi mengalami modus sedot pulsa dengan berbagai gaya. Mulai dari SMS yang menawarkan alat elektronik, kupon, hingga SMS yang mengaku sebagai kekasih. Ia menceritakan, terakhir SMS sejenis itu diterimanya sekitar sepekan lalu. Isinya menawarkan barang elektronik dengan harga miring.

Karena tak tertarik, ia pun tak meresponsnya. SMS lainnya pun mampir ke ponselnya. Kali ini menawarkan kupon wisata. Lagi-lagi karena tidak tertarik, SMS itu diabaikan. Begitu pula SMS yang mengaku sebagai kekasihnya.

Tetapi, wanita yang biasa disapa Tiwi ini belakangan menyadari pulsanya selalu berkurang setiap mendapatkan SMS-SMS itu. Pulsanya memang tidak berkurang secara berkala setiap pekan atau bulan. Namun, dia juga bingung bagaimana cara menghindari SMS merugikan itu. SMS yang datang tanpa mendaftar lebih dahulu, bahkan meski sudah beberapa kali di-unreg.

Tiwi sudah beberapa kali mengadu pada provider Indosat yang dipakainya. "Katanya akan dibantu, tetapi sampai sekarang saya masih tetap mendapatkan SMS itu dan pulsa saya terus berkurang," tuturnya.

Kalau mau mengganti nomor ponsel, ia mengaku sayang. Yang dilakukannya kini hanya membiarkan pulsanya berkurang tanpa perlu mengisinya kembali.

Menurut Tiwi, SMS sedot pulsa ini tak hanya menimpanya. Teman-temannya pun memiliki kisah serupa. Seperti kebanyakan korban, awalnya mereka tak ambil pusing dan tidak menyadari pulsanya berkurang.

Bermula dari iseng mendaftar untuk ikut kuis SMS berhadiah gratis pulsa, Asmawati tidak menyangka layanan itu mirip jebakan. Bukannya pulsa yang didapat, malah dikirimi balik SMS berisi gosip-gosip selebriti secara beruntun yang menguras pulsanya. Setiap hari SMS lanjutan masuk lima sampai 10 kali yang dikenakan tarif Rp 1.000 per SMS.

Namun SMS-SMS mengganggu itu hanya datang jika pulsa ponsel terisi. Asmawati pun berkali-kali melakukan unreg ke nomor pengirim SMS, tapi tak pernah berhasil. Bertanya pada operator ponsel pun ia hanya diberi jawaban silakan lakukan unreg.

Masjid Jami' Sungai Jambu, Rumah Allah Terbaik di Sumatra Barat

Sore baru saja menyambut langit Nagari Sungai Jambu. Dari dalam masjid, terdengar alunan ayat-ayat suci Alquran. Bukan orang tua sepuh yang tengah membacanya, tetapi lantunan yang terdengar syahdu itu keluar dari mulut anak-anak.  Mereka sebagian besar masih berstatus sebagai pelajar sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).


Mereka tampak begitu hidmat mengikuti setiap yang diberikan para pengajarnya. Meski sesekali ada yang terlihat bercanda sesama rekannya, namun anak-anak itu tetap berkonsentrasi. Ketika saatnya harus membaca, anak-anak itu langsung mengikuti teknik  irama membaca Alquran yang sedang diajarkan. Para pengajarnya adalah jebolan qari nasional dari Sumatra Barat.

Aktivitas keislaman itu merupakan rutinitas yang bisa dijumpai setiap Jumat sore di Masjid Jami' Sungai Jambu. Kegiatan tersebut menjadi aktivitas mingguan yang bisa dijumpai selepas shalat Jumat hingga waktu Ashar menjemput.

Masjid Jami' berada di kaki Gunung Merapi, Sumatra Barat. Secara wilayah, masjid ini berada di Jurong Sungai Jambu yang berada di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar.

Dalam tambo Minangkabau, nagari ini termasuk salah satu yang tertua di bumi Minangkabau. Sebagai nagari yang sudah lama berdiri, begitu pula halnya dengan Masjid Jami' ini. Masjid ini awalnya telah dirintis pembangunannya pada 1918. Ketika itu atapnya masih beratap ijuk.

Namun, setelah pembangunan secara permanen yang mulai dilakukan pada 1988, masjid ini terus berbenah diri. Kucuran dana yang datang dari masyarakat perantau dan penduduk lokal ternyata tidak hanya digunakan untuk memperbaiki bangunan fisik masjid saja. Tapi berjalan seiring, masjid ini juga terus membenahi sistem manajemen maupun kegiatan yang ada di dalamnya.

Tak seperti kebanyakan masjid megah di Pulau Jawa, masjid itu cukup mampu memainkan perannya secara maksimal. Hampir semua kegiatan sosial kemasyarakatan juga banyak berpusat dari dalam masjid.

Menurut salah seorang pengurus Masjid Jami', Amlis Luis, maraknya kegiatan yang ada digelar masjid itu telah membawa berkah. Di pengujung September lalu, masjid ini telah dinobatkan sebagai masjid terbaik se-Sumatra Barat oleh Kementerian Agama (Kemenag) provinsi itu. Status sebagai masjid terbaik, tentu tidak datang begitu saja.

Setahun terakhir ini, kata Amlis, pengelola masjid mencoba menggiatkan berbagai macam aktivitas yang semuanya bermuara dari dalam Rumah Allah ini. Kegiatan mengajarkan teknik irama membaca Alquran yang diikuti oleh anak-anak kampung itu hanyalah satu dari sekian banyak kegiatan rutin yang lahir dari dalam Masjid Jami' Sungai Jambu ini.

''Alhamdullilah kegiatan-kegiatan seperti ini sudah mulai aktif sejak November setahun yang lalu. Banyak kegiatan yang kita lakukan dengan tujuan mendidik anak-anak kita agar cinta agamanya,'' kata Amlis  kepada Republika di Jakarta.

Menurut Amlis, di masjid itu juga digelar kegiatan Pondok Alquran. Kegiatan ini lebih banyak melibatkan anak-anak untuk dipersiapkan menjadi para mubaligh yang siap untuk tampil setiap Jumat. "Sejak 11 bulan yang lalu, sudah ada sekitar enam orang yang sudah siap tampil. Pesertanya adalah mereka yang sudah tingkat SMP hingga SMA," ungkapnya.

Selain itu,  ada lagi kegiatan kursus bahasa Arab dan bahasa Inggris. Lalu, untuk memperdalam kemampuan hafalan anak-anak kampung terhadap Alquran, di masjid itu juga diadakan kajian hafalan ayat-ayat suci. Sejauh ini, kata Amlis, sudah ada beberapa anak yang memiliki kemampuan untuk menghafal surah al-Baqarah hingga 80 ayat.

"Bahkan, untuk mereka yang masih TK, ada juga yang sudah bisa menghafal sampai 20 ayat," katanya.  Selain menyasar pendidikan dan pemahaman anak-anak terhadap agama, Masji Jami' juga berperan di bidang sosial dan kesehatan.  Secara rutin, masjid itu menggelar kegiatan bernama Balai Kesehatan Masjid (BKM).

Kegiatannya berupa pemeriksaan kesehatan jamaah masjid. Aktivitasnya dilakukan setiap Ahad. "Kita melakukan pemeriksaan ini tanpa biaya apa pun. Dokternya kita datangkan dari puskesmas terdekat," tutur Setrial dt Tankali, pengurus Masjid Jami' Sungai Jambu lainnya.

Masjid Jami' juga turut menopang kehidupan ekonomi jamaahnya. Masjid itu menjadi basis ekonomi keumatan. Masjid itu memiliki usaha dalam bentuk koperasi. Sejauh ini anggota yang tercatat baru ada 30 orang. "Tetapi, kami berharap jumlahnya masih bisa terus bertambah," kata Setrial.

Masjid itu juga mampu mengelola dana yang dihimpun dalam bentuk Badan Amil Zakat (BAZ). Dana ini dikumpulkan dalam bentuk zakat mal. Dalam setahun, masjid Jami' Sungai Jambu bisa dua kali  menggelar kegiatan menyantuni anak yatim-piatu. Biasanya kegiatan ini dilakukan pada saat menyambut tahun ajaran baru sekolah dan saat menghadapi Lebaran.

"Masing-masing kami berikan Rp 300 ribu. Untuk kegiatan yang kemarin, kami menyantuninya kepada 27 anak yatim-piatu yang ada di sekitar masjid," jelas Setrial. Sementara itu, untuk memperkaya khasanah pengetahuan agama, masjid yang memiliki luas bangunan 600 meter persegi ini juga memiliki ruang pustaka.

"Kami menamakannya Pustaka Masjid," kata Amlis. "Saat ini sudah ada ratusan judul buku yang ada di dalam Pustaka Masjid." Untuk kegiatan rutin harian, Masjid Jami' juga melakukan tadarus Alquran. Kegiatan ini dilakukan setelah Maghrib sampai waktu shalat Isya.

 "Saat ini ada sekitar 40 orang yang rutin mengikuti tadarus Alquran ini. Alhamdulillah kegiatannya selalu bisa kami lakukan sehabis shalat Maghrib berjamaah." Lalu untuk menambah pengetahuan dan pemahaman agama bagi jamaah, Amlis mengatakan, pengurus masjid menggelar kegiatan ceramah di malam hari.

Untuk ceramah yang dilakukan setiap Rabu, kata Amlis, pengisinya berasal dari dalam kampung sendiri. Sedangkan untuk setiap Sabtu, kerap kali mendatangkan penceramah dari luar. Kegiatan ini juga berjalan seiring dengan aktivitas Lembaga Didikan Shubuh (LDS) dan kuliah Shubuh.

Program LDS, kata dia, target pesertanya adalah anak-anak. Sedangkan untuk kuliah Shubuh yang dilakukan secara rutin setiap hari, kata Amlis, lebih banyak menyasar para orang tua. "Kami ingin masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah. Tetapi, kami berharap dari masjid bisa dihasilkan banyak hal untuk menjalani hidup," katanya.

Sederet kegiatan yang digelar Masjid Jami' Sungai Jambu ini, kata Amlis, tak lepas peran serta para perantau yang tersebar di berbagai tempat. Ia menceritakan keringanan tangan para masyarakat perantau itu juga ditunjukkan setiap kali Lebaran tiba. "Alhamdullilah saat shalat Id pada Lebaran kemarin, dana yang berhasil kita kumpulkan sebanyak Rp 42 juta."

Kamis, 22 September 2011

Kenangan dari Sa'unine Orkestra

Dalam keheningan sejenak, seorang perempuan berkebaya putih melantunkan suaranya. Vokalnya terdengar jernih dan terasa begitu membuai. Ia melantunkan gendhing Jawa Tak Lelo Ledhung. Di tangannya, ia seperti tengah menggendong seorang bayi. 


Ah, begitu syahdunya ia bernyanyi. Lantunan yang sudah begitu intim itu semakin diperkuat lagi oleh iringan ragam alat gesek. Lembut terdengar harmoni yang dihasilkannya. Para pendengarnya seperti diingatkan kembali kepada sebuah fase di masa bayi sewaktu ditimang orang tuanya. 


Ya, begitulah Sruti Respati mengartikulasikan penampilan pembuka dari pentas Sa'unine String Orchestra di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (15/9) malam. Sruti merupakan solois perempuan yang besar di lingkungan keluarga pemegang tradisi Jawa. Kehadirannya di pementasan kali ini untuk menandai lahirnya album kedua Sa'Unine String Orchestra bertajuk Buaian Sepanjang Masa. 


Usai Sruti melantun, puluhan penonton cukup mahfum untuk memberikannya aplaus. Gemuruh tepuk tangan langsung membahana ke seluruh ruang yang disulap secara mendadak. Ya, ruangan tempat mentasnya Sa'unine Orchestra ini memang jadi alternatif setelah hujan mengguyur Jakarta. Sedianya, aksi para musisi yang berjumlah 45 orang itu dijadwalkan di luar ruangan. Tapi kehendak Ilahi berbicara lain. 


Dalam pementasan ini, 45 musisi itu membawakan berbagai alat musik gesek. Mulai dari violin, viola, cello, contra bass, hingga suling yang ditiup oleh M Saat Sah. Khusus penampilan Saat, apresiasi penonton menjadi lebih riuh. Tiupan serulingnya pada repertoar berjudul Kara begitu kontemplatif, dalam dan terasa menusuk ke pusat indra perasa manusia! Ia mampu merangsang indra pendengar penontonnya untuk merenung perjalanan hidupnya di masa kecil dahulu. Sebuah masa yang boleh jadi sudah sulit untuk kembali dikenang namun akan selalu tetap teringat bahwa setiap manusia pernah ditimang oleh orang tuanya ketika hendak memenjamkan mata. 


Tak cuma Saat saja yang membuat hati para pendengar menjadi begitu romantik. Kejutan juga diberikan oleh Andre Dinuth. Ia bermain solo gitar dengan iringan orkestra alat gesek ketika membawakan nomor instrumen If Only I Could Turn Back Time. Sebelum repertoar itu dilantunkan, Oni Krisnerwinto memberikan sedikit cerita tentang proses kreatif karya tersebut. ''Lagu ini bercerita tentang hubungan ayah dengan anaknya. Intinya di sana ada kerinduan sang ayah untuk bertemu dengan anaknya. Tapi usaha itu harus menghadapi kendala,'' kata Oni yang menjadi komposer karya instrumentalia tersebut. 




Secara keseluruhan, karya yang dibawakan oleh 'rombongan pengamen' asal Yogyakarta ini cukup kuat untuk menjadi alternatif pementasan musik di negeri ini. Bahkan, album kedua ini telah membuka sebuah ruang baru di tengah pragmatisme industri musik yang terjebak pada keseragaman dan minimalnya kreatifitas bermusik. ''Ini menjadi semacam oase bagi industri musik kita,'' kata Jockie Suryoprayogo, mantan keyboardist God Bless, usai pementasan. 


Keistimewaan lain yang tersaji di dalam pementasan dan album ini adalah usaha Sa'Unine Orchestra dalam mendokumentasikan ulang karya-karya lokal nusantara. Tak cuma dari Jawa saja yang dihadirkan, seperti pada nomor Tak Lelo Ledhung. Tapi di sini, Oni juga menyuguhkan kekayaan karya dari Sumatera Barat seperti yang ada pada repertoar Timang Si Bunyung, Upiak. Lalu ada juga lagu menjelang tidur yang terdapat dari Sulawesi Tengah pada judul Oa-Oa atau Pupuh Pucung 'Sucita Subudi' dari Bali. Sedangkan salah satu yang hingga kini masih tetap terkenang adalah senandung Nina Bobo yang dikemas ulang oleh Dimawan Krisnowo Adji. 


Di penghujung penampilan, para penonton seperti tak ingin segera berpisah. Mereka masih meminta rombongan Sa'Unine Orchestra untuk terus 'mengamen'. Alhasil, disajikanlah sebuah lagu daerah dari Kalimantan berjudul Paris Barantai dan Padang Bulan -- lagu rakyat dari Jawa.

Melihat Discus yang Kompromi dalam Atmosfera


Dalam salah satu seloroh, ada yang menyebut grup band Discus itu lebih condong memainkan 'musik kehendak'. Selorohan itu merujuk karena musikalisasi yang dibawakan Discus lebih memilih bermain di luar ranah arus utama industri musik di negeri ini.

Tapi berbekal dengan musik semacam itu, pamor Discus justru lebih mentereng di luar negeri. Grup yang didalamnya memadukan unsur-unsur musik rock, jazz, klasik, metal, dan musik tradisional Indonesia itu ternyata memiliki penggemar di benua Eropa hingga Amerika. Kalaupun manggung, Discus tidak tampil secara terbatas di hadapan pelajar Indonesia yang merantau ataupun para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di luar negeri.

Ya, Discus telah membuat relung penggemar lintas batas negara. Tapi kini, Discus seperti tengah menghadapi dilema. Iwan Hasan yang menjadi salah satu motor penggeraknya telah mengikrarkan diri untuk hengkang dari Discus. ''Saya sudah memutuskan keluar dari Discus,'' kata Iwan ketika ditemui pada peluncuran proyek terbarunya yang bertajuk Atmosfera.

Ia merasa memiliki beban psikologis jika harus bertahan di Discus. ''Saya mundur karena (Anto) Praboe sudah almarhum meninggal dunia. Jadi saya merasa musik seperti itu sudah berat dan ini buat saya adalah masalah psikologis,'' ujarnya.


Lantas adakah Iwan Hasan menjadi berpatah arang untuk terus berkarya? Oh tentu tidak, jika mengutip tagline sebuah produk makanan, untuk menggambarkan semangat Iwan untuk selalu berkarya. Iwan bersama sahabatnya di Discus, Fadhil Indra, mencoba menerjemahkan misi Discus yang lebih 'membumi'. Jika Discus dahulu banyak berorientasi ke luar negeri, maka proyek bernama Atmosfera ini ditujukannya untuk berkompromi terhadap selera industri.

Di dalam Atmosfera ini, Iwan (keyboard,gitar) bergandengan dengan Terry Manuputty (bass), Earl Pramudji (gitar) dan Fitra (vokal). Sementara Fadhil yang selama ini banyak berperan sebagai keyboardist, di dalam proyek Atmosfera duduk manis menabuh drum. ''Ini sebuah tantangan buat kita semua,'' kata Fadhil mengenai keterlibatannya di dalam Atmosfera. ''Saya sih berharap musik Atmosfera ini bisa diterima di semua kalangan.''

Bens Leo, pengamat musik nasional, bahkan dengan lantang menilai Atmosfera ini sebagai bentuk Discus yang tampil lebih nge-pop. ''Di dalamnya banyak sentuhan yang berupaya untuk dapat berkompromi dengan selera pendengar kebanyakan,'' ujarnya.

Lagu yang dinilai 'komersial', menurut telinga Bens, dapat disimak pada lagu Diam. Lagu yang dipasang pada track pembuka ini mencoba melakukan eksplorasi yang nge-pop. ''Di sana coba dipadukan bunyi piano, gitar elektrik, drum, bass, tapi juga diperkaya dengan musik babu rindik dari Bali dan improvisasi vokal Fitra yang jazzy. Jadi di sini terlihat sebuah kekuatannya,'' kata Bens menilai.

Usaha untuk berkompromi juga dapat disimak dari durasi di setiap lagu yang terselip di album bertajuk Negeri Cinta ini. Jika di Discus kita bisa menemukan durasi sebuah lagu hampir 20 menit, maka di Atmosfera ini semuanya coba dipersingkat.

''Buat saya, mau panjang maupun pendek (sebuah lagu), selalu ada tempatnya masing-masing. Nah untuk di Atmosfera kita merasa lagu-lagu kita sudah cukup ringkas seperti yang diinginkan selera sekarang,'' kata Iwan yang menjadi komposer di dalam proyek ini.

Kolaborasi Maya Hasan Selain melakukan kompromi pasar, Atmosfera ternyata juga melakukan kompromi dalam bentuk kekeluargaan. Kompromi -- lebih tepatnya disebut kerjasama -- ini dapat dilihat dari keterlibatan tiga bersaudara dari keluarga Hasan.

Selain Iwan Hasan, di proyek ini ada juga Syafei Hasan. Ia berperan sebagai eksekutif produser bagi kedua adik kandungnya. Sedangkan Hasan yang satunya lagi adalah Maya Hasan. Maya adalah seorang harpanis ternama yang sudah menyimpan segudang pengalaman. Di album ini, Maya ditampilkan sebagai additional musician pada lagu Negeri Cinta. Lagu ini sekaligus juga menjadi singel utama bagi debut album Atmosfera.

''Saya sangat senang bisa terlibat di sini. Kebetulan saya sudah mengenal para personelnya sejak lama. Ketika mereka menelurkan album Atmosfera, tentunya ini berbeda dengna Discus. Saya menilai album ini tidak sembarangan, namun juga enak didengar,'' Maya memaparkan isi hatinya ketika dilibatkan dalam proyek Atmosfera ini. ''Meski cuma kebagian satu, saya tetap senang kok. Semoga album dan lagu-lagu dari Atmosfera ini bisa diterima dan diapresiasi dengan baik,'' sambung Maya kembali.

Lantas untuk lebih membuat 'bunyi' yang lebih bergaung keras, Atmosfera memang secara khusus menyasar pendengar dalam negeri saja. ''Sebenarnya permintaan album Atmosfera ini sudah ada juga yang datang dari luar. Ada yang dari Brasil, Uruguay, sampai ke Italia. Mereka menanyakan tentang album Atmosfera. Tapi kita menyadari, Atmosfera ini sebaiknya untuk bisa menjaring pasar dalam negeri saja. Kebetulan juga lirik-lirik lagunya kan masih berbahasa Indonesia,'' ujar Iwan.

Rabu, 14 September 2011

Utha Likumahuwa, Bung, Luka Itu Jadi Penanda



Bung Utha, senyampang Bung masih berada di tengah kami, sebelum bumi menerima jasad dan Tuhan menyambut Bung kembali, izinkan kami bicara. Dunia sepertinya sudah tua, Bung. Lihatlah. Seolah kematian makin akrab. Seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa*.


Dua hari lalu, seniman Sunda, Darso. Kemarin Bung dijemput-Nya dari kami semua. Bung, tiga bulan lalu kami semua terenyak membaca berita. Dalam sebuah perjalanan mulia, silaturahim mengunjungi saudara ke Pekanbaru, Bung terkapar dihajar stroke. Juni lalu itu pun membuka fakta yang sebelumnya mungkin tak pernah Bung duga.

Aktivitas dan tanggung jawab yang padat serta kerinduan untuk selalu memberi sesuatu pada dunia seni negeri ini membuat Bung mengesampingkan kenyataan betapa ringkihnya kita sebagai manusia. Saat pemeriksaan itu, terkuak bahwa Bung pun mengidap diabetes dan gangguan jantung. Belum lagi sebab yang membuat Bung terkapar itu: penyumbatan pembuluh darah.

Setelah itu, Bung diminta-Nya bersabar dengan kelumpuhan di sisi kanan tubuh. Dan, kami melihat Bung begitu sabarnya. Mungkin terilhami lagu yang sering Bung nyanyikan, "Tuhan pun tahu hidup ini sangat berat. Tapi, takdir pun tak mungkin selalu sama."

Di mata kami, Bung terlihat begitu rela. Tetapi memang, bagaimana tidak. Di usia 56, puncak kiprah seorang manusia, Bung telah menorehkan banyak catatan bersejarah. Bermula pada 1981, saat menyanyikan "Tembang Pribumi" karya Christ Kayhatu dalam Lomba Cipta Lagu Remaja, nama Bung mulai dilirik publik musik. Setelah itu, yang ada hanya prestasi.

Bung meraih gelar Penampilan Terbaik Kedua pada ASEAN Pop Song Festival 1989 di Manila. "Sesaat Kau Hadir" yang Bung bawakan juga menjadi lagu terbaik di festival itu. Bung jugalah Sang Juara II Asia Pacific Singing Contest di Hong Kong (1989), Juara Kedua Asia Pacific Broadcasting Union/ ABU Golden Kite World Song Festival di Kuala Lumpur (1990), saat berduet dengan Trie Utami.

Andil Bung dalam dunia musik Indonesia pun tak ternafikan dengan belasan album yang Bung terbitkan. Bung, kami bisa belajar dari optimismemu. Dalam keharusan operasi tempurung kepala, kami dengar kau tak kehilangan gembira. Kita tahu, operasi itu yang membuatmu beralasan meninggalkan kami kemarin, Rabu (13/9).

Biarlah luka itu justru akan jadi penanda pertemuan kita nanti. Tak hanya raut muka. Bahkan kelihatan bekas luka, dekat kening. Kami tahu, Bung tak memaksakan diri. Untuk pergi meninggalkan** kami.

*Dari "Dan Kematian Makin Akrab", puisi Subagio Sastrowardoyo. ** "Maaf", lagu Utha Likumahuwa

Utha Likumahuwa, Bung, Luka Itu Jadi Penanda




Bung Utha, senyampang Bung masih berada di tengah kami, sebelum bumi menerima jasad dan Tuhan menyambut Bung kembali, izinkan kami bicara. Dunia sepertinya sudah tua, Bung. Lihatlah. Seolah kematian makin akrab. Seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa*.

Dua hari lalu, seniman Sunda, Darso. Kemarin Bung dijemput-Nya dari kami semua. Bung, tiga bulan lalu kami semua terenyak membaca berita. Dalam sebuah perjalanan mulia, silaturahim mengunjungi saudara ke Pekanbaru, Bung terkapar dihajar stroke. Juni lalu itu pun membuka fakta yang sebelumnya mungkin tak pernah Bung duga.

Aktivitas dan tanggung jawab yang padat serta kerinduan untuk selalu memberi sesuatu pada dunia seni negeri ini membuat Bung mengesampingkan kenyataan betapa ringkihnya kita sebagai manusia. Saat pemeriksaan itu, terkuak bahwa Bung pun mengidap diabetes dan gangguan jantung. Belum lagi sebab yang membuat Bung terkapar itu: penyumbatan pembuluh darah.

Setelah itu, Bung diminta-Nya bersabar dengan kelumpuhan di sisi kanan tubuh. Dan, kami melihat Bung begitu sabarnya. Mungkin terilhami lagu yang sering Bung nyanyikan, "Tuhan pun tahu hidup ini sangat berat. Tapi, takdir pun tak mungkin selalu sama."

Di mata kami, Bung terlihat begitu rela. Tetapi memang, bagaimana tidak. Di usia 56, puncak kiprah seorang manusia, Bung telah menorehkan banyak catatan bersejarah. Bermula pada 1981, saat menyanyikan "Tembang Pribumi" karya Christ Kayhatu dalam Lomba Cipta Lagu Remaja, nama Bung mulai dilirik publik musik. Setelah itu, yang ada hanya prestasi.

Bung meraih gelar Penampilan Terbaik Kedua pada ASEAN Pop Song Festival 1989 di Manila. "Sesaat Kau Hadir" yang Bung bawakan juga menjadi lagu terbaik di festival itu. Bung jugalah Sang Juara II Asia Pacific Singing Contest di Hong Kong (1989), Juara Kedua Asia Pacific Broadcasting Union/ ABU Golden Kite World Song Festival di Kuala Lumpur (1990), saat berduet dengan Trie Utami.

Andil Bung dalam dunia musik Indonesia pun tak ternafikan dengan belasan album yang Bung terbitkan. Bung, kami bisa belajar dari optimismemu. Dalam keharusan operasi tempurung kepala, kami dengar kau tak kehilangan gembira. Kita tahu, operasi itu yang membuatmu beralasan meninggalkan kami kemarin, Rabu (13/9).

Biarlah luka itu justru akan jadi penanda pertemuan kita nanti. Tak hanya raut muka. Bahkan kelihatan bekas luka, dekat kening. Kami tahu, Bung tak memaksakan diri. Untuk pergi meninggalkan** kami.

*Dari "Dan Kematian Makin Akrab", puisi Subagio Sastrowardoyo. ** "Maaf", lagu Utha Likumahuwa

Kamis, 04 Agustus 2011

Beradu Kuat Merebut Film Hollywood

Film Hollywood jika digambarkan layaknya gula yang selalu menjadi incaran para semut. Gara-gara daya pikat film-film blockbuster dari negeri Paman Sam itu, kini perseteruan para pebisnis perbioskopan Tanah Air telah terpantik untuk saling merebut untung.
Perseteruan para pengusaha itu ternyata juga membawa pemerintah ke pusaran konflik. Presiden Komisaris Blitz Megaplex, AM Hendropriyono, menuding, pemerintah -- dalam hal ini Kementerian Budaya dan Pariwisata -- telah berperan dalam melanggengkan praktek monopoli.

Jika sebelum diboikotnya pemutaran film Hollywood di Tanah Air, klaim monopoli mengarah pada 21 dan XXI. Pengakuan ini sempat diakui oleh Menbudpar Jero Wacik pada jumpa pers yang dilakukannya pekan lalu di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.

''Dulu memang (dikuasai) 100 persen. Tetapi sekarang 21 dan XXI hanya (menguasai) 80 persen saja (distribusi film impor),'' kata Jero Wacik.

Tapi setelah keran film Hollywood kembali dibuka -- hal ini ditandai dengan diputarnya film Transformers: Dark of the Moon dan Harry Potter and the Deathly Hallows Parts-2 -- masalah monopoli tetap saja menjadi kata yang tak pernah hilang dalam setiap perbincangan.

Tudingan monopoli itu muncul karena PT Omega -- perusahaan yang telah mendapat kepercayaan sebagai mitra major studio Hollywood -- dinilai masih satu baju dengan 'pemain lama' yang pernah melakukan praktek monopoli.

Raam Punjabi, produser dari Multivision Plus, mengatakan PT Omega dan 21 itu masih sama. Ia mengungkapkan, dirinya sudah pernah melakukan negosiasi dengan pihak MPAA (Motion Pictures Association of America).

''Dari pertemuan itu MPAA hanya mau memberikan film-filmnya kepada agennya yang memiliki gedung bioskop yang banyak saja. Nah itu artinya Omega dan 21 itu sudah ada satu bukti,'' ujarnya.

Namun tudingan Raam itu ditampik oleh Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Djonny Syafruddin. Ia menyangkal jika praktek monopoli masih dilakukan oleh pemain lama.

Meski demikian Djonny mengakui untuk kepemilikan bioskop saat ini masih didominasi oleh pihak 21. Dari sekitar 676 layar yang tersebar di 210 bioskop, pihak 21 menguasai hampir 80 persen. Lalu Blitz memiliki sekitar 37 layar. ''Tapi Blitz bukan anggota kami,'' cetus Djonny.

Sedangkan dari pihak Blitz memberikan data yang berbeda kepada Republika. Dari tujuh lokasi, jumlah layar keseluruhan sebanyak 66 layar.

Nah mengapa persoalan dugaan monopoli ini bisa menjadi buah bibir yang begitu sengit dibahas? Ilham Bintang dalam sebuah percakapan kepada Republika pernah membeberkan gepokan rupiah yang berhasil diraup dari pengusaha bioskop ketika memutar film Hollywood.

Ilham mengungkapkan sepanjang tahun lalu pemasukan hasil penjualan tiket penonton bioskop nasional yang diterima dari penayangan film asing di Indonesia nilainya mencapai Rp780 miliar. Jumlah tersebut berasal dari 65 judul film.

''Tapi dari jumlah tersebut, pemerintah ternyata hanya mendapatkan penerimaan dalam bentuk pajak bea masuk sekitar Rp5 miliar saja,'' ujarnya.

Data itu juga kian diperkuat lagi ketika film-film Hollywood tidak ada diputar di bioskop nasional sekitar lima bulan terakhir. Pada periode tersebut, Djonny mengakui, telah terjadi penurunan pemasukan. Ia mengambil sampel di Jakarta. Penurunannya, kata dia, mencapai 60 persen.

Angka itu menyitir dari data Dinas Pendapatan Daerah Jakarta. Pada Januari pendapatan bersih pajak hiburan khusus dari bioskop di Jakarta mencapai Rp3,9 miliar. Angka itu didapat sebelum film Hollywood absen di bioskop nasional.

''Sedangkan pada Juni, angka yang didapat hanya ada sekitar Rp 1,8 miliar saja. Itu artinya film asing memang masih lebih menguntungkan dibanding film lokal bagi para pengusaha bioskop,'' ujar Djonny dalam perbincangannya melalui saluran telpon kepada Republika.