Selasa, 21 Juni 2011

EVOLUSI GAMBANG KROMONG (2), Eksperimen Teng Tjoe, Kemarahan Generasi Tua



Sejak awal perkembangannya, orkes gambang bukan sekadar musik pengiring para penyanyi, atau dipergelarkan layak orkes simfoni, tapi sering dimainkan sebagai musik latar pertunjukan teater dan pengiring tarian (ngibing).

Teater pertama bukan lenong Betawi seperti kita kenal saat ini, tapi sandiwara Cina. Pemainnya adalah pria dan wanita belum dewasa, atau di bawah umur. Tidak ada catatan ba gaimana teater itu dimainkan. Phoa Kian Soe hanya mengatakan, teater dimainkan dalam bahasa Tionghoa.

Cerita yang ditampilkan kebanyakan dari daratan Cina. Salah satunya, dan merupakan cerita silat, adalah Sie Djin Kwi Tjeng Tang. Kian Soe juga tidak menyebut cerita-cerita lainnya, karena pada 1940-an tidak ada lagi yang mewarisi. Lenong Tionghoa, sebut saja begitu, relatif telah hilang dari panggung pertunjukan masya rakatnya, karena hampir tidak ada upaya menelusuri dan menemukannya kembali. Terlebih, masyarakat peranakan Tionghoa yang lahir di pertengahan abad ke-19 relatif mulai meninggalkan bahasa leluhurnya.

Lenong Betawi baru muncul di penghujung abad ke-19, dan berkembang di awal abad ke-20. Almarhum Firman Muntaco mengatakan, lenong Betawi bukan adaptasi dari Cina, tapi teater stambul.

Menjadi Gambang Kromong
Sejarawan Betawi mengenal Oey Tamba Sia sebagai playboy yang mati di tiang gantungan dan relatif mengabaikan peran sang letnan dalam bis nis suhian di Batavia. Suhian adalah rumah plesir atau tempat hibur an–ti dak beda dengan coffee house atau diskotek saat ini.

Namun, kata suhian hanya digunakan untuk rumah plesir biasa, bu kan milik para orang kaya. Rumah ple sir milik letnan, mayor, atau kapi ten, disebut empang atau kebon. Ti dak ada keterangan mengapa kedua kata digunakan untuk rumah plesiran.

Yang pasti, Bintang Mas–rumah plesir yang didirikan Oey Tamba Sia di Ancol– dikelilingi empang. Mayor Tan Eng Goan, pesaing serius Tamba Sia, membuat rumah plesir di Kebon Baru, yang diberi nama Kebon Mayor.

Di penghujung abad ke-19, sejumlah suhian berdiri di Pasar Baroe, Tanah Abang, dan Pasar Senen. Tan Wang Wee, salah satu pebisnis suhian pascaera Oey Tamba Sia, mengelola rumah plesiran di Senen.

Setiap suhian memiliki kelompok pemain orkes gambang dan beberapa penyanyi serta gadis-gadis yang siap diajak ngibing. Bagi pemain gambang, menjamurnya suhian adalah lahan pekerjaan paling menarik.

Akibatnya, muncul kelompok-kelompok orkes gambang, tidak hanya dari kalangan Tiong hoa tapi juga pribumi. Persaingan antarkelompok orkes gambang tak terhindarkan. Per saing an inilah yang memicu revolusi musim orkes gambang.

Revolusi paling berani dilakukan Teng Tjoe, seorang kepala permukiman (wijkmeester)– sering pula disebut bek– Tionghoa, pada 1880. Ia memasukkan unsur kemong, kempul, gendang, dan gong, ke dalam orkes gambang, dan dimainkan di suhian milik Tan Wang Wee.

Orkes gambang tidak lagi mendayudayu, tapi dinamis. Pukulan gen dang khas Sunda memprovokasi pengunjung suhian untuk turun me nari, wanita penghibur dan tjio kek meng ikat kan cukin (selendang–Red) seba gai tanda mengajak pengunjung untuk menari.

Sejak saat itu masyarakat tidak lagi menyebutnya orkes gambang, tapi gambang kromong. Kelompok Teng Tjoe tak pernah sepi panggilan dari satu ke lain suhian. Puncak popularitasnya terjadi ketika kelompok Teng Tjoe tampil pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

Sukses eksperimen Teng Tjoe di Pasar
Senen memprovokasi Nam Ho, seorang
bek di Tanah Tinggi, mela kukan hal
serupa. Ia memasukkan unsur baru,
yaitu menabuh mangkok Cina yang diisi
air. Eksperimen ini juga menarik perha -
tian, tapi sulit dimainkan di tempat
terbuka.

Di Kwitang, Tjoe Kong Koen melakukan eksperimen lain. Ia memadukan gambang kromong dengan piano dan menyebutnya gambang piano. Eksperimen ini sempat mena rik perhatian penikmat musik saat itu, tapi tidak lama.

Booming suhian dan keberanian pelaku permainan orkes gambang melakukan eksperimen, tak luput dari perhatian masyarakat Tionghoa kelas atas di Batavia. Mereka menyebut gambang kromong sebagai orkes gambang liar. Para panjak, atau pemain gambang kromong, dituding telah merusak kaidah asli orkes gambang.

Akibatnya, menjadi panjak bukan lagi profesi terhormat. Bahkan, menurut Kian Soe, nyonya terhormat menyebut panjak sebagai setan su hian. Di sisi lain, suhian bukan lagi sekadar rumah plesir para orang ka ya untuk mendengar penyanyi ‘piaraan’-nya beraksi, tapi berubah menjadi tempat prostitusi.

Perempuan pribumi dari desa-desa di pinggir Batavia, tanpa kemampuan menyanyi, datang mengisi suhian dan menjadi teman ngibing dan menjual tubuh. Pelanggannya bukan lagi babababa, atau orang-orang kaya, tapi anakanak muda kelas menengah Tionghoa.

Kalangan kelas menengah atas masyarakat Tionghoa merespons situasi ini dengan melarang anak-anak mereka bermain musik. Mereka menyebut pemain gambang kromong bermoral rendah, dan tidak tahu malu. Masih banyak lagi kata-kata tak sedap disematkan kepada pemain gambang kromong saat itu.

Reaksi itu tidak menghentikan perkembangan gambang kromong sebagai musik populer. Gambang kromong perlahan tapi pasti mengubur eksistensi orkes gambang dengan suara tjiokek-nya yang mendayu-dayu, dan meminggirkan pemainnya.

Kalangan generasi tua Tionghoa tidak diam. Kian Soe mencatat tahun 1913, sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa di Batavia; Boe Gie Hong, Tan Tjoen Hong alias Endong, Lim Tjio San alias Serang, Tan Jan Tji, dan masih banyak lagi, menemui Khoe Siauw Engsekretaris Majelis Kongkoan Batavia.

Mereka menyampaikan kegundahan akan terpinggirkannya orkes gambang, akibat serbuan gambang kromong. Lagu-lagu orkes gambang tidak lagi dimainkan dengan kaidah yang benar dan sesuai partitur, tapi dirusak sedemikian rupa.

Khoe Siauw Eng, yang memahami orkes gambang dengan baik, merespons positif pengaduan mereka. Ia menyediakan diri untuk diangkat sebagai pemimpin kelompok orkes gambang Ngo Hong Lauw, mendirikan klub, dan mengampanyekan pentingnya melestarikan orkes gambang.

Upaya Siauw Eng tak sia-sia. Siauw Eng memanfaatkan popularitasnya sebagai sekretaris Majelis Kongkoan untuk menghimpun anggota klub, dan berhasil. Ketika anggota klub sedemikian banyak, Siauw Eng memindahkan tempat permainan orkes gambang ke gedung yang lebih besar.

Setiap pekan, atau pada hari-hari tertentu, Siauw Eng dan para penggede Tionghoa di Batavia berkumpul untuk menikmati orkes gambang, dengan la gu-lagu yang dimainkan sesuai kaidah aslinya. Namun, hanya itu yang bisa dilakukan Siauw Eng. Ia tidak bisa melebarkan sayapnya, dengan membentuk perkumpulan lain di beberapa tempat.

Entah sampai berapa lama orkes gambang kembali populer sebagai mu sik kelas menengah ke atas. Di sisi lain, gambang kromong kian mapan se bagai musik kelas menengah ke ba wah. Tidak lagi melulu dimainkan masyarakat Tionghoa, tapi juga pribumi.

Ngo Hong Lauw melewati dua masa krisis; kematian Siauw Eng dan pendudukan Jepang. Mereka bisa melewatinya berkat bantuan keuangan Tan Liauw Lioe dan Nio Djit Seng. Selepas tahun 1960, orkes gambang warisan Tionghoa Batavia benar-benar telah punah akibat tidak adanya regenerasi.

Sedangkan gambang kromong kian mapan dan mapan, dan pada 1970-an mencapai puncak keemasannya dengan munculnya Benjamin S, Ida Royani, Lilis Suryani, dan lainnya. Sebagai musik rakyat, gambang kromong menunggu inovasi baru dan eksperimen kreatif pelakunya.

(dikutip dari naskah Teguh Setiawan di Rubrik Teraju-Republika)

EVOLUSI GAMBANG KROMONG (1) Tidak Ada Yang Khim, Gambang Pun Jadi



Maksum (52), penyanyi gambang kromong asal Bekasi, menghabiskan setengah usianya untuk kelestarian kesenian yang diklaim milik masyarakat Betawi. Ia hafal hampir seluruh lagu gambang kromong modern, terutama lagu-lagu Benyamin S, Ida Royani, dan Lilis Suryani, tapi tak mengenal seluruh lagu yang jauh lebih tua.

“Waduh, kalo untuk lagu-lagu klasik mungkin yang bisa hanya Masnah Pang Tjin Nio,” katanya kepada Republika saat ditemui pada perayaan Pecun di Tangerang, beberapa waktu lalu.

Kosim Balada (54), pemilik gambang kromong Lenong Mini (Bang Lemin), menga ku masih mengenal beberapa repertoar klasik dan lagu lama kesenian ini. Ia tahu “Pobin Kong Ji Lok”, “Pobin Po Pan Tau”, tapi tidak tahu belasan lainnya.

Yang ia tahu, pobin—repertoar yang dimainkan pada masa awal orkes gambang, sebutan lain untuk gambang kromong—adalah musik sakral masyarakat Tionghoa. Ia coba melestarikan beberapa dengan memasukkannya ke elekton.

“Untuk lagu-lagu klasik yang saya hafal adalah ‘Kramat Karem’, ‘Gula Ganting’, ‘Mas Nona’, dan lainnya,” ujar Kosim.

Maksum dan Kosim adalah generasi terakhir gambang kromong. Maksum relatif bisa memainkan satu atau dua alat musik tradisional peranakan Tionghoa Be tawi itu. Sementara Kosim hanya penyanyi dan tidak berupaya belajar memainkan alat musik.

Keduanya, seperti kebanyakan pemain gambang kromong di sekujur Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, tidak banyak mewariskan lagu-lagu dan repertoar klasik. Bahkan, Smithsonian Folkways hanya bisa merekam dua pobin: “Kong Ji Lok” dan “Po Pan Tau”, dan memopulerkannya di Youtube.

Wikipedia sedikit lebih maju dengan mencatat sejumlah pobin: seperti “Kong Ji Liok”, “Sip Pat Mo”, “Poa Si Li Tan”, “Peh Pan Tau”, “Cit No Sha”, “Ma Cun Tay”, “Cu Te Pan”, “Cay Cu Teng”, dan “Cay Cu Siu”. Sedangkan lagu klasik (dalem) yang tercatat relatif baru. Sebut sa ja: “Centeh Manis Berdiri”, “Mas No na”, “Gula Ganting”, “Semar Gu nem”, “Gula Ganting”, “Tanjung Bu rung”, “Kula Nun Salah”, dan “Mawar Tumpah”.

Sedangkan lagu-lagu pop (sayur), yang relatif telah menjadi klasik adalah “Jalija li”, “Stambul”, “Centeh Manis”, “Surilang”, “Persi”, “Balo-balo”, “Akang Haji”, “Renggong Buyut”, “Jepret Payung”, “Kramat Karem”, “Onde-onde”, “Gelatik Ngunguk”, “Lenggang Kangkung”, dan “Sirih Kuning”.

Tidak ada keterangan tahun penciptaan lagu-lagu di atas. Seolah lagu-lagu itu, pobin maupun lagu klasik, telah ada begitu saja dan telah sedemikian lama.

Evolusi
Gambang kromong yang kita kenal saat ini telah mengalami evolusi selama lebih 200 tahun. Sebagai seni musim pertunjukan, gambang kromong serangkaian dimodifikasi. Ketika keluar dari lingkung an elite masyarakat Tionghoa Batavia, gambang kromong menjadi permisif terhadap inovasi baru.

Ketika gambang kromong kali pertama dimainkan masyarakat Tionghoa Batavia pada 1743, etnis Betawi belum ada. Menggunakan studi Lance Castle, antropolog Dr Yasmine Zaki Shahab MA memperkirakan etnis Betawi baru terbentuk antara 1815-1893.

Sensus Pemerintah Hindia-Belanda tahun 1893 menunjukkan lenyapnya sejumlah suku bangsa yang pernah mendiami kawasan pinggiran Kota Batavia: Moor, Jawa, Sunda, Sumbawa, Ambon, Banda, dan Melayu. Sebagai gantinya, sejumlah penduduk menyebut diri sebagai Betawi. Pada sensus 1930, Pemerintah Hindia-Belanda memunculkan kategori baru dalam lembar sensus, yaitu orang Betawi.

Catatan terakhir mengenai evolusi gambang kromong terdapat dalam majalah Pantjawarna—majalah pengganti mingguan Sin Po, yang tidak terbit sejak kedatangan Jepang—edisi 9 Juni 1949. Catatan itu berupa artikel hasil wawancara dengan Phoa Kian Soe, penulis naskah film dokumenter: “Anak Naga Beranak Naga, Gambang Kromong: Akulturasi Budaya Tionghoa Betawi”.

Dalam artikel itu, Kian Soe bertutur bagaimana dia harus mengitari Tangerang, Bekasi, dan sekujur Jakarta untuk menghimpun data soal gambang kromong dan repertoar klasiknya serta mencari tahu sejarah perkembangan kesenian itu dari masa ke masa. Ia mewawancarai pemain gambang kromong yang telah lanjut usia, tapi masih memiliki ingatan kuat.

“… saja telah bisa dapetken noot dari lagoe-lagoe, jang kebanyakan dari pemaen-pemaen orkest gambang djeman sekarang tida mengarti, terketjoeali marika jang paham hoeroef Tionghoa,” tulis Kian Soe.

Menurut Kian Soe, tidak ada yang tahu kapan orkes gambang—demikian kesenian ini kali pertama disebut—dimainkan. Cerita yang dituturkan orang-orang tua menyebutkan kesenian ini kali pertama diperkenalkan saat menyambut kembalinya Kapiten Nie Hoe Kong.

Nie Hoe Kong adalah tokoh pemberontakan di dalam Kota Batavia tahun 1740, yang menyebabkan pembantaian lebih 10 ribu Tionghoa. Ia dibuang ke Makassar oleh Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier. Pada 1743, Gubernur Jenderan Baron van Imhoff membebaskannya.

Lim Beng, panitia penyambutan, mengumpulkan lima perangkat orkes gambang. Setiap perangkat terdiri atas soekong, hosiang, thehian gihian, kongngahian, sambian, soeling, pan (ketjrek), dan ningnong. Saat itu, instrumen gambang belum masuk karena masya rakat Tionghoa masih mencari Yang Khim—alat musik khas tradisional Cina yang biasa dikombinasikan dengan soekong, hosiang, thehian, dan gihian. Mereka yakin kelak akan ada pendatang baru dari daratan Cina yang membawa Yang Khim.

Harapan tinggal harapan, alat musim itu tak pernah singgah di Batavia. Di luar tembok kota, gambang telah dimainkan sebagian masyarakat Tionghoa, tapi dengan cara berbeda. Menurut Kian Soe, di tangan orang Tionghoa dan pribumi sekitar, suara menjadi tidak halus, dan dimainkan di luar kaidah musik tradisional Jawa.

Tidak diketahui kapan gambang mulai menjadi bagian permainan musik Tionghoa di kota Batavia. Yang pasti, alat musik ini mulai coba dikombinasikan dengan soekong, thehian, kongahian, pan, sambian, dan gehian, setelah masyakat Tionghoa lelah menunggu Yang Khim.

“Pemaen-pemaen “Orkest Gambang” haroes ada orang-orang jang mengenal hoeroef Tionghoa, kerna goe na maenken lagoe-lagoe Pobin, marika moesti menoeroet betoel pada noot,” tulis Kian Soe.

Keharusan mengenal huruf Cina membuat gambang kromong pada awal perkembangannya tidak mungkin dimainkan masyarakat pribumi. Perge laran orkes gambang tidak ubahnya konser musik klasik di gedung-gedung kesenian di Barat karena di hadapan setiap pemain alat musik terdapat partitur.

Akibatnya, orkes gambang hanya dimainkan di rumah-rumah orang kaya; kaptoa (kapiten), kapja (letnan), dan siasia —atau anak-anak para kapten dan letnan. Orkes gambang kerap hadir di rumah-rumah mereka saat ulang tahun, perkawinan, atau pesta-pesta tertentu.

Kian Soe mencatat pada beberapa dekade awal, orkes gambang memainkan pobin dengan partitur. Pobin terdiri atas beberapa. “Matodjin”, “Si Djin Kwi Hwee Ke”, “Lui Kong”, “Tjoe Te Pan”, “Tjhia Pe Pan”, “It Ki Kim”, “Tay Peng Wan”, “Pek Bouw Tan”, “Tjay Tjoe Sioe”, dimainkan sebagai persembahan untuk yang berulang tahun (shejit).

Kim Hoa Tjoen, Lioe Tiauw Kim, Sie Say Hwee Ke, Ban Kim Hoa, Pat Sian Kwe Hay, Po Pan Tauw, Lian Hoa The, Tjay Tjoe Teng, Say Ho Liu, Hong Tian, Tjoan Na, Kie Seng Tjo, Tjiang Koen Leng, Tio Kong In, Sam Pauw Hoa, Pek Houw Tian, Kim Soen Siang, Phay In, dimainkan sebagai persembahan kepada para pembesar. Sedangkan Kong Ji Lok biasanya merupakan pembuka sebelum penyanyi (tjokek atau zangeres) membawakan lagu tertentu.

Di luar pobin, terdapat sejumlah lagu berbahasa Tionghoa dan Melayu. Lagu Tionghoa yang populer adalah Tauw Tiat, Dji Tiat, Sam Tiat, Tauw To, Dji Toh, Sam To, Si To, Gouw To, Lak To, Tjit To, dan Pe To. Sedangkan lagu berbahasa Melayu yang populer adalah Dempok, Temenggoeng, Menoelis, Engkosi Baba, Indoeng-indoeng, Mas Nona, Djoeng djang Semarang, Bong Tjeng Kawin, Koelannoen Salah, Bangliau, Goenoeng Pajoeng, Petjahpiring, dan Tandjoeng Boeroeng.

Semua lagu-lagu cenderung mendayudayu dan tidak bisa dijadikan pengiring dansa atau ngibing. Pun, tidak banyak yang piawai menyanyikan lagu itu karena membutuhkan kemampuan olah vokal prima. Jadi, hanya para cokek atau zangeres, penyanyi wanita gambang kromong, papan atas yang bisa menyanyikannya.

Pada 1949, Kian Soe pernah meminta beberapa grup gambang kromong dan banyak penyanyi memainkan lagu ini, tapi tidak satu pun yang bisa. Meski demikian, Kian Soe cukup gembira karena Lim Tjio San menuliskan not lagu di atas secara lengkap, kecuali Dempok.

Tidak ada yang tahu di mana Tjio San menyimpan partitur ini. Kalaupun ditemukan, mungkin tidak ada lagi yang bisa membaca partitur itu dan memainkannya.

(dikutip dari naskah Teguh Setiawan di rubrik Teraju-Republika)

Sepenggal Sejarah Inggris di Dalam Ironclad


Sejauh manakah Anda mengenal sistem monarki konstitusional di Inggris? Ups, tulisan ini bukan berniat mengajak Anda untuk mengenal tentang seluk beluk sistem pemerintahan. Ya, tulisan ini memang bukanlah sebuah ujian buat Anda! Tetapi jika Anda masih awam tentang monarki konstitusional di Inggris maka film Iron Clad setidaknya akan mengajak Anda untuk selintas memahaminya.

Film indie garapan Jonathan English Ini  menyitir kisahnya dari sebuah peristiwa bersejarah di Inggris. Sebuah penggalan sejarah yang pernah lahir pada abad pertengahan, 1215 Masehi. Pada periode waktu tersebut terlahirlah sebuah kesepakatan penting bernama Magna Carta. Sebuah piagam yang prinsip dasarnya memuat pembatasan kekuasaan raja.

Tapi apakah esensi bersejarah itu akan terasa garing ketika diadaptasikan rangkaian ceritanya ke sebuah film berdurasi 121 menit? Tidak! Jonathan English, Erick Kastel, dan Stephen McDool yang menjadi penulis cerita dan skenario, paham benar tuntutan sebuah film yang menghibur.

Di dalam film ini dihadirkan juga kisah asmara yang terjadi pada seorang ksatria templar Marshall Thomas (James Purefoy) dengan Isabel (Kate Mara). Ksatria templar ini merujuk pada pengertian legiun pasukan perang dan pengawal kepercayaan raja yang ikut serta secara aktif menjadi pasukan Perang Salib.

Lalu yang tak akan kalah membuat adrenalin Anda bakal bergolak, film ini memperlihatkan adegan-adegan kekerasan yang nyaris mendekati nyata. Mari kita bayangkan bagaimana perasaan Anda ketika seorang manusia, bagian kaki dan tangannya dipancung. Lalu dari proses itu diperlihatkan cucuran darah yang terlihat merah segar! Hmm...

Potret-potret kekejaman itu bukanlah sebuah rekaan. Tapi potret itu sepertinya ingin mengajak para penonton bahwa berdiri tegaknya kebebasan atau monarki konstitusional di Inggris itu juga harus diwarnai dengan pengorbanan melalui beragam aksi kekerasan.

Periode brutal dan kegelapan itu ditandai ketika Raja John (Paul Giamatti) berkuasa. Saat itu para bangsawan dan templar melakukan pemberontakan terhadap kelaliman sang raja. Dalam tahapan itu ditandai dengan hadirnya kesepakatan piagam Magna Carta. Tetapi konflik dari film ini dihadirkan ketika Raja John berupaya melakukan aneksasi terhadap benteng Rochester. Benteng ini menjadi tempat strategis untuk bisa menguasai wilayah selatan Inggris.



Usaha aneksasi Raja John itu berlatar amarah setelah ia telah dipaksa untuk menandatangani piagam Magna Carta. Salah satu penandatangan piagam itu adalah Baron Albany (Brian Cox). Albany menentang perilaku raja yang megalomaniak dan haus darah. Ia memimpin aksi pemberontakan terhadap Raja. Ia kemudian mengumpulkan sekelompok prajurit yang mendapat restu dari pemimpin gereja.

Dari sekelompok prajurit itu ada Ksatria Templar yang dihantui rasa bersalah atas kekejaman yang telah ia lakukan selama perang salib. Lalu ada juga Beckett (Jason Flemyng) yang tidak hanya berjuang untuk Tuhan dan negaranya tetapi juga haus darah dan berperang demi mendapatkan bayaran.

Kemudian dari para kelompok prajurit pimpinan Albany itu ada juga tokoh bernama Guy (Aneurin Barnard) yang merasakan bagaimana pengalaman membunuh dan berperang untuk kali pertama dalam hidupnya. Total prajurit yang dipimpin Albany ketika berada di benteng Rochester itu hanya berjumlah 20 personel. Mereka berperang melawan seribu balatentara bayaran Raja John. Pertempuran ini berlangsung cukup lama.

Selama periode perang itulah tersaji beragam adegan-adegan yang boleh jadi membuat Anda bakal menutup mata karena tak kuasa melihat kepingan-kepingan tubuh manusia harus terpisah dari tubuhnya. Tetapi sekali lagi, film ini bukan berniat untuk menjual kekerasan. Namun di balik semua itu, film yang disutradarai oleh Jonathan English ini sarat dengan pesan-pesan humanis seperti pentingnya kesetiaan, keberanian dan tak alpa tentunya; cinta!
n mohammad akbar 

Jumat, 01 April 2011

Nasib Fim Nasional di Simpang Jalan



''Baik buruknya sebuah film bukan tergantung pada filmnya tetapi tergantung pada pembikinnya.'' Sebuah penggalan kalimat itu menjadi penutup dari video dokumenter kehidupan  Usmar Ismail yang di tayangkan pada puncak perayaan Hari Film Nasional ke-61 Balairung Sapta Pesona Kementerian Budaya dan Pariwisata di Jakarta, Rabu (30/3).

Ketika kalimat itu kembali terucap, boleh jadi tubuh Usmar telah berkalang tanah. Tetapi ucapan bapak perfilman Indonesia itu rasanya masih cukup relevan untuk memotret perilaku sebagian pembuat film nasional yang hanya berpikir instan: hanya mencari untung!

Film, yang sejatinya menjadi bagian dari produk kebudayaan, dalam setiap masanya selalu saja dihadapkan pada dilema bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, ada tuntutan untuk menjadikan film sebagai identitas kebangsaan. Tapi di sisi lain, ada juga tuntutan meraup untung lewat sebuah produk bernama hiburan.

Sebagai sebuah produk hiburan yang hanya berpikir mencari untung, tak jarang para pembuat film terjebak dengan mengabaikan nilai-nilai estetika seni, logika cerita hingga pentingnya kedalaman karakter peran.

''Ini menjadi seperti set back seperti dulu lagi, jika tidak berbuat maka bukan tidak mungkin industri film ini bisa kembali lagi mati suri,'' kritik Deddy Mizwar di sela acara perayaan puncak Hari Film Nasional di Jakarta.

Apa yang diucapkan Deddy ini merujuk pada maraknya film esek-esek dan hantu yang sempat menjadi trend di era 1990-an. Sebagai puncaknya, selama hampir 12 tahun lamanya, industri kreatif layar perak ini kemudian seperti kehilangan darah, tak lagi bergeliat.

Tapi setelah era itu berlalu -- ditandai dengan pembuatan Petualangan Sherina karya Riri Riza pada 2002 -- ternyata kecenderungan untuk kembali lagi mengulang prosesi mati suri mulai ditunjukkan lagi. Jika Anda kerap ke bioskop, boleh jadi Anda akan tersenyum simpul ketika membaca judul-judul film seperti Hantu Seluler, Arwah Goyang Kerawang, Dedemit Gunung Kidul, Hantu Tanah Kusir, Jenglot Pantai Selatan, dan lain sebagainya.


Meski judulnya terdengar absurd, tetapi tak sedikit dari judul-judul itu yang justru meraih jumlah penonton terbanyak. Kerap kali, judul-judul itu meroket jumlah penontonnya setelah berhasil memantik beragam kontroversi. Sebutlah misalnya bagaimana Hantu Tanah Kusir pernah membukukan rekor jumlah penonton terbanyak dalam sepekan pada 2010.

Film produksi Maxima Picture itu 'cukup berhasil' berkat kontroversi tampilnya Maria Ozawa yang bermain dengan nama samaran Pauleen. Sebelumnya Maria Ozawa ini sudah lebih dikenal dengan nama panggung Miyabi. Di negeri asalnya di Jepang, popularitas Miyabi lebih mentereng lewat aksinya di film biru.

Hal yang tak jauh berbeda ternyata juga sempat muncul ketika Dewi Perssik dan Julia Perez beradu akting di film Arah Goyang Karawang. Meski sempat tersiar kabar produser film itu sengaja 'menciptakan' konflik antara DP dan Jupe, namun film itu juga memantik amarah sebagian orang Karawang. Film yang dinilai melecehkan orang Karawang itu akhirnya harus rela berganti judul menjadi Arwah Goyang Jupe-Depe.

Pemerhati film nasional, Yan Widjaja, mengungkap film Arwah Goyang Jupe-Depe ini ternyata menjadi salah satu film yang paling nge-hits penontonnya di sepanjang tahun ini. ''Sampai kini jumlah penontonnya sudah menembus angka 800ribu-an,'' katanya.

Dengan raihan angka sebesar itu, film yang diproduseri oleh Shanker -- sosok yang juga pernah mengundang kontroversi di pentas Festival Film Indonesia 2006 -- sudah cukup untuk menumpuk untung. Yan menakar, film itu hanya berbujet tak lebih dari Rp3 miliar. Sedangkan dengan jumlah penonton yang menembus 800 ribu maka pemasukan yang telah diterima sekitar
Rp5,6 miliar.

Nah terkait dengan segala riuh rendah yang kini meramaikan industri film nasional, Lola Amalia hanya bisa mengelus dada saja. Lola adalah produser sekaligus sutradara. Ia pernah merasakan bagaimana pahit getirnya industri film yang kini tengah berada di simpangan jalan. Film Minggu Pagi di Victoria Park yang digarap serius hingga ke Hongkong ternyata harus gigit jari gara-gara sepinya penonton.

''Kalau dibilang meresahkan, saya merasa bisa demikian. Karena jika film-film seperti itu (film yang hanya menjual hantu dan seks dengan bujet minim) terus dibiarkan, rasanya industri film kita bisa kembali lagi ke masa suram dulu,'' kata Lola.

Saat Hanung Bramantyo Menggugat lewat Film ?




Seperti apakah memaknai kemajemukan etnis dan agama yang ada di negeri ini? Sepantasnya kah kita harus bertengkar hanya karena perbedaan? Dua pertanyaan sederhana ini mungkin saja mudah terucap tetapi kenyataannya negeri ini kerap kali terkungkung oleh satu masalah besar bernama perbedaan!

Hanung Bramantyo, pembuat film yang pernah meraih tropi Citra sebagai Sutradara Terbaik Festival Film Indonsia (FFI) 2005 dan 2007, tergelitik hatinya. Ia berupaya masuk dan coba merekam ulang perbedaan-perbedaan itu dalam kapasitasnya sebagai pembuat film.

Sejatinya, Hanung tak sedang mencela apalagi memancing sengkarut di negeri kita. Tetapi, sineas berusia 35 tahun asal Yogyakarta ini, hanya ingin mengajak kita semua untuk kembali lagi merenung 'masih pentingkah kita berbeda?'

Hasilnya? Sebuah film berjudul ? (baca tanda tanya,red) dihadirkannya. Film ini merupakan produksi perdana dari Mahaka Pictures bekerja sama dengan Dapur Film. Sebuah tanda tanya sengaja diberikan kepada judul film ini karena Hanung memang masih menyimpan tanda tanya besar ketika melihat atas nama perbedaan agama, suku, dan ras, ternyata sebagian anak negeri ini bisa saling bertikai, bahkan juga membunuh.

Mengawali cerita film, Hanung langsung menghadirkan sebuah konflik. Seorang pastur yang tengah menyambut para jemaat di muka gereja ditikam seorang pemuda. Dugaan Anda tak keliru rupanya karena pikiran kita akan digiring  pada tudingan bahwa umat Islam-lah yang telah dengan sengaja melakukannya. Tetapi benarkah demikian?

Setelah memberikan konflik berbau agama, cerita film ini lebih banyak memotret pada lingkup kehidupan yang lebih kecil tetapi cukup menyimpan persoalan pelik di dalamnya. Panggung cerita itu disajikan di salah satu sudut kota tua di Semarang bernama Pasar Baru.

Di sana ada masjid, gereja, dan klenteng. Lalu, untuk membuat cerita ini hidup, Hanung menghadirkan tiga keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi dan suku yang berbeda.

Ada keluarga Tan Kat Sun (diperankan oleh Hengky Sulaeman) yang memiliki restoran Canton Chinese Food. Ia adalah seorang kepala keluarga yang toleran terhadap perbedaan tetapi ternyata menyimpan persoalan dengan putranya, Hendra (Rio Dewanto) dalam menjelaskan betapa pentingnya bertoleransi dengan tetangga yang berbeda agama dan budaya.

Bentuk tolorensi Tan Kat Sun ini, salah satunya ditunjukkan dengan membedakan perkakas memasak untuk makanan tidak halal dan halal serta memberikan libur selama lima hari kepada karyawannya yang Muslim ketika masa Lebaran tiba.

Lalu ada lagi kehidupan sepasang suami-istri, Soleh (Reza Rahadian) dan Menuk (Revalina S Temat). Keduanya adalah warga lokal yang taat pada agamanya. Menuk, perempuan yang digambarkan berjilbab, bekerja sebagai pelayan restoran di keluarga Tan Kat Sun. Sedangkan Soleh, hanyalah seorang kepala keluarga yang labil. Sepanjang hidupnya, ia selalu berupaya untuk mendapatkan pengakuan eksistensi sebagai suami sekaligus kakak bagi adiknya.

Kemudian kehidupan lainnya disajikan pada tokoh bernama Rika (Endhita) dan Surya (Agus Kuncoro). Rika ini berstatus janda satu orang anak. Bagi lingkungan sekitar, Rika dicibir karena keputusannya bercerai serta berganti agama menjadi penganut agama Katolik.

Sementara Agus digambarkan sebagai seorang pemuda muslim yang semasa karirnya sebagai sineas hanya mendapatkan peran figuran. Hingga pada satu titik ia berhasil mendapatkan peran utama. Tetapi kata hatinya beradu apakah ia harus bersedia menerima peran sebagai Yesus pada perayaan malam Paskah dan Natal?

Secara cerita, skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena ini cukup kuat. Cerita tersebut juga menjadi apik ketika diperkuat lagi dengan setting lokasi yang ditata rapi sebagai lingkungan urban masa lampau serta pengambilan sudut gambar yang tak mengganggu pandangan.


Sedangkan sebagian besar konflik yang dibangun di dalam cerita ini, seperti diakui Hanung, sebagiannya diinspirasi dari kisah nyata yang pernah terjadi di negeri ini. Salah satunya adalah ketika Soleh mencoba mengamankan perayaan malam Natal.

Soleh yang kala itu sudah mendapat pekerjaan sebagai anggota Banser NU dengan keberaniannya menjadi tameng terhadap bom yang meledak. Hanung sempat mengatakan sosok Soleh ini terinspirasi dari kisah anggota Banser NU bernama Riyanto yang wafat ketika bertugas mengamankan malam Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, sepuluh tahun silam.

Tetapi sebagai sebuah karya populer, Hanung tetap tidak mau melupakan bumbu cinta di dalam filmnya. Namun bukan cinta sepasang ABG yang hendak disajikannya. Tetapi cinta di sini bisa juga menjadi universal bagaimana seorang anak mencintai ibunya atau juga hubungan cinta Rika-Surya.

Lalu ada pula api cemburu yang terletup hingga menghadirkan konflik seperti amarah Hendra kepada Soleh. Hendra dan Menuk sebelumnya sempat menjalin kasih. Namun cinta keduanya sempat tak berlanjut ke pelaminan karena perbedaan agama.

Sebelum Soleh dan Hendra menemukan kesadaran bahwa perbedaan itu adalah anugerah, keduanya sering kali beradu mulut dan fisik. Hendra menyebut Soleh sebagai teroris karena streotip bahwa Islam itu kerap berperilaku anarkis. Sedangkan Soleh secara rasial menghardik Hendra sebagai Cina -- sebuah ucapan bentuk kesal yang merujuk pada satu etnis tertentu.

Tetapi segala konflik dan roman cinta yang ada di film ini cukup apik pula dituntaskan menjadi sebuah karya yang happy ending. Dan tak lupa pula, sebagai jawaban atas kegelisahan Hanung sebagai Muslim yang kerap dituding teroris, ia mencoba memberikan jawab atas kegelisihan tersebut. Lewat dialog antara ustad (David Chalik) dan Hendra ketika bertanya tentang Islam, sang ustad menjelaskan bahwa Islam sejatinya adalah agama pembawa rahmat.

Senin, 28 Februari 2011

The King's Speech Terbaik di Pentas Oscar




Film drama "The King's Speech" mengukuhkan perannya sebagai yang terbaik dari pentas Academy Awards ke-83 di Kodak Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat, Ahad (27/2) waktu setempat atau Senin (28/2) WIB. Film yang bercerita tentang Raja George VI yang gagap semasa Perang Dunia ke-2 itu berhasil membawa pulang empat tropi Oscar, yakni pada kategori film terbaik, aktor terbaik (Colin Firth), sutradara terbaik (Tom Hooper) serta penulis skenario asli terbaik (David Seidler).

Sementara peran Natalie Portman di film Black Swan telah mengantarkannya menerima Oscar sebagai Aktris Terbaik. Selanjutnya dua peran pembantu -- masing-masing pembantu aktor terbaik dan aktris terbaik -- diberikan kepada Christian Bale dan Melissa Leo. Keduanya sama-sama berperan di film The Fighter.

Sedangkan untuk film berbahasa asing terbaik diberikan kepada film asal Denmark berjudul In a Better World. Pada kategori ini, salah satu film asal anak negeri berjudul Alangkah Lucunya (Negeri Ini) sempat pulang bersaing. Sayangnya, film garapan Deddy Mizwar tersebut tidak sampai masuk ke dalam nominasi Oscar.

Dalam persaingan di ajang Oscar tahun ini, The King's Speech berhasil menyisihkan sembilan nominator film terbaik lainnya. Kesembilan film tersebut adalah 127 Hours, Black Swan, The Fighter, Inception, The Kids Are All Right, Winter's Bone, True Grit, Toy Story serta The Social Network. Namun para pengamat film Hollywood justru lebih banyak menghadapkan The King's Speech dengan The Social Network. Sebelumnya, film yang bercerita tentang pendiri jejaring sosial Facebook itu sempat dinobatkan sebagai film terbaik oleh Hollywood Foreign Press Association lewat ajang bergengsi bernama Golden Globe.

Tetapi para pemilih Oscar yang tergabung di dalam Academy of Motion Picture Arts and Sciences lebih memilih The King's Speech. Dari ajang Oscar ini, The Social Network hanya mengantarkan Aaron Sorkin sebagai penulis skenario adaptasi terbaik serta dua kategori pada Original Score dan Film Editing. Sedangkan sutradara David Fincher yang sempat menggondol penghargaan Golden Globe harus pulang dengan tangan hampa.

Terhadap sukses yang telah diraih oleh filmnya, Hooper hanya sekedar menyampaikan ucapan basa-basi kepada para kru film maupun para sejawatnya yang telah menyertainya selama proses pembuatan. Tetapi secara khusus ia menyampaikan terima kasihnya kepada sang bunda.

''Untuk kali pertama saya justru ingin menyampaikan terima kasih kepada ibu yang telah menyarankan saya membuat The King's Speech ini,'' ujarnya saat berada di atas podium. ''Terus terang moral dari cerita film ini adalah dengarkanlah nasehat ibu mu,'' lanjutnya kembali.

Dalam sebuah kesempatan wawancara kepada The Wall Street Journal, Hooper pernah mengaku ibunya menjadi orang pertama yang mengirimkan naskah skenario. Skenario tersebut bercerita tentang kisah nyata dari ahli terapi bicara yang pernah membantu raja Inggris, King George VI, dalam usahanya untuk keluar dari masalah kegagapan dalam berbicara.


Kegembiraan serupa juga menyelimuti sosok Colin Firth yang membintangi peran Raja George VI. ''Ah saya sudah sempat memiliki perasaan karier saya telah mencapai puncak,'' candanya saat menerima tropi Oscar.

Bagi Firth, film The King's Speech ini telah membuatnya sebagai aktor yang paripurna. Pengakuan itu telah ditunjukkan lewat beberapa pentas penghargaan utama di industri film Hollywood. Aktor yang telah berusia separuh abad ini selalu berhasil menyabet penghargaan sebagai aktor terbaik. Sebutlah di antaranya Golden Globe serta Screen Actors Guild Award.

Selanjutnya lagi kegembiraan yang begitu terasa dapat terlihat dari ekspresi Natalie Portman. Perannya sebagai seorang penari balerina muda di film Black Swan itu telah membawanya meraih penghargaan bergengsi sebagai aktris terbaik. Ketika tropi Oscar berada di dalam genggamannya, emosinya meluap. Air matanya menetes.

Tak lama kemudian, dengan suara yang terdengar bergetar, ia berucap,''Ini sungguh gila. Terus terang saya memang sudah begitu mengharapkan penghargaan ini dengan bekerja baik.'' Lalu ketika berada di belakang panggung, Portman menyebut,''Saya seperti berada dalam sebuah mimpi saja.''

Pada persaingan di kategori aktris terbaik ini, Portman berhasil menyisihkan Nicole Kidman yang bermain di film Rabbit Hole, Annette Bening (The Kids Are All Right), Jennifer Lawrence (Winter's Bone), dan Michelle Williams (Blue Valentine). Sebelumnya Portman juga berhasil menyabet penghargaan dari ajang Golden Globe.

n reuters/bbc/mohammad akbar

Hasil lengkap pemenang Oscar

- Film Terbaik - "The King's Speech"

- Sutradara Terbaik - Tom Hooper ("The King's Speech")

- Aktor Terbaik - Colin Firth ("The King's Speech")

- Aktris Terbaik - Natalie Portman ("Black Swan")

- Aktor Pendukung Terbaik - Christian Bale ("The Fighter")

- Aktris Pendukung Terbaik - Melissa Leo ("The Fighter")

- Skenario Asli Terbaik - "The King's Speech" (David Seidler)

- Skenario Adaptasi Terbaik - "The Social Network" (Aaron Sorkin)

- Film Berbahasa Asing Terbaik - "In a Better World" (Denmark)

- Film Animasi - "Toy Story 3"

Minggu, 13 Februari 2011

Killing Me Inside Gelar Konser Keliling Indonesia




Killing Me Inside, grup band indie bergenre modern rock, menapak babakan baru dalam upaya memperkenalkan karyanya kepada para penikmat musik anak negeri. Sebanyak 13 kota besar di Indonesia telah dijadwalkan untuk memanggungkan Onad (vokal), Josaphat (gitar), dan Davi (drum).

Onad mengungkapkan kota-kota yang telah dijadwalkan akan mereka sambangi itu adalah Bali, Surabaya, Malang, Jogjakarta, Solo, Semarang, Cirebon, Bandung, Medan, Makassar, Manado, Balikpapan, dan Jakarta. ''Untuk rangkaian tur ini kami sudah memulainya dari Bandung, kami berharap tur bisa berjalan sesuai dengan harapan kami,'' katanya dalam sebuah perjumpaan di Jakarta.

Rangkaian konser yang kini tengah dijalani Killing Me Inside sebagai upaya untuk lebih menggaungkan album terbaru yang mengusung tajuk Self Tittled. Sebelumnya, album yang bernaung di bawah bendera PT Royal Prima Musikindo (RPM) ini telah dilepas secara massal pada penghujung tahun lalu.

''Punya album dan tur ke seluruh Indonesia adalah impian kami sejak dulu. Musik ini kami dedikasikan buat fans Killing Me Inside yang ada di seluruh negeri,'' kata Josaphat dalam mengekspresikan kesempatannya untuk manggung ke seluruh pelosok negeri. ''Ya, kami juga berharap semoga saja konser ini tidak hanya di kota besar, tetapi bisa pula mendatangi ke seluruh tempat yang ada di negeri ini.''

Dalam album terbaru ini, Killing Me Inside hadir dengan 12 lagu. Sebagai lagu hits pertamanya adalah Biarlah. Di lagu ini, Onad menunjukkan karakter vokal yang segar lewat lengkingan nada-nada tinggi. Sedangkan untuk memperkuat aroma rock diperkuat lewat permainan gitar dari Josaphat serta sentuhan drum Davi yang powerfull. 

Di jalur indie, nama grup band ini sebenarnya sudah tak lagi asing. Grup ini telah memulai perjalanan kariernya pada awal 2006. Selama perjalanannya, grup ini sempat melakukan bongkar pasang personel. Di antaranya hengkangnya gitaris Raka ke grup band Vierra dan Sansan yang kini bersama Pee Wee Gaskins.


Ketekunan mereka dalam membesarkan band ini membuahkan hasil dengan menyabet 2 gelar bergengsi sebagai pemenang kategori Best Indie dan Best New Artist dalam ajang Indigo Awards 2010 di Plenary Hall JCC Senayan. Indigo Awards ini merupakan ajang bagi insan musik berbakat.



Walau sempat melakukan bongkar pasang personel, namun pengalaman grup ini ternyata sudah cukup kenyang dalam menjajaki beragam pentas. ''Pengalaman kemarin menjadi hal yang sangat berharga buat kami semua,'' kata Onad.

Sementara itu Octav Panggabean, direktur RPM, menyimpan optimisme yang besar terhadap grup band ini. Skill bermusik serta pilihan jenis musik yang telah dimainkan Killing Me Inside ini, kata dia, menjadi salah satu alasan pihaknya bersedia berkerjasama.

''Saya punya harapan besar terhadap band ini. Mudah-mudahan anak-anak muda ini memiliki attitude yang tetap sama hingga nanti mereka benar-benar menjadi band besar, tetap rendah hati, ramah, dan tidak macam-macam,'' katanya. ****